REPORTASEMALANG.COM – Inspiratif, Atem Juach Kelei Juach, Wisudawan Internasional Asal Sudan Dinobatkan Sebagai yang Wisudawan Internasional Terbaik di POLINEMA.
Peobatan tersebut dilaksanakan saat acara prosesi Wisuda ke-73 Politeknik Negeri Malang yang berlangsung di Graha Polinema, Sabtu (29/08/2026).
Acara wisuda Politeknik Negeri Malang (POLINEMA) periode kali ini terasa sangat istimewa dan penuh haru. Di tengah ratusan wisudawan, sosok Atem Juach Kelei Juach mencuri perhatian.
Wisudawan internasional asal Sudan ini tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya, tetapi juga dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik, sebuah pencapaian yang membanggakan sekaligus menginspirasi banyak pihak.
Suasana khidmat menyelimuti gedung pertemuan Politeknik Negeri Malang. Ribuan pasang mata tertuju pada layar besar yang menampilkan sosok Atem Juach Kelei Juach, seorang mahasiswa internasional dari Sudan.
Ia berdiri tegak di atas podium, mengenakan toga dengan selempang bertuliskan “WISUDAWAN TERBAIK MAHASISWA INTERNASIONAL”.
Dalam pidato wisudanya, Atem menyampaikan pesan mendalam tentang esensi pendidikan yang ia terima di POLINEMA.
“Apa yang kami peroleh di sini bukan hanya pendidikan perguruan tinggi bagi banyak mahasiswa internasional. Ini tentang gagasan untuk membuktikan bahwa asal usul bukanlah batasan kemungkinan”, ujarnya dengan disambut tepuk tangan riuh.
Atem adalah bukti nyata bahwa latar belakang negara asal bukanlah penghalang untuk meraih prestasi tertinggi di tanah rantau.
Lebih lanjut, Atem menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada pihak institusi dan para pengajar yang telah memberikan kesempatan dan bimbingan luar biasa.
“Terima kasih kepada jajaran pimpinan POLINEMA atas visi bahwa pendidikan tidak mengenal batas. Terima kasih kepada semua Dosen yang telah bersabar, membimbing kami, dan tidak pernah menyerah. Anda mengajarkan kami untuk berpikir kreatif, memecahkan masalah secara kreatif, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat”, ungkapnya.
Dalam momen emosional tersebut, Atem juga memberikan pesan untuk membakar semangat kepada rekan-rekan seperjuangannya.
Menurutnya, wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan dampak positif bagi dunia.
”Kepada rekan-rekan sesama wisudawan, hari ini adalah saat satu babak berakhir, namun ini bukanlah akhir dari perjalanan kita. Gelar yang dianugerahkan kepada kita hari ini bukan sekadar sertifikat pendidikan, melainkan sebuah tanggung jawab untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik”, lanjut Atem.
Di akhir penyampaian pidatonya, Atem menekankan bahwa dalam ero globalisasi ini begitu pentingnya membangun koneksi dan kolaborasi antarbudaya di masa depan.
“Dunia yang kita masuki saat ini membutuhkan individu-individu yang mampu membangun jembatan dan bukan sekadar jembatan dari baja dan beton, melainkan jembatan budaya, bangsa, dan gagasan”, pungkasnya.
Pidato ditutup dengan penuh semangat saat Atem mengajak seluruh hadirin untuk menyerukan yel-yel kebanggaan Politeknik Negeri Malang.
Kisah Atem Juach Kelei Juach akan terus dikenang sebagai salah satu pencapaian gemilang yang membuktikan bahwa pendidikan benar-benar merupakan jembatan yang menghubungkan mimpi-mimpi dari berbagai penjuru dunia.
Kisah inspiratif dari Atem Juach Kelei Juach ini tentu menjadi kebanggaan tidak hanya bagi dirinya dan keluarganya di Sudan, tetapi juga bagi Politeknik Negeri Malang yang telah berhasil mencetak lulusan-lulusan berkualitas global.
Kita semua berharap prestasi yang diraih oleh Atem dapat memotivasi mahasiswa-mahasiswa lainnya untuk terus berjuang meraih impian.


