Reportasemalang – Departemen Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) kembali menggelar Konferensi Internasional. Bertajuk International Conference of Water Resources Development and Environmental Protection (ICWRDEP), Sabtu (27/9/2025).
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Internasionalisasi Universitas Brawijaya, Prof. Andi Kurniawan S.Pi., M.Eng. D.Sc mengapresiasi gelaran Konferensi Internasional. Menurutnya, ini merupakan kerja cerdas dan kerja keras dari fakultas teknik, terutama Departemen Teknik Pengairan.
“Kenapa saya katakan ini kerja cerdas dan kerja keras yang sangat baik. Karena memang persoalan air itu jelas persoalan yang tidak akan pernah selesai,” jelasnya.
Bahkan lanjut Prof Andi, dengan perkembangan tren dunia seperti Artificial Intelligence (AI) digital teknologi, itu mengkonsumsi air. Kalau sebelumnya, kita sudah bersaing untuk menggunakan air sehat bagi kehidupan manusia ataupun pertanian. Dalam artian, untuk bisa memberi makan populasi dunia, ada air yang harus dikorbankan. Sehingga menyebabkan banyak kekurangan air untuk umat manusia.
“Sekarang, dengan berkembangnya teknologi digital, mereka juga menggunakan air untuk mendinginkan servernya. Sehingga ini menandai masuknya kita ke era baru permasalahan air dunia,” ungkapnya.

Karena itu fakultas teknik, dalam hal ini Departemen Teknik Pengairan, melihat ini sebagai tantangan yang harus diselesaikan. Dan tantangan ini tentu saja bisa selesai dengan kolaborasi. Dan kolaborasi yang hebat harus dengan mitra-mitra hebat.
“Alhamdulillah teman-teman berhasil mengumpulkan mitra-mitra hebat. Ada dari New Zealand, ada dari Tokyo University, ada juga dari Thailand. Yang semua itu jelas partner berharga kita, yang bisa sama-sama bersama kita. Tidak hanya berkontribusi untuk pengembangan akademik, tapi juga menyelesaikan persoalan dunia. Dalam hal ini, global water problem,” ucapnya.
Menurut Prof Andi, tidak akan mungkin bisa persoalan di satu tempat diselesaikan locally. Tapi harus dengan perspektif global.
Hanya saja, walaupun dalam perspektif global, solusinya harus dilakukan berdasarkan persoalan-persoalan di daerah masing-masing, di lokal masing-masing.
“Karena itu, konferensi ini sangat tepat sekali untuk sama-sama membangun kesadaran global, tapi beraksi, berbuat dengan level lokal. Sehingga from local to the global,” tegasnya.
Prof Andi optimis dari konferensi akan banyak sekali masukan-masukan untuk mengembangkan dunia akademik, terutama riset dan inovasi. Dalam konteks Indonesia sendiri, hasil-hasilnya merupakan resources berharga untuk mewujudkan program kampus berdampak.
“Saya optimis Departemen Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, benar-benar akan menjadi stakeholder utama dari penyelesaian problem ini,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Departemen Tekni Pengairan, Dr. Ir. Runi Asmaranto, S.T., M.T., IPM. menyampaikan, masalah pengelolaan sumber daya itu tantangannya ada tiga asas. Yakni asas equity sosial atau kesetaraan sosial, efisiensi benefit atau ekonomi yang efisien dan lingkungan yang berkelanjutan sustainable environment.
Menurutnya, sekarang ini tantangan yang berat adalah perubahan iklim. Karena dengan adanya perubahan iklim tentunya banyak sekali inovasi-inovasi terutama perguruan tinggi untuk berkontribusi.
Sekarang dengan adanya smart irrigation kemudian juga teknologi tentang IT terkait dengan pendaya gunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak dan juga konservasi sumber daya tentunya ini sangat penting.
“Benefit yang kami dapatkan adalah baik dengan universitas dan juga fakultas dan departemen adalah menjalin networking dengan universitas yang berperingkat bagus. Kemudian juga keberlanjutan di dalam kerjasama,” tandasnya.
Ditambahkan, Wakil Dekan Bidang Akademik FTUB, Dr.Eng. Ir. Indradi Wijatmiko, S.T., M.Eng.(Prac)., IPU., ASEAN Eng., menegaskan hasil riset dalam forum ini memiliki potensi diimplementasikan langsung untuk mitigasi banjir dan perubahan iklim melalui kolaborasi lintas negara.
“Konferensi ini juga melibatkan pemangku kepentingan seperti Perum Jasa Tirta I, Kementerian PUPR, serta Global Water Partnership South East Asia,” pungkasnya.