16 April 2026

Tegaskan Kontribusi Ilmu untuk SDGs dan Tantangan Global, UM Kukuhkan Lima Guru Besar Baru

Tegaskan Kontribusi Ilmu untuk SDGs dan Tantangan Global, UM Kukuhkan Lima Guru Besar Baru
Sidang Terbuka UM

Bagikan :

Reportasemalang – Lima Guru Besar Baru Universitas Negeri Malang (UM) bakal dikukuhkan secara resmi, Kamis (5/2/2026). Mereka berasal dari Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Pengukuhan Guru Besar ini menjadi bukti nyata kontribusi UM terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan global sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)

Prof. Ir. Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.D.

Merupakan Guru Besar Fakultas Teknik Bidang Rekayasa Nanomaterial. Dalam kesempatan tersebut, Prof Poppy pidato pengukuhan terkait, “Size Does Matter: Merancang Fungsi Material dari Skala Nano”.

Dijelaskan Prof Poppy, rekayasa Nanomaterial adalah disiplin yang merancang fungsi material melalui pengendalian struktur, kimia permukaan, dan interaksi antarmuka pada skala mikro–nano. Sehingga kinerja yang dihasilkan bukan sekadar “lebih kecil” atau “lebih halus”, tetapi lebih terarah, terukur, dan dapat direplikasi pada kondisi kerja nyata.

Menurutnya, saat struktur direkayasa hingga nano, rasio luas permukaan/volume meningkat tajam, membuat fenomena yang sebelumnya dianggap sekunder, seperti energi permukaan, gaya antarmolekular, adsorpsi, keterbasahan, hingga transport massa dan panas pada lapisan tipis bergeser menjadi faktor penentu performa.

“Jadi rekayasa nanomaterial yang matang bukan sekadar memperkecil ukuran partikel, melainkan membangun aturan desain lintas aplikasi. Situs aktif harus dirancang (nanokatalis), penguatan hanya nyata bila dispersi–interphase terkendali (nano-reinforced), fungsi lahir di film dan tribofilm (nanolubricant), serta performa termal adalah optimasi multi-objektif (nanofluids),” ungkapnya.

“Pada ujungnya, semua kembali ke satu kesimpulan praktis, fungsi lahir dari antarmuka, antarmuka hanya bekerja bila stabil, dan stabilitas hanya bermakna bila diterjemahkan menjadi kinerja sistem yang terukur,” tandasnya.

Prof. Dr.Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd

Merupakan Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan Bidang Kependidikan dan Pembelajaran Vokasional Bidang Busana. Dalam pidato pengukuhannnya, Ia akan menyampaikan tentang Mempertahankan makna filosofi motif batik dengan teknik grading

Menurut Prof Supadmi, teknik grading sudah dimanfaatkan dan diajarkan di pendidikan, namun grading lazim digunakan untuk menggrading pola di industri.

Selama ini pembuatan Kemeja batik bermotif besar hanya bisa dikerjakan secara konstruksi. Teknik konstruksi ini hanya bisa dikerjakan satuan tidak bisa dilakukan Secara masal. Oleh sebab itu permasalahan bullying dan body shaming yang berkaitan dengan batik dan bentuk tubuh ini perlu dicarikan solusi.

“Sudah menjadi tugas profesional dosen melihat permasalahan dan mencari solusi melalui riset. Untuk mempertahankan makna filosofis motif batik khusus dan untuk melawan body shaming di industri Fashion dilakukan penelitian,” ujarnya.

Penelitian yang melibatkan 349 dari UM, UNESA, dan UPI ini menerapkan sampel bertujuan, menggabungkan proses kreasi dan SEM-PLS untuk menganalisis teknik grading pola, minat penjahit, dan teknik grading motif.

“Pendekatan SEM-PLS digunakan untuk memeriksa korelasi antara variabel eksogen (X) dan variabel endogen (Y1 dan Y2), dengan penekanan khusus pada faktor-faktor yang memengaruhi keinginan penjahit untuk menerapkan proses grading pola dan motif,” ucapnya.

Penerapan grading merupakan hal yang memberdayakan dan menguntungkan secara profesional bagi pelaku fashion. Implementasi solusi desain inklusif, yang didasarkan pada ketelitian teknologi dan kesadaran budaya, secara efektif mengatasi rasa malu terhadap bentuk tubuh.

Prof. Dr. Hartatiek, M.Si.

Merupakan Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Bidang Biomaterial. Ia akan menyampaikan pidato pengukuhan berjudul Nano Hidroksiapatit dari Batu Gamping: Untuk Rekayasa Scaffold Nanofiber Jaringan Tulang.

Dijelaskan Prof Hartatiek, Biomaterial adalah substansi atau material yang dirancang untuk berinteraksi dengan sistem biologis (tubuh makhluk hidup), baik untuk tujuan terapeutik (mengobati) maupun diagnostik. Material ini bisa dimasukkan ke dalam tubuh manusia dalam jangka waktu tertentu tanpa menimbulkan reaksi berbahaya, guna menggantikan atau memperbaiki fungsi organ yang rusak.

“Syarat yang harus dipenuhi sebagai biomaterial adalah bersifat biokompatibel, artinya material tersebut harus diterima oleh tubuh tanpa menyebabkan keracunan (toksisitas), peradangan hebat, penolakan oleh sistem imun dan tidak karsiogenik,” jelasnya.

Batu gamping (limestone) atau yang sering dikenal masyarakat sebagai batu kapur, adalah jenis batuan sedimen yang terbentuk terutama di lingkungan perairan laut dangkal. Batuan ini sangat penting dalam biomaterial karena batu gamping merupakan sumber kalsium alami utama untuk mensintesis Hidroksiapatit.

“Khusus untuk batu gamping Druju Malang mengandung unsur kalsium yang sangat tinggi yaitu sebesar 99,14% sehingga sangat potensial untuk mensintesis HAp,” tandasnya.

Prof. Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D.

Merupakan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial Bidang Geografi Kebencanaan dan Lingkungan
Prof Syamsul menyampaikan pidato pengukuhan terkait “Paradigma Baru Geografi Kebencanaan: Implementasi Human-Volcano (Hu-Vo) System Model Dalam Pengelolaan Risiko Bencana di Wilayah Gunung Api Indonesia.

Dalam pidatonya, Prof. Syamsul Bachri akan memaparkan hasil implementasi model Hu-Vo pada sejumlah gunung api aktif di Indonesia, antara lain Gunung Bromo, Merapi, Kelud, Agung, Ijen, Raung, dan Semeru. Melalui studi kasus tersebut, ia menunjukkan bahwa proses vulkanik tidak hanya menghasilkan dampak destruktif seperti awan panas, lahar, dan hujan abu, tetapi juga memunculkan manfaat ekologis, ekonomi, sosial, dan kultural yang dinilai positif oleh masyarakat setempat, seperti kesuburan tanah, peluang pariwisata, penguatan identitas budaya, serta meningkatnya kohesi dan resiliensi sosial.

“Bagi masyarakat Tengger di Bromo, erupsi tidak selalu dimaknai sebagai bencana. Ia juga dipahami sebagai bagian dari keseimbangan kosmik yang justru memperkuat solidaritas, pengetahuan lokal, dan keberlanjutan penghidupan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Syamsul Bachri menekankan bahwa pendekatan geografi kebencanaan yang holistik harus mengintegrasikan dimensi fisik, sosial, budaya, dan spiritual secara simultan.

“Dalam konteks ini, kebijakan pengelolaan risiko bencana gunung api perlu dibangun melalui pemetaan risiko holistik, penguatan kapasitas lokal, komunikasi risiko dua arah, serta manajemen bencana berbasis komunitas,” ucapnya.

Prof. Dr. Ahmad Samawi, MHum

Merupakan Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan. Dalam pengukuhan tersebut, Prof Samawi menyampaikan pidato berjudul “Sintesis Filosofis, Ilmiah, Religius dan Kultural Manajemen Lembaga PAUD Unggulan”.

Dijelaskan Prof Samawi, Ide komprehensif manajemen PAUD Unggulan didasarkan atas sebuah refleksi filosofis dan ilmiah – yang berangkat dari kepedulian mendalam terhadap pembangunan manusia Indonesia sejak usia paling dini.

“Sebab, apabila kita bertanya di manakah masa depan bangsa ini mulai dibentuk? Pendidikan Anak Usia Dini, atau PAUD, bukan sekadar jenjang awal dalam sistem pendidikan formal. Ia adalah fondasi. Ia adalah titik mula. Ia adalah ruang pertama tempat manusia belajar mengenal dirinya, mengenal sesamanya, dan mengenal dunia di sekitarnya,” sebutnya.

“Pada fase inilah pandangan hidup mulai disemai, nilai-nilai mulai diperkenalkan, dan karakter dasar manusia Indonesia mulai dibentuk,” pungkasnya.