17 Mei 2026

UNESA Gaungkan “Kritis Dialogis No Anarkis”, Mahasiswa Didorong Jadi Penggerak Solusi Bangsa

UNESA Gaungkan Gerakan “Kritis Dialogis No Anarkis”, Mahasiswa Didorong Jadi Penggerak Solusi Bangsa
Pemaparan Materi dan Sesi FGD Oleh Hikam Hulwanullah

Bagikan :

Reportasemalang – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menegaskan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang kritis, dialogis, dan damai melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Merajut Nalar dan Nurani Mahasiswa untuk Bangsa: Kritis Dialogis No Anarkis”, Sabtu (16/5/2026).

Kegiatan yang digelar di Auditorium Fakultas Hukum UNESA lantai 2 itu diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNESA dan diikuti pengurus BEM fakultas, aktivis mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, hingga peserta lintas fakultas.

FGD tersebut menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan akademisi, yakni Pengamat Intelijen dan Keamanan sekaligus Direktur INSS Rizal Wahid, Ahli Menko Polkam RI Mufti Makarim, Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kota Surabaya Drs. Imam Syafi’i, S.H., M.H., serta Dosen Fakultas Hukum UNESA Hikam Hulwanullah, S.H., M.H., LL.M. Diskusi dipandu moderator Jauhar Wahyuni, M.I.Kom.

Kegiatan dibuka langsung oleh Kasubdit Ormawa UNESA, Tutur Jatmiko. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kampus sebagai ruang dialog yang sehat dan bermartabat.

“Kita tidak hanya berproses untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga semoga menjadi amal kebaikan untuk semuanya. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, kegiatan ini saya nyatakan dibuka,” ujarnya.

Ia berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat dan bangsa.

“Saya berharap acara ini menghadirkan banyak diskusi yang tentunya bisa membawa perubahan. Permasalahan hukum dan sosial harus menjadi perhatian bersama. Harapannya ada ide-ide yang bisa dibawa ke level lebih tinggi untuk menjadikan Indonesia lebih baik,” katanya.

Menurutnya, perbedaan pendapat di kalangan mahasiswa merupakan bagian penting dari dinamika demokrasi kampus selama disampaikan secara santun dan intelektual.

“Kalau persinggungan ide mungkin sering terjadi dan itu positif. Tapi kalau persinggungan fisik, alhamdulillah di UNESA masih nyaman. Setelah debat biasanya tetap ngopi bareng,” ungkapnya.

Pemaparan dan sesi FGD oleh Rizal Wahid

Sementara itu, Dosen Fakultas Hukum UNESA, Hikam Hulwanullah, menilai forum seperti ini menjadi kebutuhan akademik sekaligus kebutuhan masyarakat karena membuka ruang bertukar pikiran secara elegan dan profesional.

“Acara hari ini luar biasa keren. Ini kebutuhan akademik dan kebutuhan rakyat Indonesia pada umumnya karena kita mendapat forum untuk sharing dan bertukar pikiran. Semoga kegiatan seperti ini konsisten dan terus menjadi jembatan bagi mahasiswa menyampaikan pendapat secara elegan dan profesional,” ujarnya.

Menurut Hikam, mahasiswa harus mampu menangkap berbagai persoalan di masyarakat dan menyampaikannya dalam bentuk gagasan yang solutif serta argumentatif.

Hal senada disampaikan Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi’i. Ia berharap mahasiswa semakin memahami isu-isu sosial sebagai bagian dari peran mereka sebagai agent of change.

“Mahasiswa harus memahami isu-isu yang berkembang di bawah karena mereka adalah agent of change. Kalau nanti mereka menjadi anggota DPRD, insyaallah bisa lebih baik karena sejak mahasiswa sudah terbiasa berdiskusi, menyampaikan gagasan, dan bertemu narasumber berpengalaman,” katanya.

Ia menilai forum seperti ini menjadi ruang latihan penting bagi mahasiswa untuk meningkatkan keberanian, kemampuan komunikasi, dan sensitivitas sosial.

Di sisi lain, Ahli Menko Polkam RI, Mufti Makarim, menekankan pentingnya tindak lanjut atas berbagai rekomendasi yang dihasilkan mahasiswa dalam forum tersebut.

“Yang perlu dipastikan adalah rekomendasi-rekomendasi yang dibuat teman-teman ini benar-benar menjadi dokumen yang bisa dikompilasi dan disampaikan sesuai tujuannya, baik ke pemerintah daerah, kementerian, maupun presiden,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kemampuan mahasiswa dalam merumuskan ide dan persoalan yang berkembang di masyarakat meski masih perlu diperkuat dengan data dan landasan akademik.

“So far teman-teman sudah bisa merumuskan ide dan itu sudah sangat bagus. Artinya hari ini ada output konkret yang bisa ditindaklanjuti dalam studi maupun kegiatan organisasi mahasiswa,” tambahnya.

Sementara itu, Rizal Wahid menegaskan bahwa FGD tersebut bukan sekadar seminar biasa, melainkan ruang lahirnya gagasan kebijakan yang dapat diadvokasikan mahasiswa.

“Ini bukan sekadar seminar. Harapannya apa yang mereka rancang benar-benar menjadi policy brief yang hidup dan bisa dipegang,” ujarnya.

Menurut Rizal, mahasiswa berhasil menangkap sedikitnya empat hingga lima persoalan strategis nasional, dengan dua hingga tiga isu yang dinilai sangat potensial untuk diperjuangkan melalui jalur advokasi kebijakan.

Ia mencontohkan salah satu pembahasan menarik dalam forum tersebut terkait konsep KDMP yang dinilai memiliki peluang menjadi tawaran kebijakan baru bagi pemangku kepentingan pemerintah.

“Mahasiswa jangan hanya menawarkan platform atau gagasan, tetapi juga regulasi dan langkah konkret agar kebijakan itu benar-benar bisa direalisasikan,” tegasnya.

Melalui forum “Kritis Dialogis No Anarkis”, UNESA kembali menunjukkan perannya sebagai ruang intelektual yang mendorong mahasiswa aktif berpikir kritis, menyampaikan pendapat secara damai, serta menghadirkan solusi nyata bagi persoalan bangsa.