5 September 2026

Alumni Universitas Ma Chung Didorong Jadi Entrepreneur dan Pengembang Family Business

Alumni Universitas Ma Chung Didorong Jadi Entrepreneur dan Pengembang Bisnis Keluarga
Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Sc.

Bagikan :

Reportasemalang — Universitas Ma Chung mendorong para alumninya tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan setelah lulus, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja ( entrepreneur) melalui usaha mandiri maupun pengembangan bisnis keluarga.

Semangat tersebut menjadi bagian dari visi yang telah dibangun sejak awal pendirian Universitas Ma Chung. Hal itu disampaikan Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Sc., dalam Wisuda ke-XVI Universitas Ma Chung Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Stefanus, gagasan pendirian Universitas Ma Chung tidak dapat dilepaskan dari kondisi Indonesia saat menghadapi krisis ekonomi pada 1998–1999. Pada masa itu, banyak masyarakat kehilangan pekerjaan.

Kondisi tersebut kemudian mendorong para pendiri Ma Chung pada 2001 untuk membangun perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan pekerjaan.

“Iya, itu memang visi pendirian Ma Chung dulu begitu. Dari tahun 2007 oleh para pendiri, karena mereka melihat Indonesia itu saat krisis tahun 98-99, banyak orang kehilangan pekerjaan, maka mereka tahun 2001 punya tekad untuk membangun Ma Chung, salah satunya adalah menciptakan pekerjaan, jangan membebani,” ujar Prof Yufra.

Ia menegaskan, keberhasilan seorang lulusan tidak semata-mata diukur dari ijazah yang diperoleh, melainkan dari karya dan kontribusi yang dihasilkan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Bukan ijazah yang menjadi tujuan. Karena itu kami pesan tadi jelas, bukan ijazah, tetapi karyanya,” katanya.

Stefanus menyebut semangat kewirausahaan tersebut telah tumbuh di kalangan alumni Universitas Ma Chung. Bahkan, sejumlah lulusan telah mengembangkan usaha di berbagai sektor, termasuk industri makanan dan minuman di Kota Malang.

“Kalau teman-teman melihat food and beverage di Malang, sebagian besar ada alumni Ma Chung,” ujarnya.

Dorongan untuk menjadi pencipta lapangan kerja juga terlihat dari pengalaman Universitas Ma Chung ketika menggelar job fair pada 2011 dan 2012.

Menurut Stefanus, kegiatan tersebut justru menghadapi persoalan karena jumlah mahasiswa Ma Chung yang mengikuti job fair relatif sedikit, meski sejumlah perusahaan telah hadir untuk menawarkan kesempatan kerja.

Saat itu, terdapat sekitar 17 perusahaan yang berpartisipasi. Namun, perusahaan mempertanyakan minimnya mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut.

“Perusahaan datang ada 17 di sini. Yang ikut job fair mahasiswa Ma Chung sedikit. Padahal yang disasar mahasiswa Ma Chung,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut dia, terjadi karena sebagian mahasiswa telah memiliki pekerjaan sebelum lulus. Sementara sebagian lainnya telah mempersiapkan diri untuk melanjutkan dan mengembangkan usaha keluarga.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi Universitas Ma Chung untuk memperkuat pendidikan kewirausahaan, khususnya pengembangan bisnis keluarga.

Buka Konsentrasi Family Business

Universitas Ma Chung melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis membuka konsentrasi family business atau bisnis keluarga. Melalui konsentrasi tersebut, mahasiswa mulai mempelajari pengelolaan dan pengembangan usaha keluarga sejak semester lima.

Pembelajaran tersebut juga terintegrasi dalam tugas akhir mahasiswa melalui pendekatan yang disebut business creation.

“Bagaimana bisnis yang sudah ada di-create lebih bagus lagi,” ujar Stefanus.

Menurut dia, sejak awal Universitas Ma Chung telah memberikan sejumlah pilihan bentuk tugas akhir kepada mahasiswa. Selain skripsi, mahasiswa dapat menyusun business plan, proyek, maupun business creation.

Pendekatan tersebut memungkinkan mahasiswa tidak hanya melakukan kajian akademik, tetapi juga mengembangkan gagasan yang dapat diterapkan secara langsung dalam dunia usaha.

Salah satu contoh penerapan business creation dilakukan oleh seorang alumni yang mengembangkan usaha karoseri dan layanan towing atau jasa pengangkutan kendaraan yang mengalami kerusakan maupun gangguan di perjalanan.

Melalui tugas akhirnya, mahasiswa tersebut menyusun perencanaan bisnis secara menyeluruh, mulai dari menghitung kelayakan ekonomi, kebutuhan tenaga kerja, struktur organisasi, pelatihan, hingga biaya operasional dan masa pengembalian investasi atau payback period.

“Itu bagian tugas akhir,” kata Stefanus.

Melalui pola pendidikan tersebut, Universitas Ma Chung berharap para lulusan tidak hanya memiliki bekal akademik, tetapi juga kemampuan menciptakan dan mengembangkan usaha yang berkelanjutan.

Dorongan terhadap kewirausahaan dan pengembangan bisnis keluarga tersebut menjadi bagian dari upaya Universitas Ma Chung dalam mencetak lulusan yang mampu menghasilkan karya serta membuka peluang kerja bagi masyarakat.