14 Agustus 2026

UB Latih UMKM dan Kelompok Tani Pujon Ubah Limbah Cair Apel Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Pemanfaatan limbah pertanian

Bagikan :

Reportasemalang – Limbah cair dari pengolahan apel yang selama ini berpotensi mencemari lingkungan mulai dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah. Tim pengabdian kepada masyarakat (PkM) Universitas Brawijaya (UB) melatih pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta gabungan kelompok tani (gapoktan) di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, mengolah limbah cair apel menjadi minuman fermentasi, cuka apel, dan biopestisida ramah lingkungan.

Pelatihan bertajuk “Pemanfaatan Limbah Pertanian (Limbah Cair Apel) sebagai Produk Minuman Fermentasi dan Biopestisida” itu digelar di Kantor Kecamatan Pujon, 25 Juli 2026. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama tim PkM UB dengan UMKM Della Muda dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pujon.

Sebanyak 34 peserta mengikuti kegiatan yang dipimpin Tri Ardyati, M.Agr., Ph.D., dosen Departemen Biologi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) UB.

UMKM Della Muda selama ini dikenal mengolah berbagai produk pangan berbasis hasil pertanian lokal Pujon, salah satunya carang apel. Dalam proses produksinya, dihasilkan limbah cair berupa sari apel yang masih mengandung gula, asam organik, dan berbagai nutrien.

Selama ini, limbah tersebut hanya ditampung dalam tong. Jika tidak dikelola dengan baik dan dibuang langsung ke lingkungan, limbah cair apel berpotensi menimbulkan pencemaran.

Ketua Departemen Biologi FSTeM UB membuka kegiatan tersebut. Apresiasi juga disampaikan perwakilan Kecamatan Pujon, Damayanti, atas kontribusi UB dalam mendukung kemajuan masyarakat petani di wilayah tersebut.

Pelatihan berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama ditujukan bagi ibu-ibu anggota UMKM dengan materi pemanfaatan limbah cair apel menjadi minuman fermentasi dan cuka apel.

Yoga Dwi Jatmiko, S.Si., M.App.Sc., Ph.D., menjelaskan teknik pembuatan minuman fermentasi menggunakan sari limbah apel varietas Manalagi dan Rome Beauty. Bahan tersebut difermentasi dengan menambahkan starter kefir selama dua hingga tujuh hari.

Sementara itu, Tri Ardyati memaparkan proses pembuatan cuka apel melalui dua tahapan fermentasi, yakni fermentasi alkohol dan fermentasi asam asetat. Proses tersebut memanfaatkan isolat bakteri asam asetat koleksi Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi FSTeM UB.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi. Mereka tidak hanya menanyakan proses pembuatan produk berbahan limbah apel, tetapi juga menggali peluang pemanfaatan kulit pisang dan buah-buahan lain sebagai bahan dasar cuka.

Peserta juga berdiskusi mengenai cara memperpanjang masa simpan produk minuman lidah buaya (Aloe vera) yang sebelumnya telah mereka kembangkan.

Hasil pengisian kuesioner setelah kegiatan menunjukkan peserta menilai pelatihan tersebut memberikan manfaat dan menambah pengetahuan serta keterampilan mereka dalam mengolah limbah pertanian.

Sesi kedua diperuntukkan bagi kelompok tani dengan materi pembuatan biopestisida. Materi disampaikan Prof. Amin Setyo Leksono, Ph.D., Prof. Dr. Suharjono, M.Si., dan Irfan Mustafa, S.Si., M.Si., Ph.D.

Ketiganya memiliki kepakaran di bidang pengendalian hayati, pembuatan pupuk organik cair, dan mikrobiologi lingkungan.

Dalam praktiknya, peserta diajak memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh, termasuk limbah cair apel yang telah dikumpulkan oleh penggiat UMKM selama beberapa tahun terakhir.

Pemanfaatan limbah tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi petani untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia yang harganya semakin mahal.

Bagi sejumlah peserta, pelatihan ini menjadi pengalaman baru karena sebelumnya mereka belum pernah memperoleh materi sekaligus praktik pembuatan biopestisida.

Lebih jauh, kegiatan tersebut menumbuhkan harapan petani untuk mengembalikan kejayaan apel Pujon yang pernah menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.

Melalui penerapan budidaya yang lebih berkelanjutan, penggunaan biopestisida diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas apel, menekan biaya produksi, serta memulihkan daya saing apel lokal Pujon.

Jika produktivitas dan nilai jual apel meningkat, manfaatnya diharapkan dapat bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani.

Kelancaran kegiatan turut didukung tim asisten yang terdiri atas laboran Laboratorium Mikrobiologi, satu mahasiswa magister, dan tiga mahasiswa sarjana Departemen Biologi FSTeM UB.

Program PkM tersebut juga menjadi bagian dari komitmen UB dalam mendukung pencapaian sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs).

Program ini berkaitan dengan SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas UMKM; SDG 9 melalui penerapan teknologi bioproses tepat guna; SDG 12 melalui pemanfaatan limbah agroindustri menjadi produk bernilai tambah; SDG 13 melalui pengurangan potensi pencemaran lingkungan; serta SDG 17 melalui penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, UMKM, dan kelompok tani.