Reportasemalang – Omah Terapi Autis (OTA) memperluas layanan dengan membuka cabang baru di Bululawang, Kabupaten Malang, Kamis (28/8/2025). Cabang ini menjadi pusat terapi kedua setelah OTA pertama berdiri di Sengkaling pada 2022.
OTA sendiri merupakan lembaga terapi khusus untuk anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dari keluarga kurang mampu. OTA hadir dengan dukungan penuh dari Malang Autism Center (MAC), yang sejak awal berdiri berkomitmen menghadirkan layanan terapi berbasis Applied Behavior Analysis (ABA) intensif dengan prinsip “bayar semampunya”.
Pendiri Malang Autism Center, M. Cahyadi, menjelaskan, kehadiran cabang baru OTA ini berkat dukungan donasi masyarakat. Sebelumnya, sejak Juli 2022 hingga Januari 2025, keterbatasan dana membuat OTA hanya mampu menjalankan satu cabang. Namun pada Februari 2025, sejumlah donatur mulai membantu sehingga memungkinkan ekspansi layanan.
“Alhamdulillah, di Agustus ini kami bisa membuka OTA Bululawang. Target kami minimal ada empat OTA di Malang Raya. Saat ini baru ada dua, jadi masih ada dua lagi yang harus diwujudkan,” jelasnya.
OTA memberikan layanan terapi perilaku untuk anak-anak autisme dari keluarga kurang mampu. Dimana setiap anak mendapatkan terapi selama 5 jam atau 25 jam terapi per pekan atau setara 100 jam per bulan.
“Ini bentuk ikhtiar kami agar anak-anak dengan autisme bisa merdeka dari beban biaya terapi yang mahal,” ujarnya.

OTA Bululawang saat ini memiliki empat ruang terapi siap pakai dan sedang menyiapkan satu ruang tambahan. Dengan sistem satu anak satu terapis, OTA mampu melayani maksimal 10 anak.
“Terapis yang mendampingi adalah relawan mahasiswa dan mahasiswi yang telah mendapatkan pelatihan standar dari MAC (Malang Autism Center),” ungkapnya.
Lebih lanjut Cahyadi menekankan pentingnya intervensi intensif bagi anak-anak dengan autisme. Berdasarkan literatur, terapi metode Applied Behavior Analysis (ABA) membutuhkan minimal 25 jam per pekan agar memberikan dampak signifikan.
“Kalau hanya 2–3 jam per pekan, hasilnya tidak akan optimal. Dengan OTA, kami ingin membuktikan bahwa anak-anak dengan autisme bisa berkembang dan mandiri sesuai versinya masing-masing, sehingga tidak menjadi beban keluarga maupun masyarakat,” tuturnya.
Menurut Cahyadi, OTA merupakan gerakan swadaya, sehingga ia berharap semakin banyak pihak yang peduli dan ikut mendirikan layanan serupa di wilayah lain.
“Kami berharap OTA menjadi pionir. Semoga semakin banyak kelompok masyarakat yang ikut serta. Sehingga semakin banyak keluarga kurang mampu yang terbantu,” pungkasnya.