8 September 2026

Wamen Dikti Fauzan Bekali Mahasiswa Baru UMM: Jangan Sekadar Berubah, Jadilah Generasi Bernilai

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sekaligus Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd.,. (Aris)

Bagikan :

REPORTASEMALANG.COM — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) sekaligus Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., memberikan pesan khusus kepada ribuan mahasiswa baru UMM agar menjadikan masa kuliah sebagai momentum transformasi diri.

Bukan sekadar berubah status dari pelajar menjadi mahasiswa, Prof. Fauzan menegaskan bahwa mahasiswa harus mengalami perubahan cara berpikir, perilaku, tanggung jawab, hingga karakter.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Fauzan saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru dalam pembukaan rangkaian Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM, Selasa (8/9/2026).

Di hadapan mahasiswa baru, Fauzan mengingatkan bahwa kesempatan mengenyam pendidikan tinggi tidak dimiliki semua anak muda di Indonesia. Karena itu, mahasiswa yang telah mendapat kesempatan kuliah diminta untuk bersyukur sekaligus memanfaatkannya sebaik mungkin.

“Saudara harus bangga dan saudara harus selalu bersyukur kepada Tuhan, kepada Allah SWT. Saudara telah diberi kesempatan. Maka kesempatan ini tidak ada pilihan lain, harus saudara pergunakan yang sebaik-baiknya,” ujar Prof. Fauzan.

Dari Pelajar Menjadi Mahasiswa

Ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memadati ruang Dome UMM Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (PESMABA) 2026. (ArisMF)

Prof. Fauzan menuturkan, perubahan dari siswa SMA menjadi mahasiswa membawa konsekuensi yang tidak ringan.

Menurutnya, mahasiswa tidak bisa lagi membawa seluruh kebiasaan ketika masih berada di bangku sekolah. Mereka harus mulai membangun karakter baru yang mencerminkan kedewasaan sebagai insan akademik.

“Kemarin saudara menjadi pelajar, dan sekarang saudara telah menentukan pilihan untuk mengembangkan diri di Universitas Muhammadiyah Malang,” katanya.

Ia lalu menegaskan, transformasi tersebut harus diikuti dengan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.

“Kita saat ini telah memasuki gerbang menjadi mahasiswa. Tentu saudara memiliki tanggung jawab untuk melepaskan tabiat-tabiat semasa SMA, tetapi saudara harus menyongsong tabiat baru, yaitu menjadi mahasiswa,” tegasnya.

Menurut Fauzan, perubahan itu mencakup tanggung jawab, perilaku, beban, hingga pola pikir mahasiswa dalam menghadapi kehidupan akademik dan masa depan.

UMM, Pilihan untuk Mengembangkan Diri

Prof. Fauzan juga memberikan motivasi kepada mahasiswa baru yang telah memilih UMM sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

Menurutnya, mahasiswa harus memiliki keyakinan bahwa keputusan untuk menempuh pendidikan di UMM merupakan langkah untuk mengembangkan potensi dan mempersiapkan masa depan.

“Saudara telah memilih Universitas Muhammadiyah Malang sebagai tempat untuk mengembangkan diri. Itu adalah pilihan yang 100 persen betul,” ujarnya.

Ia pun mengajak mahasiswa baru untuk menyiapkan mental menjadi generasi yang inovatif dan mandiri, sejalan dengan semangat yang selama ini dibangun UMM.

Mahasiswa, lanjutnya, harus mampu beradaptasi sejak awal memasuki dunia kampus, kemudian mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan pada masa mendatang.

Tinggalkan Kebiasaan Destruktif

Dalam pesannya, Fauzan juga mengingatkan mahasiswa agar meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang dapat menghambat perkembangan diri.

Mahasiswa, menurutnya, harus membangun etos kerja keras dan disiplin sebagai bekal untuk menghadapi masa depan, terutama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Kebiasaan-kebiasaan yang destruktif harus saudara hilangkan dan mempersiapkan diri untuk menjadi generasi yang konstruktif,” tegasnya.

Ia menilai masa kuliah merupakan periode strategis bagi mahasiswa untuk membentuk diri. Apa yang dilakukan selama empat tahun menempuh pendidikan tinggi akan menentukan kesiapan mereka ketika terjun ke tengah masyarakat.

Jangan Seperti Ular, Jadilah Kupu-Kupu

Pesan paling menarik dalam pembekalan tersebut disampaikan Fauzan melalui analogi transformasi dua makhluk hidup, yakni ular dan ulat yang berubah menjadi kupu-kupu.

Menurutnya, ular mengalami perubahan dengan melepaskan kulitnya. Namun perubahan tersebut hanya terjadi pada bagian luar.

“Transformasi yang dilakukan oleh ular hanya mampu mengubah bentuk, hanya mampu mengubah casing, tetapi tidak mampu mengubah karakter,” katanya.

Berbeda dengan ulat yang harus melewati proses panjang menjadi kepompong sebelum akhirnya berubah menjadi kupu-kupu.

Fauzan menggambarkan proses tersebut sebagai transformasi yang sesungguhnya. Tidak hanya mengubah penampilan, tetapi menghasilkan perubahan yang memberikan nilai.

“Ketika ulat itu menjadi kupu-kupu, apa yang terjadi? Banyak orang tanpa diundang ingin mendekatinya. Kenapa? Karena kupu-kupu telah memberikan value,” ujarnya.

Ia kemudian menyampaikan pesan yang disambut antusias para mahasiswa baru.

“Saat ini barangkali saudara masih menjadi kepompong, tetapi empat tahun yang akan datang saudara akan menjadi kupu-kupu,” kata Fauzan.

Karena itu, ia meminta mahasiswa baru UMM untuk tidak sekadar menjalani masa kuliah demi memperoleh gelar. Proses pendidikan harus benar-benar menjadi ruang transformasi untuk membangun karakter, kemampuan, dan nilai diri.

“Jangan hanya mengubah bentuk, tetapi juga mengubah karakter,” pungkasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi ribuan mahasiswa baru UMM bahwa perjalanan empat tahun ke depan bukan hanya tentang berpindah dari ruang kelas menuju dunia kerja.

Lebih dari itu, mereka ditantang untuk bertransformasi menjadi generasi yang inovatif, mandiri, konstruktif, dan mampu memberikan nilai bagi masyarakat.