Reportasemalang – Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS) bekerja sama dengan LPK Cipta Kriya Wiyasa menggelar Workshop Digital bertajuk “Pelatihan Google NotebookLM dan Sertifikasi Gemini” di Malang Creative Center (MCC). Kolaborasi strategis ini dirancang untuk menghadirkan pelatihan berbasis teknologi mutakhir yang relevan dengan kebutuhan dunia industri dan perkembangan ekosistem digital saat ini.
Hadir sebagai pemateri utama dalam acara tersebut, Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom., yang merupakan Head of Department ISTTS sekaligus Google Developer Expert in Machine Learning & Google Cloud, serta NVIDIA Deep Learning Instructor.
Dalam paparannya, Prof. Esther menekankan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini telah bertransformasi menjadi asisten belajar yang wajib dikuasai oleh para pelajar dan mahasiswa. Melalui pemanfaatan AI yang tepat, batasan akses informasi tradisional dapat dipotong secara signifikan.
“Dulu mahasiswa terbatas pada buku fisik yang mereka miliki atau perpustakaan sekolah. Kemudian beralih ke mesin pencari internet, namun memilah informasi faktual dari berita bohong (fake news) di sana masih sulit. Sekarang dengan bantuan AI, kita bisa meminta referensi tambahan yang valid karena AI dapat diinstruksikan untuk melakukan cross-check terhadap sumber belajar yang bereputasi,” ujar Prof. Esther.

Lebih lanjut, Prof. Esther menjelaskan fenomena hyper-personalization dalam dunia pendidikan yang didorong oleh teknologi AI. Berbeda dengan metode konvensional, AI mampu bertindak sebagai asisten pribadi yang siap mendampingi siswa tanpa batasan waktu dan biaya layaknya guru les privat tradisional.
“Siswa bisa mengunggah foto hasil ujian mereka, lalu meminta AI menjelaskan secara mendetail pada bagian materi yang salah. AI tidak akan bosan menjawab pertanyaan yang diajukan berulang kali, kapan pun dan dari mana pun melalui ponsel pintar,” tambahnya.
Meski demikian, Prof. Esther memberikan catatan penting mengenai efektivitas penggunaan AI. Pengguna harus memberikan perintah (prompt) yang lugas dan langsung pada inti persoalan (to the point). Ia juga menyarankan penggunaan platform seperti Google AI Studio yang memungkinkan pengaturan temperature ke angka 0 demi menghindari fenomena halusinasi data (informasi fiktif yang dihasilkan AI).
“Penting untuk memilih AI dari perusahaan yang bereputasi guna menghindari disinformasi. Google Gemini, misalnya, menyediakan program gratis selama satu tahun untuk mahasiswa (Student Pro) untuk mendukung pembelajaran,” jelasnya.
Kelebihan utama Gemini terletak pada integrasinya dengan infrastruktur data raksasa milik Google, seperti Google Search, Google News, Google Scholar, hingga Google Maps. Hal ini membuat interaksi chatbot menjadi lebih alami dengan basis pengetahuan yang selalu diperbarui (up-to-date), mulai dari berita terkini, artikel ilmiah, hingga ulasan fasilitas umum. Terkait keamanan data, Gemini juga dilengkapi fitur keamanan ketat dan mode incognito untuk melindungi privasi penggunanya.

Sementara itu, Pendiri Malang Autism Center (MAC) sekaligus LPK Cipta Kriya Wisata, Mohammad Cahyadi, mengungkapkan antusiasme peserta sangat tinggi selama mengikuti pelatihan.
Mayoritas peserta yang berasal dari kalangan pekerja maupun masyarakat umum mengaku merasakan langsung manfaat penggunaan AI dalam meningkatkan produktivitas kerja.
“Banyak peserta yang menyampaikan bahwa AI sangat membantu pekerjaan mereka, terutama dalam menyusun presentasi maupun menyelesaikan tugas-tugas administrasi dengan lebih cepat,” ujarnya.
Menurut Cahyadi, pelatihan ini juga membuka kesempatan bagi peserta untuk mengikuti Sertifikasi Google Gemini Educator. Sertifikat tersebut dapat menjadi bukti kompetensi dalam mengajarkan pemanfaatan AI kepada masyarakat maupun peserta didik.
“Sertifikasi ini berlaku selama tiga tahun. Setelah itu peserta dapat memperbaruinya agar kompetensinya tetap relevan dengan perkembangan teknologi,” pungkasnya.