19 April 2026

Gelar Kuliah Kebangsaan, UM Ajak Generasi Muda Cinta, Bangga dan Paham Rupiah

Gelar Kuliah Kebangsaan, UM Ajak Generasi Muda Cinta, Bangga dan Paham Rupiah
Kuliah Kebangsaan Cinta Bangga Paham Rupiah. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

Reportasemalang – Universitas Negeri Malang (UM) bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) menggelar kuliah kebangsaan bertajuk “Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah Kebangsaan”. Kegiatan yang berlangsung di Graha Cakrawala UM pada Senin (29/9/2025) itu diikuti sekitar 6.000 mahasiswa.

Kuliah kebangsaan ini membahas pentingnya mencintai, membanggakan, dan memahami mata uang rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa. Hadir sebagai narasumber antara lain mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang kini berkiprah sebagai pengusaha dan investor, Dr. H. Sandiaga Salahudin Uno, B.B.A., M.B.A.; Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd.; serta pendakwah sekaligus penulis Husein Bin Ja’far Al Hadar (Habib Ja’far).

Sandiaga Uno menyampaikan pandangannya tentang peran generasi muda dalam memperkuat perekonomian nasional melalui penguatan rupiah.

“Fungsi anak muda di tengah situasi ekonomi saat ini adalah menggerakkan ekonomi dengan membuka peluang usaha dan lapangan kerja. Itu bisa dilakukan melalui kewirausahaan,” ujarnya.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk mengutamakan produk-produk lokal. Mulailah menggunakan produk kebanggaan anak bangsa, termasuk layanan terbaik seperti kesehatan di negeri sendiri.

“Dengan begitu rupiah akan kuat dan kita akan memahami struktur ekonomi kita. Ekonomi yang terus bertumbuh dapat menciptakan banyak lapangan kerja sehingga inflasi tetap terjaga dan biaya hidup masyarakat tetap terjangkau,” jelasnya.

Sandiaga menegaskan, keberpihakan pada perekonomian nasional bukan semata wujud patriotisme, melainkan dukungan nyata bagi kemajuan bangsa.

“Kita akan merasakan langsung dampak positifnya,” tandasnya.

Sandiaga Uno bersama Rektor UM. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Sementara itu, Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai mitra untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat kewirausahaan di kalangan mahasiswa.

“Hari ini kami bekerja sama dengan BI dan Pak Sandi untuk menstimulasi anak-anak Indonesia agar mencintai profesi dan bangsanya. Rupiah tidak akan menguat tanpa penguatan sektor ekonomi riil,” ungkapnya.

Menurutnya, sektor ekonomi kreatif perlu dikembangkan karena generasi Z yang terdidik dapat menjadi pelopor dalam membangun ekonomi kreatif dan maju.

“Bangsa Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada ekonomi ekstraktif yang sekadar menjual kekayaan alam tanpa nilai tambah,” tegasnya.

Hariyono menambahkan, peran perguruan tinggi adalah menumbuhkan optimisme dan memfasilitasi mahasiswa agar berkembang dengan baik, baik melalui jiwa kewirausahaan maupun wawasan global.

“Mahasiswa UM ke depan harus menguasai bahasa internasional. Ketika menjadi tenaga kerja di luar negeri, mereka harus berada di kelas menengah ke atas. Itulah diaspora Indonesia yang kita cita-citakan, lulusan yang mampu menjadi guru, doktor, dosen, peneliti, atau pengusaha di berbagai belahan dunia,” jelasnya.

“Karena itu predikat world class university tidak hanya diukur dari jumlah publikasi di jurnal bereputasi, tetapi juga dari sejauh mana lulusan mampu melanjutkan studi atau berkarier di luar negeri,” pungkasnya.