Reportasemalang, SUMENEP – Sampah tak lagi dipandang sekadar persoalan lingkungan di Desa Ambunten Timur, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep. Melalui pendampingan yang dilakukan Politeknik Negeri Malang (Polinema), sampah organik dan anorganik mulai diarahkan menjadi sumber daya yang berpotensi menggerakkan ekonomi desa.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Polinema melaksanakan pendampingan pengelolaan sampah terpadu sejak 1 Mei hingga Agustus 2026. Program ini melibatkan Pemerintah Desa Ambunten Timur, kelompok pengelola sampah atau TPS 3R, serta BUMDes Bahtera Berkah Sejahtera.
Kegiatan tersebut dipimpin Annisa Fatimah, SST., MSA., dengan melibatkan dosen lintas bidang dan mahasiswa Polinema.
Program bertajuk Penerapan Teknologi Tepat Guna Berbasis Mesin Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik untuk Mendorong Ekonomi Sirkular melalui Kemitraan Masyarakat* itu berangkat dari sejumlah persoalan di lapangan.
Di antaranya, pemilahan sampah rumah tangga yang belum dilakukan secara konsisten, mesin pengolahan yang lama tidak digunakan, keterbatasan tenaga operator, hingga hasil pengolahan sampah yang belum terhubung dengan unit usaha BUMDes.
Padahal, sampah organik yang berasal dari rumah tangga, kegiatan penyediaan makanan, peternakan, hingga aktivitas perikanan memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Setelah kunjungan awal, tim Polinema melakukan observasi teknis terhadap mesin pencacah dan mesin pemilah sampah plastik pada 12 Mei 2026.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kedua mesin secara umum masih layak dioperasikan setelah mendapatkan perawatan dan perbaikan ringan.
Pada mesin pencacah, perawatan difokuskan pada pembersihan komponen, penggantian ban, serta perawatan pompa bahan bakar. Sementara pada mesin pemilah sampah plastik, tim merekomendasikan penanganan korosi pada rantai dan sproket, penggantian baut dudukan bearing, serta pemasangan pelindung transmisi untuk meningkatkan keselamatan kerja.
Pendampingan tidak berhenti pada perbaikan teknis. Tim juga menyusun standar operasional prosedur (SOP) pengoperasian mesin pencacah dan mesin pemilah.
SOP tersebut mengatur tahapan persiapan, penggunaan, penghentian, pembersihan, hingga perawatan mesin. Penetapan penanggung jawab operasional juga dilakukan agar mesin dapat digunakan secara berkelanjutan dan tidak kembali menganggur karena ketiadaan personel yang bertugas.
Untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah organik, masyarakat Ambunten Timur mendapatkan pelatihan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dari praktisi Ainur Rahman.
Pelatihan mencakup penyiapan media, pemilihan bibit, pengelolaan suhu dan kelembapan, pemberian pakan, proses panen, hingga pemanfaatan kasgot sebagai pupuk organik.
Budidaya maggot dipilih karena dapat mengubah sampah organik menjadi biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan, sekaligus menghasilkan kasgot yang memiliki nilai guna sebagai pupuk organik.
Hingga Agustus 2026, pendampingan telah menghasilkan analisis kondisi dua mesin pengolahan sampah, dua SOP pengoperasian, pelatihan teknis budidaya maggot BSF, serta instrumen monitoring untuk mengukur keberlanjutan budidaya dan kemampuan mitra.
Tahap berikutnya diarahkan pada konsistensi produksi, pengolahan maggot kering, pengemasan, pencatatan biaya dan pendapatan, serta pengembangan pasar melalui BUMDes Bahtera Berkah Sejahtera.
Program pendampingan ini juga menjadi ruang join research bagi mahasiswa yang mengembangkan penelitian terapan terkait Good Village Governance, akuntabilitas keuangan, dan kinerja usaha BUMDes Ambunten Timur.
Keterlibatan mahasiswa mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan nyata di lapangan. Fokusnya antara lain penyusunan SOP pencatatan, digitalisasi laporan, pemisahan laporan berdasarkan unit usaha, serta penguatan transparansi dan partisipasi masyarakat.
Melalui kolaborasi teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan tata kelola usaha, Polinema mendorong sistem pengelolaan sampah di Ambunten Timur bergerak dari sekadar penanganan persoalan lingkungan menuju rantai ekonomi sirkular.
TPS 3R diharapkan berperan menjaga keberlangsungan proses pengolahan, sedangkan BUMDes Bahtera Berkah Sejahtera mendorong hilirisasi agar produk berupa cacahan plastik, maggot, dan kasgot memiliki pasar.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya menghasilkan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga membuka peluang ekonomi sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha masyarakat desa.