28 Juli 2026

Tim Dosen FSTeM UB Berdayakan Warga Banyuwangi, Minyak Jelantah Disulap Jadi Sabun Bernilai Ekonomi

Tim Dosen FSTeM UB Berdayakan Warga Banyuwangi
Proses pembuatan sabun dari minyak jelantah

Bagikan :

Reportasemalang – Tim dosen Departemen Kimia, Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) memberikan pelatihan kepada masyarakat Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, untuk mengolah limbah minyak jelantah menjadi sabun ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang berlangsung di Kantor Desa Kedungrejo pada Jumat (17/7/2026) itu diikuti 37 peserta yang terdiri atas kader PKK, tokoh masyarakat, serta pelaku usaha mikro setempat.

Program bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Inovasi Pengolahan Minyak Jelantah menjadi Sabun Ramah Lingkungan dan Bernilai Ekonomi” dipimpin oleh Dr. Ulfa Andayani, S.Si., M.Si. bersama tim dosen Kimia Analitik, yakni Prof. Dr. Ani Mulyasuryani, M.S., Prof. Akhmad Sabarudin, Dr.Sc., dan Dr. Qonitah Fardiyah, S.Si., M.Si. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Program Studi S1 Kimia UB sebagai bagian dari implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Desa Kedungrejo dikenal sebagai salah satu kawasan pesisir dengan aktivitas perikanan dan pengolahan hasil laut yang cukup tinggi. Aktivitas tersebut menghasilkan limbah minyak goreng bekas atau minyak jelantah dalam jumlah besar, yang diperkirakan mencapai 6.000 hingga 7.500 liter setiap bulan.

Selama ini, sebagian masyarakat masih membuang minyak jelantah ke saluran air maupun tanah, bahkan menggunakannya kembali untuk menggoreng makanan. Kebiasaan tersebut dinilai berpotensi membahayakan kesehatan sekaligus mencemari lingkungan.

Peserta pelatihan pembuatan sabun dari minyak jelantah

Kepala Desa Kedungrejo, Ahmad Zaiho, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam pemaparannya, Dr. Ulfa Andayani menjelaskan bahwa minyak jelantah sebenarnya masih dapat dimanfaatkan setelah melalui proses pemurnian yang tepat.

“Melalui penerapan teknologi tepat guna dan proses kimia sederhana, minyak jelantah dapat diolah menjadi produk pembersih yang aman serta memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Tim pengabdian juga memberikan edukasi mengenai dampak negatif penggunaan minyak goreng secara berulang. Dari sisi kimia, pemanasan berulang dapat memicu proses oksidasi, hidrolisis, dan polimerisasi yang menghasilkan senyawa berbahaya seperti aldehid, peroksida, dan radikal bebas.

Senyawa tersebut berisiko meningkatkan berbagai penyakit degeneratif, mulai dari kolesterol tinggi, penyakit jantung, hingga kanker. Selain itu, pembuangan minyak jelantah secara sembarangan juga dapat menyumbat saluran air dan merusak ekosistem perairan karena menghambat difusi oksigen.

Sebagai solusi, peserta dikenalkan pada teknik pemurnian minyak jelantah menggunakan bleaching earth (bentonit) maupun arang aktif. Melalui proses pemanasan dan penyaringan sederhana, minyak bekas menjadi lebih jernih, berkurang baunya, dan layak dijadikan bahan baku sabun.

Antusiasme peserta terlihat saat mengikuti praktik pembuatan sabun menggunakan metode saponifikasi, yaitu reaksi antara minyak dan basa kuat.

Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk memproduksi dua jenis sabun, yakni sabun batang dan sabun cair. Mereka didampingi langsung oleh dosen dan mahasiswa mulai dari proses pencampuran bahan, pengadukan hingga pencetakan produk.

Selain menjadi sarana pemberdayaan masyarakat, kegiatan ini juga memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa melalui keterlibatan dalam uji laboratorium, pendampingan praktik, hingga evaluasi hasil kegiatan sebagai bagian dari implementasi MBKM.

Tim pengabdian berharap program ini tidak berhenti pada pelatihan semata. Pendampingan berkelanjutan akan dilakukan agar masyarakat mampu mengembangkan usaha berbasis pengolahan minyak jelantah sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan di kawasan pesisir Banyuwangi.

Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDGs 14 (Ekosistem Laut), serta mendukung SDGs 4, SDGs 9, dan SDGs 17 melalui penguatan pendidikan, inovasi teknologi tepat guna, dan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, serta masyarakat.