10 Juni 2026

Profesor Kimia FMIPA UB Kembangkan Alat Deteksi Dini Penyakit Ginjal Portabel dan Murah

Profesor Kimia FMIPA UB Kembangkan Alat Deteksi Dini Penyakit Ginjal Portabel dan Murah
Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc., (kanan) memaparkan materi Alat Deteksi Dini Penyakit Ginjal Portabel.

Bagikan :

Reportasemalang – Guru Besar Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc., mengembangkan inovasi alat deteksi dini penyakit ginjal yang lebih cepat, murah, dan portabel. Inovasi tersebut dipaparkan dalam kegiatan NGOPI SAM yang digelar FMIPA UB, Jumat (13/3/2026).

Dalam pemaparannya, Prof. Sabarudin menjelaskan, penyakit ginjal menjadi persoalan kesehatan serius yang perlu mendapat perhatian. Karena ginjal merupakan organ vital yang berfungsi menyaring limbah dari darah. Jika fungsi ginjal menurun, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis hingga gagal ginjal.

“Di Indonesia jumlah pasien gagal ginjal yang harus menjalani hemodialisis terus meningkat. Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan jumlah penderita penyakit ginjal kronis meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2013,” ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit ginjal adalah keterbatasan deteksi dini. Banyak pasien baru menyadari penyakitnya setelah kondisinya sudah cukup parah.

“Jika penyakit ginjal dapat diketahui lebih awal, maka perkembangannya bisa diperlambat bahkan dicegah,” kata dia.

Berangkat dari persoalan tersebut, sejak 2018 tim peneliti yang dipimpin Prof. Sabarudin mengembangkan alat deteksi dini gangguan ginjal yang sederhana dan mudah digunakan. Alat ini bekerja dengan mengukur rasio Albumin-Kreatinin (ACR) dalam urin yang menjadi indikator awal gangguan fungsi ginjal.

Konsep penggunaannya disebut mirip dengan alat tes kehamilan, yakni menggunakan sampel urin dan dapat digunakan secara praktis tanpa memerlukan prosedur laboratorium yang rumit.

“Metode pemeriksaan di rumah sakit memang sangat akurat, tetapi alatnya mahal, besar, dan membutuhkan tenaga ahli. Karena itu kami mencoba membuat alat yang lebih sederhana dan bisa digunakan di fasilitas kesehatan primer,” jelasnya.

Inovasi tersebut memanfaatkan teknologi microfluidic paper-based analytical devices (µPADs), yaitu alat berbasis kertas dengan saluran mikro yang dapat mengalirkan sampel urin dan bereaksi dengan bahan kimia tertentu. Hasil pemeriksaan dapat dilihat dari perubahan warna atau jarak rambatan warna pada kertas.

Untuk meningkatkan akurasi, tim peneliti menambahkan partikel emas berukuran nano (AuNPs) ke dalam reagen kimia. Partikel ini membantu menghasilkan batas warna yang lebih tegas sehingga memudahkan pembacaan hasil.

Selain itu, mereka juga merancang desain baru dengan menambahkan konektor tiga dimensi yang mengatur aliran sampel urin agar tidak terjadi pencampuran reagen yang tidak diinginkan. Inovasi ini kemudian dinamakan 3D-µPADs.

“Desain ini membuat reaksi kimia lebih stabil sehingga hasil pengukuran menjadi lebih presisi,” ungkap Prof. Sabarudin.

Dalam uji coba terhadap 100 sampel urin pasien di RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang, alat tersebut menunjukkan tingkat akurasi mencapai 93,48 persen. Angka tersebut dinilai sebanding dengan alat pemeriksaan standar yang biasa digunakan di laboratorium rumah sakit.

Ke depan, tim peneliti juga mengembangkan integrasi teknologi kecerdasan buatan atau machine learning untuk membantu membaca hasil pemeriksaan secara otomatis. Teknologi ini diharapkan dapat mengurangi subjektivitas dalam interpretasi hasil tes.

“Dengan bantuan machine learning, sistem dapat belajar dari ribuan data gambar hasil tes sehingga pembacaan hasil menjadi lebih objektif dan konsisten,” jelasnya.

Menurutnya, inovasi ini memiliki tiga keunggulan utama, yaitu hasil yang stabil dan akurat, interpretasi yang lebih objektif melalui kecerdasan buatan, serta bentuk alat yang praktis dan portabel.

Ia berharap pengembangan teknologi tersebut dapat menjadi bagian dari transformasi layanan kesehatan yang lebih preventif dan presisi.

“Harapannya, alat ini tidak hanya menjadi sarana skrining penyakit ginjal, tetapi juga membantu masyarakat mendapatkan deteksi dini yang lebih mudah dan terjangkau,” pungkasnya.