Reportasemalang – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Refleksi Dan Orasi Kebangsaan bertajuk “Merayakan Ruang Akademik, Merawat Republik”, Senin (4/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Outdoor Learning Space (OLS) ini melibatkan guru besar, dosen, hingga mahasiswa sebagai ruang terbuka untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan refleksi terhadap kondisi kebangsaan.
Kepala UPT Laboratorium Pancasila UM, Dr. Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan menghidupkan kembali peran ruang akademik sebagai wadah refleksi kritis terhadap dinamika sosial dan politik.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin merayakan ruang akademik. Kampus tidak hanya fokus pada urusan internal, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk merespons situasi kebangsaan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kegiatan ini juga bertujuan merawat republik sekaligus menjaga nalar publik agar tetap sehat. Menurutnya, akademisi memiliki peran strategis dalam mengawal arah kebijakan publik agar tetap berada di jalur yang tepat.
Dalam pelaksanaannya, mimbar orasi dibuka secara bebas tanpa intervensi. Guru besar, dosen, hingga mahasiswa diberi kesempatan yang sama untuk menyampaikan pandangan secara ilmiah dan bertanggung jawab.
Sejumlah isu mengemuka dalam forum tersebut, mulai dari pentingnya menjaga ideologi Pancasila, kondisi ekonomi nasional, hingga kritik terhadap sistem pendidikan. Kritik tidak hanya ditujukan kepada pemerintah, tetapi juga kepada internal kampus.
Mahasiswa dan perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) turut menyampaikan evaluasi terhadap kebijakan kampus serta sistem pendidikan secara umum.
“Kami sangat terbuka terhadap kritik. Setiap orang berhak menyampaikan aspirasi dan pandangannya secara ilmiah dan bertanggung jawab,” kata Akhirul.

Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan agenda perdana UPT Laboratorium Pancasila UM dan direncanakan menjadi program tahunan. Diharapkan, suara akademisi UM dapat lebih terdengar luas di ruang publik, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Selain orasi kebangsaan, acara juga diisi dengan penampilan puisi, musik, dan ekspresi seni mahasiswa sebagai bagian dari refleksi yang lebih humanis.
Akhirul menjelaskan, hasil dari kegiatan ini akan dirumuskan menjadi pandangan umum yang akan disebarluaskan melalui media agar dapat menjangkau masyarakat luas.
“Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan politik sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan,” tegasnya.
Ia juga menilai Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan serius, mulai dari persoalan ekonomi hingga kebebasan pers. Oleh karena itu, penting menjaga sistem demokrasi yang berpijak pada kedaulatan rakyat.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Karena itu, suara akademisi penting untuk terus dihadirkan sebagai bagian dari kontrol sosial,” pungkasnya.