12 Juni 2026

Wamen Haji Evaluasi Layanan Armuzna dan Kesehatan Jamaah

Wamen Haji Evaluasi Layanan Armuzna dan Kesehatan Jamaah
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak

Bagikan :

Reportasemalang – Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan sejumlah evaluasi penting dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Evaluasi tersebut mencakup pelayanan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), hingga persoalan kesehatan jamaah yang masih menjadi perhatian utama pemerintah.

Dahnil mengatakan, Kementerian Haji dan Umrah akan memperbaiki pola penugasan petugas haji agar pelayanan terhadap jamaah, khususnya saat fase Armuzna, dapat berjalan lebih optimal.

“Kami pasti akan memperbaiki pola penugasan petugas di sana agar bisa melayani jamaah lebih intens. Karena biasanya jamaah paling membutuhkan pendampingan saat di Armuzna,” ujarnya.

Menurutnya, fase Armuzna menjadi titik paling krusial dalam rangkaian ibadah haji karena kondisi fisik jamaah umumnya mulai menurun akibat kepadatan aktivitas dan cuaca ekstrem.

Selain pelayanan, Dahnil juga menyoroti isu kesehatan jamaah haji, khususnya tingginya angka kematian jamaah asal Jawa Timur.

Ia menyebut, jumlah jamaah wafat asal Jawa Timur memang mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Namun demikian, angkanya masih menjadi yang tertinggi secara nasional.

“Kalau tahun lalu pada tanggal yang sama jumlah jamaah wafat hampir 104 orang. Tahun ini per tanggal yang sama tercatat 65 jamaah wafat dari Jawa Timur,” katanya.

Meski terjadi penurunan signifikan, pemerintah tetap menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan evaluasi serius untuk penyelenggaraan haji tahun depan.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah berencana memperketat syarat kesehatan bagi calon jamaah haji tahun 2027. Kebijakan ini dilakukan untuk meminimalkan risiko kesehatan selama pelaksanaan ibadah haji.

Dahnil menegaskan, calon jamaah dengan penyakit komorbid berat atau kondisi kesehatan tertentu kemungkinan tidak akan diberangkatkan.

“Jangan sampai mereka yang berpotensi memiliki banyak komorbid masih bisa diberangkatkan. Tahun depan kami akan lebih selektif dan lebih ketat,” tegasnya.

Beberapa kondisi kesehatan yang menjadi perhatian antara lain demensia, gangguan ginjal, tuberkulosis (TBC), serta penyakit lain yang dinilai berisiko tinggi saat menjalankan ibadah haji.