Reportasemalang – Politeknik Negeri Malang (Polinema) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM). Kali ini, Jurusan Teknologi Informasi Polinema mengintegrasikan teknologi digital dengan pelestarian budaya batik melalui program bertajuk “Peningkatan Kapasitas Produksi dan Visualisasi Digital Desain Baju Batik pada Mitra Batik Soendari dan Rumah Seni Budaya Singhasari.”
Program tersebut menghadirkan inovasi berupa website interaktif berbasis visualisasi digital sekaligus memberikan dukungan sarana produksi bagi dua mitra UMKM batik di Kota Malang.
Salah satu mitra, Batik Soendari di Kecamatan Lowokwaru, memperoleh pengembangan website yang dilengkapi fitur mockup pakaian tiga dimensi (3D). Platform ini memungkinkan pelanggan melihat berbagai motif batik yang diaplikasikan pada model busana pria maupun wanita secara virtual sebelum memasuki tahap produksi.
Website tersebut juga menyediakan galeri motif batik serta simulasi penerapan motif pada berbagai desain pakaian. Kehadiran fitur ini dinilai mampu meminimalkan kesalahan produksi sekaligus meningkatkan efisiensi kerja.
Direktur Batik Soendari, Satrya Paramanandana, mengatakan sistem tersebut sangat membantu proses komunikasi dengan pelanggan.
“Kini kami dapat memperlihatkan rancangan busana kepada pelanggan tanpa harus membuat sampel kain ataupun menggunakan manekin. Proses konsultasi menjadi lebih praktis dan efisien,” ujarnya.
Sementara itu, Rumah Seni Budaya Singhasari yang dipimpin Sadhana Devi memperoleh dukungan berupa berbagai peralatan dan bahan membatik untuk meningkatkan produktivitas batik tulis.
Bantuan tersebut meliputi kain katun Chrysan, canting listrik, malam cap, malam canting, cap batik, loyang cap, wajan batik, kompor, hingga pewarna alami berbahan kayu secang, mangrove, akar mengkudu, kulit mahoni, dan kayu merr.
Peralatan tersebut membantu menjaga kestabilan suhu malam selama proses membatik sehingga menghasilkan kualitas batik yang lebih baik. Sementara penggunaan pewarna alami tetap mempertahankan karakter tradisional yang menjadi identitas Batik Singhasari.
Ketua pelaksana program, Vivi Nur Wijayaningrum, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi Polinema dalam meningkatkan kapasitas produksi sekaligus daya saing UMKM batik di era digital.
Menurutnya, perpaduan teknologi digital melalui website interaktif dengan peningkatan fasilitas produksi diharapkan mampu membantu pelaku UMKM bekerja lebih efektif sekaligus memperluas peluang pemasaran.
“Kami berharap inovasi ini dapat meningkatkan kapasitas produksi, mempermudah promosi, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM batik,” katanya.
Program PPM tersebut berlangsung selama delapan bulan dengan melibatkan tim dosen Jurusan Teknologi Informasi yang terdiri atas Mamluatul Hani’ah, Vivin Ayu Lestari, Mungki Astiningrum, Vit Zuraida, dan Astrifidha Rahma Amalia.
Selain menghadirkan inovasi teknologi dan bantuan peralatan, tim juga memberikan pendampingan secara edukatif dan partisipatif agar para mitra mampu mengoperasikan website serta memanfaatkan seluruh fasilitas produksi secara mandiri.
Sadhana Devi mengapresiasi program tersebut karena memberikan manfaat nyata terhadap proses produksi batik.
Menurutnya, penggunaan canting listrik mampu mempercepat proses membatik, sedangkan pemanfaatan pewarna alami menghasilkan corak khas Batik Singhasari dengan kualitas yang tetap terjaga.
Melalui program ini, Polinema berharap Batik Soendari dan Rumah Seni Budaya Singhasari dapat menjadi contoh keberhasilan transformasi digital pada sektor UMKM batik. Sinergi antara inovasi teknologi dan pelestarian teknik membatik tradisional diharapkan mampu memperkuat daya saing batik lokal sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya Indonesia.