10 Agustus 2026

PKKMB Raja Brawijaya 2026 Tekankan Kesehatan Mental, Inklusivitas, dan Literasi AI

PKKMB Raja Brawijaya 2026 Tekankan Kesehatan Mental, Inklusivitas, dan Literasi AI
Konferensi pers PKKMB Raja Brawijaya

Bagikan :

Reportasemalang – Universitas Brawijaya (UB) kembali menyambut ribuan mahasiswa baru melalui rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Raja Brawijaya 2026.

Tahun ini, PKKMB Raja Brawijaya mengusung tema “Gelora Brawijaya: Membentuk Generasi Transformatif yang Inklusif, Inovatif, Berwawasan Global dan Berkelanjutan untuk Indonesia Emas 2045.”

Rektor UB Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc. mengatakan, PKKMB tahun ini tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan lingkungan akademik dan kehidupan kampus, tetapi juga membekali mahasiswa baru dengan berbagai kemampuan menghadapi tantangan masa depan.

Salah satu perhatian utama UB adalah persoalan kesehatan mental mahasiswa. Menurut Widodo, skrining kesehatan mental bahkan telah dilakukan sejak proses daftar ulang mahasiswa baru.

“Banyak kegiatan tahun ini yang lebih kami fokuskan untuk membekali anak-anak baru. Salah satunya terkait isu kesehatan mental. Saat daftar ulang dan mengambil ospek, mahasiswa baru juga mengikuti skrining kesehatan mental,” ujar Widodo.

Selain kesehatan mental, UB juga memperkuat kampanye antikekerasan, termasuk pencegahan kekerasan seksual. Budaya kampus yang inklusif juga menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan kepada mahasiswa baru.

Widodo menilai mahasiswa UB perlu memiliki perspektif global karena mereka merupakan bagian dari masyarakat dunia.

“Kenapa kami ajak anak-anak melihat teman-temannya dari berbagai negara? Karena kami ingin mereka menyadari bahwa kita menjadi bagian dari warga global atau global citizenship,” katanya.

PKKMB Raja Brawijaya 2026 Tekankan Kesehatan Mental, Inklusivitas, dan Literasi AI
Rektor UB Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc.

Dorong Mahasiswa Melek AI

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, UB juga mendorong mahasiswa baru untuk mampu memanfaatkan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) secara kreatif dan produktif.

Menurut Widodo, AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menggunakannya sebagai sarana mempercepat pembelajaran dan pengembangan pengetahuan.

“AI ini sudah mengakar di kehidupan kita. Kita harus memanfaatkan AI untuk mempercepat proses pembelajaran dan efisiensi dalam pengembangan pengetahuan,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Direktorat Kemahasiswaan UB Dr. Sujarwo, S.P., M.P. menjelaskan, perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa telah dilakukan secara berkelanjutan.

UB telah memiliki rangkaian data hasil skrining kesehatan mental mahasiswa sejak 2023. Skrining pada 2023 dilakukan terhadap mahasiswa semester lima, kemudian pada 2024 dan 2025 dilakukan terhadap mahasiswa baru, dan dilanjutkan kembali pada 2026.

“Jadi kita punya seri data. Dari sisi pengelolaan basis data, kita bisa mengetahui bagaimana kondisi mental adik-adik mahasiswa. Kami sangat konsen dengan bagaimana membangun mental yang sehat bagi mahasiswa,” jelas Sujarwo.

Menurutnya, UB membangun ekosistem pendampingan yang melibatkan berbagai pihak. Di antaranya melalui Unit Layanan Terpadu Konseling, sejumlah layanan di tingkat fakultas, konselor sebaya, dosen pembimbing akademik, hingga tenaga kependidikan.

Pendampingan tersebut, kata Sujarwo, harus dilakukan secara tepat agar mahasiswa yang mengalami persoalan psikologis tidak justru mendapatkan stigma.

“Kalau ada kesulitan psikologis, kita dampingi, bukan kemudian melakukan stereotip. Itu yang harus kita eliminasi,” tegasnya.

UB juga terus memperkuat sosialisasi berbagai layanan pendampingan mahasiswa. Dari sisi regulasi, universitas telah memiliki aturan terkait etika dan sanksi bagi pelanggaran.

Sujarwo menambahkan, hasil skrining kesehatan mental mahasiswa tidak dapat langsung dipublikasikan karena masih harus melalui proses pengolahan. Namun, hasil tersebut menjadi bahan bagi pimpinan universitas untuk meningkatkan kesadaran, pencegahan, dan mitigasi persoalan kesehatan mental.

Bullying Didorong hingga Level Eliminasi

Dalam pelaksanaan PKKMB Raja Brawijaya 2026, UB juga memberikan perhatian serius terhadap potensi perundungan (bullying) terhadap mahasiswa baru.

Sujarwo mengatakan, mahasiswa yang terlibat dalam kepanitiaan memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan manajerial. Namun, seluruh proses tersebut harus tetap berada dalam ekosistem kampus yang aman dan sehat.

“Zaman sekarang, zaman AI dan media sosial yang kompleksitasnya semakin tinggi, bullying sudah harus kita reduksi sampai level eliminasi bagi mahasiswa baru,” katanya.

Ia menegaskan, pendekatan yang dikembangkan UB bukanlah tekanan terhadap mahasiswa baru, melainkan penguatan dan keterlibatan.

“Kita ingin ada encouraging, penguatan, dan engagement. Ekspektasinya tinggi agar mereka mampu menghadapi masa depan melalui pembelajaran di Universitas Brawijaya,” ujarnya.

Sujarwo juga mengapresiasi mahasiswa yang terlibat sebagai panitia PKKMB. Menurutnya, kepanitiaan menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan manajerial dan kerja sama tim.

Ia menilai koordinasi antara panitia mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, pimpinan universitas, hingga pihak eksternal berjalan semakin solid.

Mobilitas PKKMB Dikawal Aparat

Wakil Rektor I UB Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P. mengatakan, universitas juga memastikan aspek mobilitas dan keamanan selama pelaksanaan PKKMB berjalan dengan baik.

UB menerapkan pola pelaksanaan secara hibrida serta melakukan koordinasi intensif dengan kepolisian, unsur keamanan, dan Koramil.

“Kita tahu bahwa UB tetap konsen agar pelaksanaan PKKMB berjalan dengan sangat baik. Karena itu, pola hibrida kita lakukan dan koordinasi intensif dengan Polri, keamanan, serta Koramil,” kata Imam.

Ia mengakui pada pelaksanaan hari pertama terdapat kepadatan di sejumlah titik. Namun, kondisi tersebut terus dipantau sehingga kegiatan dapat berjalan lancar.

Selain itu, sejumlah tokoh nasional dijadwalkan hadir dalam rangkaian PKKMB Raja Brawijaya 2026. Di antaranya Ketua Mahkamah Agung, Direktur Utama BPJS, Sekretaris Jenderal Kementerian, staf ahli Wakil Presiden bidang pendidikan, serta pimpinan Pegadaian.

Para tokoh tersebut akan memberikan wawasan kepada mahasiswa baru, termasuk mengenai kepemimpinan, pendidikan, serta literasi keuangan.

Rangkaian PKKMB tingkat universitas berlangsung selama tiga hari. Selanjutnya, pada 13–15 Agustus 2026, kegiatan dilanjutkan di masing-masing fakultas.

Melalui PKKMB Raja Brawijaya 2026, UB berharap mahasiswa baru tidak sekadar mengenal kehidupan kampus, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang sehat secara mental, inklusif, adaptif terhadap teknologi, memiliki wawasan global, serta siap berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.