7 Agustus 2026

F-STeM UB Resmi Diluncurkan, Dies Natalis ke-39 Tandai Era Baru Sains dan Teknologi

F-STeM UB Resmi Diluncurkan, Dies Natalis ke-39 Tandai Era Baru Sains dan Teknologi
Dies Natalis ke-39 F-STeM UB sekaligus Launching F-STeM

Bagikan :

Reportasemalang – Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (F-STeM) Universitas Brawijaya (UB) memperingati Dies Natalis ke-39 dengan mengusung tema “Honoring the Legacy, Shaping the Future”. Perayaan tahun ini menjadi momen bersejarah karena sekaligus menandai grand launching F-STeM sebagai identitas baru hasil transformasi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. menegaskan bahwa peluncuran Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (F-STeM) bukan sekadar perubahan nama dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Lebih dari itu, transformasi tersebut menjadi tonggak baru dalam memperkuat integrasi sains, teknologi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin cepat.”Kita harus menyambut fakultas ini dengan riang gembira dan semangat baru. Perubahan ini bukan hanya soal nama, tetapi juga perubahan spirit dalam pendidikan, riset, dan pengembangan keilmuan,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan pada era Revolusi Industri 1.0 hingga 3.0 berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang. Namun, memasuki era Revolusi Industri 4.0 dan kini era AI, percepatan inovasi terjadi jauh lebih cepat karena kemudahan akses pembelajaran dan kolaborasi lintas disiplin.Ia mengakui kehadiran AI kerap dipandang dapat mengurangi semangat belajar mahasiswa. Namun, di sisi lain teknologi tersebut justru mampu meningkatkan efisiensi proses pembelajaran sehingga mendorong percepatan lahirnya inovasi baru.

“AI bukan untuk menggantikan proses belajar, tetapi membantu efisiensi pembelajaran sehingga perkembangan ilmu pengetahuan menjadi lebih cepat,” katanya.

Prof Widodo menekankan, keberadaan F-STeM harus diwujudkan melalui kurikulum yang lebih terintegrasi antara ilmu dasar dan penerapannya. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmu dalam berbagai bidang teknologi.

Ia mencontohkan pengembangan bidang seperti bioinformatika yang menggabungkan ilmu biologi dengan teknologi informasi. Pendekatan serupa juga dapat diterapkan pada kimia, matematika, statistika, maupun disiplin ilmu lainnya agar saling terhubung.

“Mahasiswa yang belajar sains harus memahami aplikasinya. Sebaliknya, mahasiswa yang mempelajari teknologi juga harus memahami fondasi keilmuannya. Dengan begitu, perkembangan ilmu akan berlangsung lebih cepat,” jelasnya.

Selain itu, Rektor berharap setiap program studi tetap memiliki kekhasan masing-masing, namun mampu membangun konektivitas dengan bidang lain melalui pembelajaran lintas disiplin.Menurutnya, pendekatan monodisiplin sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

“Perubahan nama ini harus diikuti perubahan cara berpikir. Departemen yang selama ini berjalan sendiri-sendiri harus semakin terintegrasi agar mahasiswa dan peneliti dapat berkolaborasi mengembangkan ilmu pengetahuan secara multidisiplin,” tegasnya.

Melalui transformasi menjadi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika, UB berharap mampu melahirkan lulusan yang adaptif, inovatif, serta siap menghadapi tantangan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan dan riset.

Dekan F-STeM UB, Prof. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D.

Dekan F-STeM UB, Prof. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D., mengatakan bahwa transformasi tersebut merupakan langkah strategis untuk memperluas peran fakultas tanpa meninggalkan akar keilmuan yang telah dibangun selama hampir empat dekade.

“Dies Natalis ke-39 ini sangat istimewa karena kami masih berada dalam masa transformasi dari MIPA menjadi F-STeM. Kami ingin menegaskan bahwa MIPA tidak akan pernah dilupakan. Justru MIPA menjadi akar yang memperkuat perjalanan kami menuju era baru,” ujar Prof. Sukir.

Menurutnya, tema “Honoring the Legacy, Shaping the Future” mencerminkan komitmen fakultas untuk menghormati sejarah sekaligus menyiapkan masa depan yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

F-STeM kini mengusung filosofi rompi sebagai simbol fakultas yang dinamis, adaptif, dan visioner. Filosofi tersebut menggambarkan kemampuan F-STeM dalam merangkul berbagai disiplin ilmu.

Saat ini, F-STeM memiliki 10 program studi sarjana yang memadukan lima bidang sains dasar (basic science) sebagai warisan FMIPA dan lima bidang sains terapan (applied science) yang diarahkan pada pengembangan teknologi dan hilirisasi hasil riset.

“Hadirnya kata ‘teknologi’ dalam nama fakultas menjadi penegasan bahwa kami tidak hanya berfokus pada pengembangan sains dasar, tetapi juga mendorong penerapan hasil riset agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Dalam momentum Dies Natalis, F-STeM juga menampilkan berbagai produk inovasi hasil penelitian yang telah memasuki tahap hilirisasi. Produk-produk tersebut menjadi bukti bahwa pengembangan riset di lingkungan fakultas kini semakin diarahkan pada solusi aplikatif.

Selain memperkuat inovasi, F-STeM juga terus memperluas jejaring kerja sama nasional maupun internasional. Prof. Sukir mengungkapkan bahwa transformasi fakultas diiringi dengan pembenahan tata kelola yang lebih dinamis serta peningkatan kolaborasi riset global.

Sejumlah mitra internasional telah menjalin kerja sama dengan F-STeM, termasuk institusi dari Jepang yang menempatkan peralatan penelitian di Observatorium UB di Cangar sebagai bagian dari kolaborasi ilmiah.

“Kami akan terus memperkuat internasionalisasi, baik melalui kolaborasi riset, pendanaan internasional maupun kemitraan strategis. Transformasi ini juga menuntut tata kelola yang lebih adaptif, dinamis, dan visioner,” katanya.

Prof. Sukir optimistis, transformasi yang dimulai pada Dies Natalis ke-39 ini akan menjadi fondasi kuat bagi pengembangan F-STeM pada tahun-tahun mendatang. Ia berharap saat memasuki usia ke-40, fakultas telah menunjukkan berbagai capaian baru sebagai pusat pengembangan sains dan teknologi yang unggul.

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah. MIPA tetap menjadi akar yang memperkuat kami, sementara F-STeM menjadi langkah baru untuk membentuk masa depan melalui inovasi dan teknologi,” pungkasnya.