Reportasemalang – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan tiga Profesor baru lintas fakultas pada Rabu (10/8/2026). Ketiganya yakni Prof. Ir. Bambang Semedi, M.Sc., Ph.D. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof. Erni Sofia Murtini, S.T.P., M.P., Ph.D. dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB), serta Prof. Dr. Sri Muljaningsih, S.E., MSP dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Pengukuhan dilakukan di hadapan Senat Akademik Universitas Brawijaya dengan menghadirkan gagasan ilmiah terkait teknologi kelautan berbasis AI, pengembangan pangan lokal, hingga ekonomi sirkular berbasis komunitas.
Prof. Bambang Semedi Perkenalkan AI untuk Prediksi Zona Penangkapan Ikan
Prof. Bambang Semedi resmi dikukuhkan sebagai Profesor dalam Bidang Ilmu Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Kelautan pada FPIK UB. Ia tercatat sebagai profesor ke-28 di FPIK dan profesor ke-256 di UB.
Dalam orasi ilmiahnya berjudul “MARINESCAPE: Integrasi Penginderaan Jauh dan Machine Learning untuk Prediksi ZPPI di Era Perubahan Iklim”, Prof. Bambang memperkenalkan teknologi MARINESCAPE (Marine Intelligence System for Spatio-temporal Catch Prediction).
Teknologi tersebut dirancang untuk memprediksi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) secara lebih presisi dan adaptif di tengah perubahan iklim global yang memengaruhi pola migrasi ikan pelagis.
Menurutnya, perubahan suhu permukaan laut dan arus laut ekstrem akibat pemanasan global membuat nelayan semakin kesulitan menentukan lokasi penangkapan ikan, termasuk ikan cakalang (Katsuwonus pelamis).
“Zona penangkapan ikan yang selama ini dipandu pengalaman empiris dan kearifan lokal kini menjadi semakin sulit diprediksi. Akibatnya, nelayan harus menghabiskan waktu lebih lama dan biaya BBM lebih besar,” ujar Prof. Bambang.
Melalui MARINESCAPE, data satelit seperti suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a, dan front laut dianalisis menggunakan teknologi machine learning, termasuk Artificial Neural Networks (ANN) dan deep learning.
Model tersebut mampu membaca pola spasio-temporal laut secara lebih kompleks sehingga dapat memberikan sinyal awal terhadap perubahan lingkungan laut. Berdasarkan berbagai studi global, metode deep learning terintegrasi disebut mampu mencapai tingkat akurasi prediksi hingga 82,6 persen.
Selain meningkatkan efisiensi operasional nelayan, teknologi ini juga dinilai dapat menekan tangkapan sampingan (bycatch) yang tidak diinginkan.
Prof. Bambang juga menggagas pembentukan UB-MARINESCAPE sebagai pusat riset dan diseminasi data kelautan yang menghubungkan akademisi, nelayan, pengelola perikanan, hingga pembuat kebijakan.
“MARINESCAPE hadir bukan untuk menggantikan manusia, tetapi menjadi decision support system yang membantu nelayan bergerak dari sistem reaktif menjadi antisipatif,” katanya.
Inovasi tersebut juga mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim dan SDGs 14 tentang ekosistem laut.
Prof. Erni Sofia Dorong Pengembangan Sorgum dan Modernisasi Makanan Tradisional
Sementara itu, Prof. Erni Sofia Murtini dikukuhkan sebagai Profesor dalam Bidang Teknologi Serealia dan Makanan Tradisional pada FTAB UB. Ia menjadi profesor ke-28 di FTAB dan guru besar ke-257 di UB.
Dalam orasinya, Prof. Erni menyoroti tingginya ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras dan gandum. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Ia menjelaskan bahwa serealia seperti padi, gandum, sorgum, dan rai merupakan sumber karbohidrat utama yang menyumbang kebutuhan energi manusia. Namun, konsumsi masyarakat masih didominasi beberapa komoditas tertentu, terutama beras dan gandum.
Ketergantungan terhadap gandum impor, kata dia, terlihat dari tingginya konsumsi produk seperti mi, roti, dan kue.
Prof. Erni menilai sorgum memiliki potensi besar sebagai alternatif pangan lokal karena mampu tumbuh di lahan marginal tanpa mengganggu area budidaya padi.
Selain itu, tren global terhadap produk bebas gluten (gluten free product) dinilai menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan pangan lokal berbasis sorgum.
Di sisi lain, ia juga menyoroti mulai menurunnya popularitas makanan tradisional di kalangan generasi muda. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan lost generation, yakni generasi yang mengenal nama makanan tradisional tetapi tidak pernah mencicipi maupun mengetahui cara pembuatannya.
Karena itu, Prof. Erni menekankan pentingnya inovasi dan modernisasi makanan tradisional agar tetap relevan dengan selera generasi masa kini tanpa menghilangkan nilai budayanya.
“Makanan tradisional perlu dikemas lebih inovatif agar mampu bersaing di pasar modern,” ujarnya.
Prof. Sri Muljaningsih Kenalkan Model LILY untuk Ekonomi Sirkular
Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Sri Muljaningsih, S.E., MSP dikukuhkan sebagai Profesor dalam Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam di FEB UB. Ia menjadi profesor aktif ke-33 di FEB dan profesor aktif ke-258 di Universitas Brawijaya.
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “MODEL LILY: Valorisasi Tanaman Lokal dalam Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas Organik”, Prof. Sri memperkenalkan Model LILY sebagai konsep ekonomi berbasis komunitas yang mengintegrasikan nilai spiritual, kewirausahaan, dan ekonomi sirkular.
Model tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap tingginya harga produk organik yang belum sepenuhnya terjangkau masyarakat.
Melalui konsep LILY, setiap masyarakat, khususnya pelaku UMKM, didorong untuk mampu menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam lokal.
Menurut Prof. Sri, penerapan model tersebut membutuhkan perubahan pola pikir ekonomi masyarakat agar lebih berorientasi pada keberlanjutan dan kolaborasi sosial.
Penelitian empiris yang dilakukannya menunjukkan bahwa faktor sosial-ekologis mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan ekonomi berbasis komunitas.
Keunikan Model LILY terletak pada integrasi antara kewirausahaan, komunitas, dan spiritualitas dalam satu sistem ekonomi yang berpusat pada masyarakat (community-centric).
Prof. Sri berharap model tersebut dapat memperkuat ekonomi lokal melalui peningkatan nilai tambah produk, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan kewirausahaan berbasis komunitas organik.