Reportasemalang.com, MALANG — Ketergantungan lembaga sosial terhadap donasi spontan menjadi perhatian Tim Pengabdian Masyarakat Politeknik Negeri Malang (Polinema). Melalui program pendampingan, tim tersebut mendorong Yayasan Darul Jundi Bina Yatim dan Dhuafa Malang membangun sistem pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) yang lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan.
Program tersebut diwujudkan melalui rangkaian sosialisasi, pelatihan manajemen, hingga pendampingan penyusunan sistem pengelolaan ZISWAF. Kegiatan berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus 2026 dan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) untuk memetakan kebutuhan yayasan.
Agenda pertama berlangsung pada 14 Juli 2026 di Yayasan Darul Jundi cabang 2, Madyopuro, Kedungkandang, Kota Malang. Tim pengabdian bersama pengurus dan santri pengurus yayasan membahas kondisi aktual pengelolaan dana sosial sekaligus menyusun kebutuhan pelatihan.
Dari FGD tersebut terungkap sejumlah persoalan yang masih dihadapi yayasan. Di antaranya, penghimpunan dana masih bergantung pada donasi spontan, belum terdapat badan zakat internal dengan pembagian tugas yang jelas, pencatatan keuangan masih sederhana, serta potensi zakat dari komunitas sekitar belum dimanfaatkan secara optimal.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar tim pengabdian Polinema dalam menyusun materi dan skema pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mitra.
Belajar Menggerakkan Donatur
Tahap berikutnya dilaksanakan pada 22 Agustus 2026 melalui pelatihan bertajuk “Membuat Dermawan ‘TERGERAK’ Berbuat Baik: Manajemen Kompilasi, Distribusi, dan Akuntabilitas ZISWAF.”
Pelatihan menghadirkan Dr. Ari Kamayanti, S.E., M.M., MSA., Ak., CA., dosen Polinema yang juga praktisi yayasan, penulis buku ekonomi Islam, serta memiliki sertifikasi kompetensi dalam Pengelolaan dan Pengembangan Harta Benda Wakaf dari Badan Wakaf Indonesia.
Peserta mendapatkan materi mengenai strategi penghimpunan ZISWAF, pendekatan komunikasi dengan donatur, serta pentingnya membangun cerita yang mampu menggugah kepedulian masyarakat.
Salah satu strategi yang diperkenalkan adalah storytelling dengan alur hook, edukasi, dan ajakan untuk bergerak. Peserta juga diajak mempelajari praktik pengelolaan lembaga filantropi seperti Dompet Dhuafa serta memahami potensi wakaf produktif sebagai instrumen untuk memperkuat kemandirian finansial yayasan.
Selain itu, peserta diarahkan untuk mengidentifikasi calon donatur potensial, membangun narasi penghimpunan dana yang kuat, serta mulai merancang unit usaha sosial dan wakaf produktif yang dapat menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
Bangun Sistem Pengelolaan yang Transparan
Program tidak berhenti pada pelatihan. Tim pengabdian Polinema melanjutkannya dengan pendampingan pascapelatihan untuk membangun sistem pengelolaan ZISWAF yang dapat diterapkan secara mandiri oleh yayasan.
Pendampingan mencakup penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) untuk penghimpunan, distribusi, pencatatan, dan pelaporan dana ZISWAF.
Tim bersama pengurus yayasan juga merumuskan struktur badan zakat internal dengan pembagian tugas yang lebih jelas. Untuk mendukung transparansi, disiapkan sistem pencatatan keuangan sederhana berbasis spreadsheet.
Dari proses tersebut, lahir sejumlah rencana tindak lanjut. Di antaranya pembentukan badan zakat internal, publikasi laporan keuangan secara berkala, serta perintisan wakaf produktif dan unit usaha sosial sebagai sumber pendapatan tetap yayasan.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengubah pola pengelolaan yayasan dari yang sebelumnya bergantung pada donasi menjadi lebih mandiri, terencana, dan berkelanjutan.
Pengurus Yayasan Darul Jundi Bina Yatim dan Dhuafa Malang beserta santri pengurus menyambut antusias program pendampingan tersebut. Penguatan kapasitas manajemen diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan penghimpunan dana, tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat melalui pengelolaan keuangan yang akuntabel.
Ke depan, Tim Pengabdian Masyarakat Polinema akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala. Evaluasi mencakup penerapan SOP, efektivitas strategi penghimpunan dana, hingga perkembangan kemandirian finansial yayasan dalam menjalankan kegiatan operasional.
Program tersebut diharapkan turut memperkuat ekosistem ekonomi sosial keagamaan di Kota Malang dengan mendorong potensi ZISWAF dikelola secara profesional, transparan, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.


