Reportasemalang – Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel seringkali dipahami secara sederhana sebagai pertentangan ideologi atau agama. Namun dalam perspektif sejarah, realitas tersebut jauh lebih kompleks. Dinamika yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari perubahan pola perang, kepentingan negara, hingga relasi historis yang terus bergerak.
Hal ini disampaikan dosen sekaligus Sekretaris Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Arif Subekti, S. Pd., M.A, yang menekankan bahwa sejarah melihat konflik secara diakronik, baik dalam hal perubahan maupun keberlanjutannya.
“Sejarah melihat apa yang terjadi dari waktu ke waktu, proses yang terus bergerak. Kalau geopolitik itu (melihat realitas) seperti papan catur,” jelasnya, Selasa (14/4/2026).
Dalam kajian sejarah militer, perang merupakan fenomena yang terus berevolusi dan telah berlangsung sejak lama, bahkan sejak peradaban awal. Namun, bentuknya terus mengalami perubahan. Jika pada masa lampau, perang terjadi secara langsung dan terbuka; kini konflik berkembang menjadi lebih kompleks.
Salah satunya adalah perang proksi, di mana aktor utama tidak selalu berhadapan secara langsung di medan tempur.
“Perang hari ini tidak selalu mempertemukan dua pihak secara langsung. Ada keterlibatan banyak aktor, seperti bidak catur yang disuruh maju duluan,” ujar Arif.
Konsep ini menjadi kunci dalam memahami dinamika konflik di Timur Tengah saat ini, termasuk keterlibatan Iran dalam mendukung kelompok-kelompok tertentu di kawasan. Istilah “Timur Tengah” sendiri, menurut Arif, merupakan konstruksi perspektif Barat. Pembagian kawasan seperti Near East, Middle East, hingga Far East mencerminkan sudut pandang geografis Eropa terhadap wilayah lain.
Tokoh seperti Alfred Thayer Mahan disebut sebagai salah satu yang memperkenalkan pembagian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, kawasan ini telah diposisikan dalam kerangka kepentingan global. Lebih jauh, konflik di kawasan ini juga ditandai oleh koalisi yang tidak permanen.
“Koalisi di Timur Tengah itu sangat dinamis. Dulu Iran dan Israel pernah berada dalam posisi yang berdekatan sebelum Revolusi Iran 1979,” ungkapnya.
Salah satu momen penting dalam relasi Iran dengan Barat adalah Revolusi Iran 1979. Peristiwa ini mengubah Iran dari monarki di bawah Shah menjadi republik Islam. Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada sistem politik domestik, tetapi juga pada hubungan internasional Iran, khususnya dengan Amerika Serikat. Sejak saat itu, relasi yang sebelumnya relatif dekat berubah menjadi penuh ketegangan.
Sering kali konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat dipahami sebagai pertentangan ideologi atau agama. Namun, menurut Arif, penjelasan tersebut tidak cukup. Ia menegaskan bahwa konflik tidak bisa dilepaskan dari kepentingan nasional (national interest) masing-masing negara, termasuk faktor sumber daya ekonomi serta keamanan.
“Perang itu bukan semata ideologi, yang seringkali disandarkan pada pengalaman sejarah masa lalu. Yang paling menentukan adalah kepentingan hari ini,” jelasnya.
Isu seperti pengembangan nuklir Iran, misalnya, sering dijadikan dasar ketegangan. Dalam konteks ini, terdapat perjanjian internasional seperti Non-Proliferation Treaty yang mengatur penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Namun, perbedaan persepsi terhadap implementasi perjanjian tersebut turut memicu konflik.
Meski sejarah memiliki pengaruh terhadap konflik saat ini, Arif menilai bahwa faktor masa lalu bukan satu-satunya penentu. Mengutip pemikiran Bertrand Russell, ia menyebut bahwa peristiwa besar di masa lalu memang melemparkan bayang-bayangnya jauh ke depan, tetapi tidak selalu menjadi faktor utama dalam konflik kontemporer.
“Sejarah bisa menjadi latar, tetapi yang menentukan tetap kepentingan saat ini,” ujarnya.
Dengan kata lain, konflik yang terjadi merupakan hasil interaksi antara warisan sejarah dan kebutuhan strategis masa kini. Dalam konteks Indonesia, Arif menyoroti pentingnya sikap tegas dalam menjaga kedaulatan dan prinsip dalam hubungan internasional.
“Indonesia punya prinsip dan kewibawaan. Itu yang penting dalam melihat konflik global,” katanya.
Melalui perspektif sejarah, konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak dapat disederhanakan menjadi narasi hitam-putih. Ia merupakan fenomena yang berlapis, dinamis, dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Pendekatan ini menjadi penting agar masyarakat dapat memahami isu global secara lebih utuh, tanpa terjebak pada penyederhanaan yang berpotensi menimbulkan bias. Sebagaimana ditegaskan Arif, memahami sejarah berarti melihat proses, bukan sekadar mengambil kesimpulan instan.