Reportasemalang.com – Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK) Universitas Brawijaya (UB) menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan Eco Enzyme sebagai bagian dari pembekalan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), Jumat (3/7/2026), di Gedung 11 Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB. Mengusung tema “Dari Limbah Organik Kita Bangun Gerakan Hidup Berkelanjutan”, kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah limbah organik rumah tangga menjadi produk ramah lingkungan yang memiliki nilai guna bagi pertanian, kebersihan, serta kehidupan sehari-hari.
Pelatihan diikuti oleh mahasiswa peserta KKN UB dan masyarakat umum sebagai bentuk penguatan edukasi lingkungan sekaligus bekal pengabdian kepada masyarakat. Selain memperoleh materi mengenai konsep dan manfaat eco enzyme, peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan eco enzyme agar mampu mengimplementasikan pengetahuan tersebut di lokasi KKN maupun di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Dosen Program Studi Sarjana Agribisnis Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB, Dr. Riyanti Isaskar, S.P., M.Si., mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah organik. Menurutnya, limbah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bermanfaat apabila diolah dengan metode yang tepat.
“Mahasiswa KKN diharapkan mampu menjadi agen perubahan di masyarakat. Tidak hanya melaksanakan program kerja, tetapi juga memberikan edukasi mengenai cara mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat sehingga mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa eco enzyme merupakan salah satu inovasi sederhana yang mudah diterapkan karena memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar rumah, seperti sisa buah dan sayuran. Hasil fermentasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai cairan serbaguna untuk mendukung kegiatan pertanian, membantu proses pembuatan kompos, hingga digunakan sebagai pembersih alami yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia sintetis.

Materi teknis mengenai proses pembuatan eco enzyme disampaikan oleh Dr. Arie Srihardyastutie, S.Si., M.Kes., dosen Departemen Kimia Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) UB. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik yang diproses secara anaerob, yaitu tanpa kehadiran oksigen, selama minimal tiga bulan. Selama proses tersebut berlangsung, mikroorganisme akan menguraikan bahan organik menjadi berbagai senyawa yang bermanfaat sehingga menghasilkan cairan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan.
Menurut Dr. Arie, keberhasilan pembuatan eco enzyme sangat bergantung pada ketepatan komposisi bahan, kualitas limbah organik yang digunakan, serta kedisiplinan dalam mengikuti prosedur fermentasi. Oleh karena itu, peserta diperkenalkan dengan formula standar pembuatan eco enzyme menggunakan rasio 10 : 3 : 1, yaitu sepuluh bagian air, tiga bagian sisa buah atau sayuran, dan satu bagian gula merah, gula aren, maupun molase sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme selama proses fermentasi.
Ia mencontohkan, pada wadah berkapasitas 10 liter, komposisi yang digunakan terdiri atas 6 liter air, 1,8 kilogram limbah buah atau sayuran segar, dan 600 gram gula merah atau molase. Selain memperhatikan komposisi bahan, wadah fermentasi juga tidak boleh diisi penuh. Sebanyak 40 persen ruang kosong harus disisakan sebagai tempat terbentuknya gas selama proses fermentasi berlangsung sehingga tekanan di dalam wadah tetap stabil dan proses fermentasi berjalan dengan baik.
Dr. Arie juga mengingatkan pentingnya pemilihan bahan baku. Limbah organik yang digunakan harus berupa sisa buah atau sayuran yang masih segar, tidak busuk, tidak berjamur, tidak dimasak, serta tidak mengandung minyak. Ia menyarankan penggunaan kulit buah sitrus seperti jeruk, lemon, maupun nanas karena mampu menghasilkan aroma fermentasi yang lebih segar dan meningkatkan kualitas eco enzyme yang dihasilkan.
Selain menjelaskan proses pembuatannya, Dr. Arie memaparkan indikator keberhasilan fermentasi eco enzyme. Menurutnya, eco enzyme yang matang memiliki pH di bawah 4,0, berwarna cokelat terang hingga cokelat gelap sesuai jenis bahan baku yang digunakan, mengeluarkan aroma asam segar khas fermentasi, serta terdapat lapisan jamur putih di permukaan cairan. Sebaliknya, apabila cairan menghasilkan bau busuk atau menyengat, hal tersebut menunjukkan adanya kontaminasi atau kesalahan selama proses fermentasi.
“Eco enzyme bukan sekadar hasil fermentasi limbah organik, tetapi merupakan salah satu bentuk penerapan ilmu kimia yang dapat memberikan solusi terhadap persoalan sampah rumah tangga. Jika dibuat sesuai prosedur, eco enzyme dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan melalui pengurangan limbah organik,” jelas Dr. Arie.
Pelatihan Eco Enzyme tidak hanya menjadi bagian dari pembekalan teknis mahasiswa sebelum melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), tetapi juga merupakan implementasi nyata komitmen Universitas Brawijaya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Melalui penguasaan teknologi sederhana yang memanfaatkan limbah organik rumah tangga menjadi produk ramah lingkungan, mahasiswa didorong untuk menghadirkan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan di tengah masyarakat. Pendekatan tersebut memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Implementasi eco enzyme selama pelaksanaan KKN diharapkan dapat memberikan dampak nyata berupa berkurangnya timbulan sampah organik, meningkatnya pemanfaatan limbah menjadi produk yang bernilai, serta tumbuhnya budaya hidup berkelanjutan di tingkat rumah tangga dan komunitas. Program ini sejalan dengan pencapaian #UniversitasBrawijaya_SDG4 (Quality Education), #UniversitasBrawijaya_SDG11 (Sustainable Cities and Communities), #UniversitasBrawijaya_SDG12 (Responsible Consumption and Production), #UniversitasBrawijaya_SDG13 (Climate Action), serta #UniversitasBrawijaya_SDG17 (Partnerships for the Goals). Melalui sinergi antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat, Universitas Brawijaya terus memperkuat kontribusinya dalam mewujudkan kampus yang berdampak serta mendukung agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal maupun global.