Reportasemalang.com –Malang Fashion Runway (MFR) Series #7 “FANTASTISCA” tidak hanya menjadi panggung bagi para desainer memamerkan karya terbaiknya, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap perputaran ekonomi kreatif di Kota Malang. Menjelang pelaksanaan ajang yang digelar pada 11–12 Juli 2026 di Grand Hall Malang Town Square (MATOS), para penjahit lokal bahkan dilaporkan kebanjiran pesanan.
Mall Director MATOS, Fifi Trisjanti, mengatakan tingginya antusiasme desainer mengikuti Malang Fashion Runway membawa efek berantai terhadap berbagai sektor usaha, khususnya jasa konveksi dan penjahit.
“Hebatnya lagi, dengan adanya MFR ini penjahit di Kota Malang penuh semua. Dampaknya luar biasa karena terjadi peningkatan aktivitas ekonomi. Penjahit yang biasanya sepi sekarang mendadak ramai,” ujar Fifi.

Menurutnya, besarnya minat mengikuti MFR membuat para desainer mulai mempersiapkan koleksi jauh-jauh hari. Bahkan beberapa bulan sebelum acara digelar, banyak desainer telah menanyakan jadwal pelaksanaan agar memiliki waktu cukup untuk memproduksi busana yang akan ditampilkan di atas runway.
Tingginya permintaan pembuatan busana tersebut secara langsung meningkatkan pendapatan para penjahit, perajin, hingga pelaku UMKM yang bergerak di sektor fashion.
Fifi mengungkapkan, panitia semula hanya menargetkan 50 desainer. Namun antusiasme peserta membuat jumlahnya meningkat menjadi 58 desainer. Bahkan, jika pendaftaran tidak dibatasi, peserta diperkirakan bisa mencapai sekitar 70 desainer.
Melihat perkembangan tersebut, pihak penyelenggara berencana memperluas pelaksanaan Malang Fashion Runway pada tahun depan menjadi tiga hari agar mampu mengakomodasi lebih banyak peserta.

Sementara itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menilai industri fashion memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi kreatif daerah. Kota Malang, menurutnya, memiliki potensi besar melalui keberadaan desainer muda, pelaku UMKM, serta komunitas kreatif yang terus berinovasi.
Ia berharap Malang Fashion Runway mampu menciptakan multiplier effect yang semakin luas, mulai dari peningkatan produksi busana, penyerapan tenaga kerja, hingga terbukanya peluang pasar bagi produk-produk lokal.
“Saya berharap melalui Malang Fashion Runway, produk-produk lokal semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan begitu, roda perekonomian daerah terus bergerak dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” kata Wahyu.
Menurutnya, keberhasilan Kota Malang menyandang predikat Kota Kreatif Dunia UNESCO pada kategori Media Arts semakin memperkuat posisi daerah sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif, termasuk industri fashion.
Melalui ajang seperti Malang Fashion Runway, kreativitas para desainer tidak hanya melahirkan karya baru, tetapi juga menggerakkan rantai ekonomi yang melibatkan penjahit, pelaku UMKM, pemasok bahan, hingga sektor pendukung lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri fashion telah menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kreatif di Kota Malang.