Reportasemalang – Universitas Negeri Malang (UM) menambah deretan jumlah Profesor dengan mengukuhkan empat guru besar dari berbagai disiplin ilmu. Pengukuhan berlangsung di Gedung Kuliah Bersama A 19 lantai 9, Kamis (2/10/2025).
Keempat guru besar yang dikukuhkan berasal dari berbagai keilmuan yang berkontribusi signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Prof. Dr. Siti Nur Rahmah Anwar, ST., MT., Guru Besar Bidang Rekayasa Keandalan Struktur dan Material Konstruksi Berkinerja Tinggi. Ia membahas mengenai ketahanan, redundasi, daktalitas, integritas dan kemampuan sistem struktur terhadap kondisi ekstrem perubahan, atau kerusakan tidak terduga, tanpa menyebabkan kegagalan total (collapse).
Menurutnya, ketangguhan struktur dapat diupayakan melalui kualitas material, detailing elemen baja, detailing sambungan dan analisis struktur yang relevan.
“Komputasi struktur adalah jembatan penting antara teori dan desain praktis konstruksi sekaligus sebagai alat utama untuk memprediksi dan memverifikasi apakah desain konstruksi cukup robust,” jealasnya.
Sementara itu, Prof. Budi Handoyo, Guru Besar Pembelajaran Spasial Kebencanaan Fakultas Ilmu Sosial memperkenalkan konsep inovatif Disaster Spatial Learning (DSL) sebagai pendekatan terpadu untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana alam.
Ia juga menjelaskan bahwa tujuan DSL ini untuk menciptakan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis tentang bencana, tetapi juga keterampilan praktis dan kesiapsiagaan mental dalam menghadapi tantangan bencana masa depan.
“DSL menawarkan transformasi paradigma dari reaktif ke proaktif, sektoral ke integratif, lokal ke global, dan konvensional ke digital,” kata Prof. Budi.
Sedangkan, Prof. Dr. Muliadi, S.T., M. T yang dikukuhkan menjadi Guru Besar Bidang Keahlian Komunikasi Nirkabel pada Sistem Elektronika. Menurutnya, ada tiga keberagaman waktu, ruang dan frekuensi untuk membangun keberagaman sinyal.
“Hasil penelitian dipenerapan di komunikasi bergerak seluler atau satelit, jadi termasuk wifi laptop kita dilengkapi dengan antena yang banyak,” jelasnya.
Terakhir, Prof. Evi Eliyanah,S. S., M.A., Ph. D. sebagai Guru Besar dalam Kajian Budaya dan Gender. Ia menyoroti mengenai bagaimana budaya pop mulai dari film, televisi, media digital hingga literatur populer menjadi arena politik yang sahih.
“Budaya pop tidak hanya sekedar ruang hiburan. Ia adalah arena politik tempat hegemoni dan resistensi bertemu dan berkelindan, dan dalam gender menjadi titik perdebatan yang sangat penting,” kata Prof. Evi.
Menurutnya, budaya pop Indonesia dipengaruhi aspirasi dan nilai kelas menengah urban. Prof. Evi menjelaskan bahwa jatuhnya rezim Orde Baru dan krisis ekonomi Asia 1998 membuka peluang lahirnya wacana baru tentang kesetaraan gender dan relasi sosial.
“Representasi laki-laki, perempuan dan relasi keluarga dalam film maupun media digital seringkali merepresentasikan pengalaman kelas menengah, sementara suara kelas bawah jarang terwakili,” pungkasnya.