Reportasemalang, MALANG — Universitas Negeri Malang (UM) kembali menambah jajaran profesor dengan mengukuhkan empat guru besar dari berbagai bidang keilmuan pada awal Oktober 2026. Keempatnya membawa gagasan yang beragam, mulai dari tata kelola pendidikan, penambangan data, pembelajaran bahasa Indonesia, hingga desain komunikasi visual.
Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari komitmen UM untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang memberikan dampak bagi kemanusiaan dan keberlanjutan.
Keempat guru besar tersebut yakni Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, S.Pd., M.Pd., Prof. Dr. Ir. Triyanna Widiyaningtyas, M.T., Prof. Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd., dan Prof. Dr. Pujiyanto, M.Sn.
Ketua Senat Akademik Universitas (SAU) UM Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd. menegaskan, pengukuhan guru besar bukan sekadar seremoni, melainkan penanda perjalanan panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
“Guru Besar adalah janji panjang untuk setia pada ilmu, menjaga nalar, dan terus berpikir di tengah dinamika global yang semakin kompleks,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. menyebut gelar guru besar sebagai amanah intelektual sekaligus moral. Menurutnya, pengakuan tersebut lahir dari dedikasi intelektual yang dibuktikan melalui karya ilmiah yang berdampak bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesejahteraan masyarakat.
Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, S.Pd., M.Pd. dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Manajemen Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan.
Dalam pidato berjudul “Kepercayaan sebagai Fondasi Partisipasi: Transformasi Tata Kelola Sekolah Menuju Pendidikan yang Akuntabel dan Responsif”, ia menekankan pentingnya kepercayaan dalam membangun hubungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Menurutnya, partisipasi masyarakat tidak cukup hanya diukur dari kehadiran fisik atau bantuan material. Partisipasi harus dibangun melalui tata kelola yang akuntabel, keterbukaan informasi, dan kepercayaan publik.
Gagasan tersebut dirumuskan melalui Integrated Information-Trust-Participation Framework (ITP-Model) yang menghubungkan empat unsur utama, yakni akuntabilitas tata kelola sekolah, kualitas layanan informasi, kepercayaan publik, dan partisipasi substantif orang tua.
Partisipasi orang tua, menurut Bambang, juga perlu diarahkan dari sekadar keterlibatan menuju tingkatan yang lebih substantif, mulai dari menyampaikan suara, terlibat, berkontribusi, berkolaborasi, ikut mengambil keputusan, hingga berbagi tanggung jawab.
Dengan pendekatan tersebut, orang tua tidak hanya menjadi penerima layanan pendidikan, tetapi juga memiliki ruang pengaruh dalam menentukan arah kebijakan sekolah.
Prof. Dr. Ir. Triyanna Widiyaningtyas, M.T. dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Penambangan Data dan Sistem Rekomendasi.
Dalam pidatonya bertajuk “Peran Data Mining dalam Pengembangan Sistem Rekomendasi Cerdas di Era Big Data”, Triyanna menjelaskan tantangan yang muncul akibat ledakan data digital.
Big Data memiliki karakteristik 5V, yakni Volume, Velocity, Variety, Veracity, dan Value. Namun, besarnya jumlah data juga dapat menimbulkan persoalan baru karena pengguna menghadapi terlalu banyak pilihan dan informasi.
Di sinilah data mining dan recommender system memiliki peran penting. Data mining digunakan untuk menemukan pola, hubungan, dan pengetahuan yang tersembunyi di dalam kumpulan data besar.
Sementara itu, sistem rekomendasi membantu menyaring berbagai pilihan dan menyajikan informasi yang paling relevan bagi pengguna.
Triyanna menyebut terdapat sejumlah teknik utama dalam data mining yang menjadi fondasi sistem rekomendasi, antara lain classification, clustering, association rule, dan deep learning.
Ia juga memaparkan sejumlah penelitian yang telah dikembangkan bersama tim risetnya, termasuk UPCSim, CB-UPCSim, SVD-WPR, TLFSim, MF-NCG, SVD-GoRank, SVD-GSetRank, HD-PMF, dan HCF-MFGB.
Intinya, Big Data menjadi tantangan, data mining menjadi alat untuk mengolahnya, sedangkan sistem rekomendasi menjadi solusi untuk menghasilkan informasi yang lebih bermanfaat.
Prof. Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd. dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kajian Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya.
Dalam pidatonya “Mengembalikan Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Khitahnya sebagai Sarana Berkomunikasi dan Berpikir”, Imam menyoroti pentingnya mengembalikan pembelajaran bahasa Indonesia pada tujuan utamanya.
Menurutnya, pembelajaran bahasa Indonesia tidak sekadar bertujuan mengembangkan kemampuan linguistik. Lebih dari itu, bahasa menjadi sarana membangun kompetensi komunikasi, literasi, dan kemampuan berpikir kritis.
Ia mengingatkan agar perkembangan pendekatan, model pembelajaran, teknologi, maupun kebijakan baru tidak justru menggeser substansi pembelajaran bahasa.
Pendekatan berbasis teks, misalnya, perlu diterapkan secara arif agar guru tidak kehilangan fokus terhadap keterampilan berbahasa hanya karena tema teks berkaitan dengan bidang lain.
Demikian pula penerapan model seperti Problem Based Learning* (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) perlu tetap diarahkan pada keterampilan berbahasa, bukan sekadar mengikuti tahapan model pembelajaran.
Imam juga menilai penyeragaman modul, pendekatan, dan sintaks pembelajaran berpotensi membuat proses belajar mengajar berubah menjadi formalitas.
Karena itu, ia mendorong pembelajaran bahasa Indonesia kembali pada khitahnya sebagai sarana berkomunikasi dan berpikir, sehingga siswa memiliki kemampuan komunikasi sekaligus daya kritis.
Prof. Dr. Pujiyanto, M.Sn. dikukuhkan sebagai Guru Besar dengan kepakaran Desain Media Persuasif dalam Bidang Desain Komunikasi Visual.
Dalam pidatonya “Kreativitas Generasi Z: Metafora Karya Ilustrasi Hasil Ajang Talenta Nasional sebagai Media Persuasif pada Anak Sebayanya”, Pujiyanto mengangkat potensi karya ilustrasi sebagai media komunikasi persuasif.
Menurutnya, ilustrasi tidak sekadar menjadi karya seni visual, tetapi juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan melalui kekuatan gambar.
Karya ilustrasi yang dibuat Generasi Z dinilai memiliki karakter yang dekat dengan dunia anak-anak. Unsur tema, objek, warna, hingga teknik visual dapat dirancang untuk menarik perhatian sekaligus menyampaikan pesan.
Pujiyanto menyoroti karya ilustrasi yang lahir dari ajang talenta nasional seperti FLS2N yang kini berkembang menjadi FLS3N. Karya tersebut menunjukkan kemampuan siswa usia 13–15 tahun dalam memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya visual.
Sejumlah metafora dalam karya tersebut menggambarkan nasionalisme, wajah Indonesia, semangat berprestasi, hingga simbol kejuaraan. Burung Garuda, budaya daerah, anak-anak yang beraktivitas, sertifikat, trofi, dan medali menjadi bagian dari pesan visual tersebut.
Menurut Pujiyanto, karya-karya tersebut menunjukkan bahwa generasi muda yang akrab dengan teknologi mampu berperan sebagai kreator dan menggunakan desain visual untuk membangun pesan positif bagi teman sebaya.
Pengukuhan empat guru besar tersebut sekaligus memperlihatkan keberagaman bidang keilmuan yang dikembangkan UM, dari tata kelola pendidikan dan teknologi data hingga bahasa serta desain komunikasi visual. Masing-masing kepakaran membawa perspektif berbeda, tetapi memiliki satu tujuan: menjadikan ilmu pengetahuan lebih relevan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


