11 September 2026

Siap Jadi Percontohan, UB Dorong Penguatan Program Prioritas Smart Green Campus dan Zero Waste Berbasis Ekonomi Sirkular

Siap Jadi Percontohan, UB Dorong Penguatan Program Prioritas Smart Green Campus dan Zero Waste Berbasis Ekonomi Sirkular
Ketua UPT Green Campus UB, Prof. Sri Suhartini, STP., M.Env.Mgt., Ph.D. saat menyampaikan pemaparan

Bagikan :

Reportasemalang, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) memperkuat komitmennya menjadi kampus percontohan dalam penerapan prinsip keberlanjutan melalui dua program prioritas, yakni Smart Green Campus dan Zero Waste Management berbasis ekonomi sirkular.

Kedua program tersebut dijalankan oleh UPT UB Green Campus yang dibentuk pada Oktober 2025. Unit tersebut menjadi penggerak berbagai upaya pelestarian lingkungan di lingkungan kampus sekaligus mendorong keterlibatan sivitas akademika dan masyarakat sekitar.

Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., mengatakan UB ingin memberikan contoh praktik baik dalam upaya mengurangi emisi dan membangun lingkungan kampus yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, salah satu bentuk implementasi program tersebut adalah pelaksanaan car free day (CFD) secara rutin setiap pekan. Kegiatan itu tidak hanya membatasi penggunaan kendaraan bermotor di kawasan kampus, tetapi juga menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk melakukan berbagai aktivitas positif.

“Kita ingin pertama institusi ini memberikan contoh baik, praktik baik, terkait bagaimana adanya pengurangan emisi dan sebagainya,” ujar Tri Wahyu.

Ketua UPT Green Campus UB, Prof. Sri Suhartini, STP., M.Env.Mgt., Ph.D., menjelaskan pembentukan UPT UB Green Campus merupakan bagian dari komitmen pimpinan universitas untuk menjadikan UB sebagai salah satu contoh kampus yang menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan Sustainable Development Goals (SDGs).

“UPT UB Green Campus ini dibentuk di awal Oktober 2025 yang memang memiliki tugas sebagai motor penggerak untuk meningkatkan peran serta Universitas Brawijaya dalam meningkatkan kelestarian lingkungan,” jelasnya.

Program Smart Green Campus menjadi salah satu langkah UB untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya sekaligus membangun budaya ramah lingkungan di kalangan sivitas akademika.

Program tersebut mencakup efisiensi penggunaan energi listrik dan air, pengurangan emisi, pengembangan biodiversitas, edukasi, serta kampanye lingkungan.

Pada tahun pertama pelaksanaannya, seluruh unit di lingkungan UB turut berpartisipasi, termasuk 20 fakultas, Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Jakarta, PSDKU Kediri, serta Pascasarjana.

Sejumlah inovasi diterapkan oleh masing-masing unit. Di antaranya sistem pemanenan air hujan (rain water harvesting) untuk kebutuhan penyiraman, penyediaan free water filling station guna mendorong kebiasaan membawa tumbler, hingga pemasangan panel surya.

Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), misalnya, panel surya dilengkapi sistem pemantauan untuk mengetahui jumlah energi terbarukan yang dihasilkan. Pemanfaatan energi tersebut sekaligus berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon.

UB juga mulai memperkuat budaya pemilahan sampah. Saat ini, pengelolaan sampah diarahkan melalui lima kategori pemilahan agar proses pengolahan dan pemanfaatannya dapat dilakukan secara lebih optimal.

Untuk menjangkau mahasiswa yang merupakan kelompok terbesar dalam populasi sivitas akademika UB, UPT Green Campus juga membentuk Duta Kampus Lestari. Para mahasiswa tersebut menjadi kepanjangan tangan dalam menyampaikan edukasi dan kampanye lingkungan kepada sesama mahasiswa.

“Untuk bisa menggandeng mahasiswa tersebut, kami juga punya Duta Kampus Lestari. Dari mahasiswa juga yang membantu kami dan bertugas sebagai kepanjangan tangan kami untuk membuat materi-materi diseminasi sehingga engagement pada generasi Gen Z itu lebih mengena,” kata Sri.

Pelaksanaan CFD di kawasan UB juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya hidup sehat sekaligus mengurangi emisi kendaraan.

Kawasan sekitar rektorat yang biasanya dipenuhi lalu lintas kendaraan dapat dimanfaatkan sivitas akademika untuk berjalan kaki, berlari, senam, hingga bersepeda.

Kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sejumlah komunitas untuk menghadirkan layanan kepada masyarakat, seperti pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan gigi gratis.

Sri menilai CFD menjadi momentum penting untuk memperkenalkan budaya ramah lingkungan kepada sivitas akademika.

Menurutnya, kawasan UB selama ini memiliki aktivitas kendaraan yang cukup padat sehingga CFD memberikan pengalaman berbeda bagi warga kampus untuk menikmati lingkungan yang lebih tenang dan bebas kendaraan.

Program kedua yang menjadi prioritas adalah Zero Waste Management berbasis ekonomi sirkular. Program ini diarahkan agar limbah yang dihasilkan dari aktivitas kampus tidak berhenti sebagai sampah, tetapi dapat diolah dan dikonversi menjadi produk yang memiliki nilai guna.

UB telah menyusun sejumlah blueprint pengelolaan limbah, meliputi pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), limbah organik dan anorganik, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), daur ulang, serta pengelolaan limbah elektronik atau e-waste.

“Dari blueprint yang dibuat itu setidaknya ada 11 produk yang bisa dihasilkan yang kemudian tujuannya adalah dimanfaatkan kembali oleh Universitas Brawijaya atau masyarakat sekitar,” terang Sri.

UB juga tengah mempersiapkan fasilitas pengolahan limbah organik dan anorganik. Fasilitas tersebut dirancang agar limbah yang dihasilkan dari aktivitas kampus dapat dikonversi menjadi produk lain yang bermanfaat.

Pengembangan program dilakukan dengan melibatkan mitra dari kalangan industri, pemerintah, komunitas, hingga masyarakat sekitar. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya UB mencapai target SDGs, khususnya tujuan ke-17 mengenai kemitraan.

Selain berorientasi pada pengelolaan lingkungan, fasilitas pengolahan limbah tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai living laboratory.

Konsep tersebut memungkinkan mahasiswa dan dosen memanfaatkan fasilitas sebagai sarana penelitian, magang, maupun praktik lapangan. Hasil penelitian diharapkan dapat menghasilkan data dan inovasi yang mendukung pengembangan pengelolaan lingkungan di UB.

Salah satu penelitian yang telah dilakukan mahasiswa berkaitan dengan pengukuran serapan karbon di ruang terbuka hijau dan kawasan RPH UB.

Data tersebut dinilai penting sebagai baseline untuk mengetahui kemampuan kawasan hijau UB dalam menyerap karbon sekaligus menjadi dasar evaluasi program lingkungan pada masa mendatang.

Melalui Smart Green Campus dan Zero Waste Management berbasis ekonomi sirkular, UB tidak hanya menargetkan pengurangan dampak lingkungan dari aktivitas kampus. Program tersebut juga diarahkan untuk membangun budaya keberlanjutan yang melibatkan seluruh sivitas akademika dan masyarakat sekitar.