Reportasemalang, JAKARTA – Upaya mendorong pertanian regeneratif kini mulai diarahkan pada pemanfaatan biochar yang tidak hanya berdampak pada pengelolaan lahan, tetapi juga memiliki peluang dalam pengembangan kredit karbon. Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang turut terlibat dalam pembahasan tersebut sebagai co-partner pada Workshop on Carbon Credit Methodology to Strengthen Agricultural Extension for Biochar Application in Land Management and Regenerative Agriculture yang berlangsung di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Forum tersebut mempertemukan peneliti, pemerintah, perguruan tinggi, penyuluh pertanian, asosiasi biochar, serta pelaku usaha. Pembahasan diarahkan pada penguatan metodologi kredit karbon, penerapan biochar dalam pengelolaan lahan, serta kesiapan berbagai pihak dalam mengembangkan pertanian regeneratif di Indonesia.
Kontribusi UNITRI hadir dari dua unsur. Prof. Dr. Ir Widowati, MP, dipercaya sebagai salah satu pemateri utama, sedangkan Wakil Rektor II UNITRI, Dr. Erwin Ismu Wisnubroto, SP., M.Phil, menjadi anggota Tim Perumus hasil workshop. Keduanya membawa perspektif akademik dalam pembahasan yang berkaitan dengan penerapan biochar dan pengembangan skema kredit karbon.

Dalam paparannya bertajuk Community-Based Biochar Model for Indonesian Regenerative Agriculture and Carbon Credit Readiness, Prof. Widowati mengangkat pendekatan berbasis komunitas. Model tersebut menempatkan petani dan kelembagaan lokal sebagai bagian penting dalam pengelolaan biomassa, produksi, penggunaan biochar, serta pencatatan data.
Pendekatan ini melihat penerapan biochar tidak sebatas pada penyediaan teknologi produksi. Kualitas produk, kesesuaian dengan kondisi tanah dan tanaman, pendampingan, kelembagaan, hingga manfaat ekonomi bagi masyarakat desa menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Kesiapan penerapan biochar dalam model tersebut dibagi dalam beberapa tahapan. Dimulai dari kemampuan komunitas memproduksi dan menggunakan biochar, kesiapan memperluas penerapan melalui fasilitas dan model usaha, hingga kesiapan memasuki proyek karbon yang membutuhkan standar, verifikasi, serta mekanisme pembagian manfaat yang jelas.
Sementara itu, Dr. Erwin Ismu Wisnubroto berkontribusi dalam Tim Perumus yang menyusun sintesis hasil pemaparan dan diskusi. Rumusan tersebut menghubungkan aspek ilmiah, kebijakan, penyuluhan, dan kesiapan petani dengan sejumlah usulan tindak lanjut kolaboratif antarlembaga.
Dalam rumusan workshop, kesehatan tanah, produktivitas pertanian, dan kesejahteraan petani ditempatkan sebagai tujuan utama pengembangan biochar. Kredit karbon dipandang sebagai insentif tambahan yang tetap membutuhkan bukti, perhitungan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan tata kelola transparan.
Pembahasan juga mencakup rancangan pedoman ASEAN tentang biochar, pengembangan metodologi Joint Crediting Mechanism (JCM), pengalaman Thailand, serta kebutuhan menyesuaikan penerapan biochar dengan karakteristik tanah di Indonesia. Tantangan di tingkat petani turut menjadi perhatian, terutama pengetahuan, biaya produksi dan aplikasi, akses peralatan, serta ketersediaan panduan Good Agricultural Practices (GAP) yang memasukkan penggunaan biochar.
Dari forum tersebut, terbuka sejumlah peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan UNITRI bersama mitra, antara lain riset bersama, uji lapangan, peningkatan kapasitas laboratorium, pelatihan bagi penyuluh dan petani, serta pertukaran pengetahuan dengan mitra nasional maupun internasional.
Tindak lanjut diarahkan pada identifikasi mitra dan lokasi percontohan, pembagian peran, kebutuhan sumber daya, serta penyusunan rencana kerja yang realistis. Bagi UNITRI, keterlibatan dalam forum ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan kebutuhan nyata dalam pengelolaan lahan dan pertanian berkelanjutan.


