Reportasemalang, Kota Batu – 10 juli 2026, Sebanyak 12 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (KKN FBiPK UB) Tahun 2026 mengembangkan inovasi pengolahan limbah bunga potong menjadi produk kreatif yang bernilai estetika dan ekonomi.
Program tersebut berangkat dari persoalan yang rutin dihadapi petani bunga potong ketika memasuki bulan Muharram atau Bulan Suro. Pada periode tersebut, permintaan bunga biasanya menurun karena sebagian masyarakat menunda pelaksanaan pesta pernikahan maupun hajatan.
Salah seorang petani bunga potong Desa Punten, Dony, mengatakan bahwa penurunan pesanan hampir selalu terjadi setiap Bulan Suro. Akibatnya, bunga yang tidak terjual menumpuk, layu, dan akhirnya dibuang sebagai limbah organik.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN FBiPK UB di Desa Punten menghadirkan program pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan limbah bunga menjadi empat jenis produk, yaitu gantungan kunci resin, lilin aromaterapi, kolase dua dimensi, dan pigura dekoratif berbahan bunga kering.
Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu PKK Desa Punten sebagai peserta utama. Pelaksanaan program turut didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Desa Punten, Siti Roichatul Chasanah, M.Pd.I., bersama mahasiswa KKN sebagai fasilitator.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mempraktikkan proses pengeringan bunga, pemilihan bahan, penyusunan desain, hingga pembuatan produk. Seluruh alat dan bahan yang digunakan relatif sederhana sehingga dapat diterapkan kembali secara mandiri di rumah.
Gantungan kunci resin dibuat dengan memadukan kelopak bunga kering dan resin, sedangkan lilin aromaterapi dihias menggunakan bunga kering untuk meningkatkan fungsi dan nilai estetikanya. Peserta juga membuat kolase serta pigura dekoratif yang dapat dikembangkan sebagai hiasan rumah maupun cendera mata.
Dosen Pembimbing Lapang KKN FBiPK UB Desa Punten, Imaniar Ilmi Pariasa, S.P., M.P., MBA, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penerapan ilmu pengetahuan dalam menjawab persoalan nyata masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya melihat bunga yang tidak terjual sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali. Kreativitas dan keterampilan dapat mengubah bahan yang sebelumnya dibuang menjadi produk yang memiliki fungsi dan peluang ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya keberhasilan program tidak hanya dilihat dari produk yang dihasilkan, tetapi juga dari perubahan cara pandang masyarakat dalam mengelola limbah. Program ini diharapkan dapat menjadi awal tumbuhnya usaha rumahan berbasis potensi lokal Desa Punten.
Kegiatan tersebut juga sejalan dengan konsep Eco-Green Campus, terutama dalam penerapan pengurangan limbah, pemanfaatan kembali bahan, efisiensi sumber daya, dan pengembangan perilaku ramah lingkungan. Melalui KKN, nilai-nilai keberlanjutan yang dikembangkan di kampus diterapkan secara langsung bersama masyarakat.
Program ini mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan keterampilan masyarakat, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pembukaan peluang usaha, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai. Mahasiswa berharap inovasi ini dapat memperkuat ekonomi kreatif sekaligus membangun kesadaran bahwa bunga yang dibuang hari ini dapat menjadi produk yang dicari pada masa mendatang.