16 April 2026

Hadiri ‘The 71st TEFLIN International Conference’ di UB, Mendikdasmen Tekankan Penguatan Bahasa Inggris dan AI

Hadiri 'The 71st TEFLIN International Conference' di UB, Mendikdasmen Tekankan Penguatan Bahasa Inggris dan AI
The 71st TEFLIN International Conference' di Universitas Brawijaya. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

Reportasemalang – Ratusan peserta dari 13 negara mengikuti ‘The 71st TEFLIN International Conference’ yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB). Bertempat di Gedung Samantha Krida UB, event internasional ini dihadiri langsung Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, Kamis (9/10/2025).

Dalam kesempatan tersebut Mendikdasmen, Abdul Mu’ti mengatakan, TEFLIN ke-71 ini merupakan salah satu seminar internasional yang tertua di dunia. Dimana pesertanya juga dari berbagai negara.

“Ini sebuah penyelenggaraan seminar yang sangat penting dan terkait dengan kebijakan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mulai tahun 2027 nanti mengajarkan Bahasa Inggris dari kelas 3 SD,” ujarnya.

Karen itu, lanjut Abdul Mu’ti, diperlukan lebih banyak lagi guru-guru yang punya kemampuan untuk mengajar Bahasa Inggris. Baik mereka yang berasal dari lulusan Bahasa Inggris ataupun dari guru bidang studi lain yang nanti mendapatkan pelatihan pembelajaran Bahasa Inggris.

Program ini juga sangat penting terutama untuk memberikan pengayaan bagi para guru yang selama ini sudah mengajar. Termasuk dosen yang sudah mengajar Bahasa Inggris untuk diintegrasikan dan juga dalam pelaksanaannya mengembangkan pembelajaran mendalam.

“Bagaimana deep learning, pembelajaran mendalam yang mindful, meaningful, dan joyful itu dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Inggris, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi,” ungkapnya.

Mendikdasmen, Abdul Mu’ti saat menghadiri The 71st TEFLIN International Conference di UB. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Selain itu, bagaimana agar pembelajaran Bahasa Inggris juga bisa memanfaatkan teknologi kecerdasan artificial yang memang selama ini juga sudah menjadi bagian dari realitas kehidupan digital sekarang ini.

Mulai semester ini pula pembelajaran coding dan kecerdasan artificial juga telah menjadi mata pelajaran pilihan. Walaupun masih opsional, tapi banyak sekali sekolah yang juga sudah mengajarkan coding dan kecerdasan artificial.

“Karena itu, kemampuan guru termasuk guru Bahasa Inggris dalam mengintegrasikan dan memanfaatkan AI untuk pembelajaran juga menjadi bagian penting yang kami harapkan dapat menjadi tren ke depan. Dan mudah-mudahan juga termasuk yang dibahas dalam seminari,” tandasnya.

Senada, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., mengapresiasi kebijakan Mendikdasmen, yang berencana menekankan pembelajaran bahasa Inggris mulai tingkat sekolah dasar (SD).

Menurutnya, kebijakan tersebut sejalan dengan semangat Universitas Brawijaya dalam menyiapkan generasi unggul yang memiliki daya saing global.

“Kami sangat mengapresiasi gerakan Menteri Pendidikan. Dengan pembelajaran bahasa Inggris sejak SD, kemampuan komunikasi internasional generasi Indonesia akan semakin baik. Ke depan, kita tidak hanya menjadi pendengar, tapi juga banyak berbicara dan berkontribusi di panggung dunia,” tuturnya.

Rektor UB itu juga menekankan pentingnya integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, AI harus menjadi sarana untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis dan kreatif, bukan menggantikan peran guru di ruang belajar.

“AI bisa mempercepat proses belajar, tetapi nilai kemanusiaan tetap harus dijaga. Guru dan dosen adalah inspirator, bukan sekadar pengajar. UB ingin melahirkan generasi yang menguasai teknologi sekaligus memiliki karakter kuat dan empati sosial,” pungkasnya.