7 Maret 2026

Dukung SDGs, Program Doktor Mengabdi UB Hadirkan Solusi Air Bersih di SDI dan SMPIT As Salam

Dukung SDGs, Program Doktor Mengabdi UB Hadirkan Solusi Air Bersih di SDI dan SMPIT As Salam
Sosialisasi pemakaian filter air di SDI As Salam

Bagikan :

Reportasemalang – Program Doktor Mengabdi (DM) Universitas Brawijaya (UB) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui pemasangan sistem filterisasi air berlapis di SDI As Salam dan SMPIT As Salam. Program ini menyasar persoalan kualitas air yang sebelumnya belum memenuhi standar baku mutu serta berisiko terhadap kesehatan warga sekolah.

Kegiatan filterisasi air di lingkungan sekolah sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi serta SDG 3 mengenai Kesehatan dan Kesejahteraan.

Program Doktor Mengabdi UB tahun 2025 ini diketuai oleh Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, ST., MT. dari Fakultas Teknik (FT), dengan melibatkan dosen lintas fakultas serta sejumlah mahasiswa yang dikemas dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Putu Hadi menjelaskan, hasil uji laboratorium terhadap air sumur di kedua sekolah menunjukkan sejumlah parameter yang melebihi ambang batas baku mutu.

“Air terlihat keruh, berbau, dan meninggalkan noda kecokelatan pada sanitasi. Hasil uji laboratorium menunjukkan kekeruhan mencapai 28 NTU, kadar besi (Fe) sekitar 1,50 mg/L, mangan (Mn) 0,40 mg/L, serta terdeteksi bakteri Escherichia coli dalam 100 ml sampel,” jelasnya.

Filter Air di SMPIT As Salam

Kondisi air di SDI Assalam dan SMPIT Assalam dinilai berisiko bagi kesehatan serta mengganggu kenyamanan dan aktivitas belajar mengajar. Karena itu, tim DM UB menghadirkan solusi berupa sistem filterisasi bertingkat yang sederhana, efektif, serta mudah dirawat oleh pihak sekolah.

Pemilihan SDI dan SMPIT As Salam sebagai lokasi pengabdian didasarkan pada kebutuhan nyata serta kesiapan mitra untuk berkolaborasi secara berkelanjutan. Pihak sekolah turut menyediakan lokasi instalasi, jaringan air dan listrik, serta menyiapkan operator untuk menjalankan standar operasional prosedur (SOP) berupa modul yang disusun oleh tim DM UB.

“SOP ini penting agar teknologi tidak berhenti setelah program selesai. Sistem ini kami posisikan sebagai teknologi tepat guna yang dapat direplikasi di lokasi lain dengan permasalahan serupa,” imbuh Putu Hadi.

Dalam pelaksanaannya, tim menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan stok media filtrasi, fluktuasi kualitas air saat musim hujan, hingga keterbatasan waktu operator sekolah untuk pelatihan. Kendala tersebut diatasi melalui penyesuaian jadwal, pengaturan ulang prosedur backwash, serta penyediaan modul ringkas dan sesi pelatihan tambahan.

Sistem filterisasi yang dipasang terdiri atas beberapa lapisan media, antara lain penyaring awal untuk partikel besar, pasir silika dan zeolit untuk menurunkan kekeruhan, media oksida mangan untuk mengoksidasi dan mengendapkan Fe dan Mn, serta karbon aktif granular untuk memperbaiki bau, rasa, dan warna air.

“Hasil uji lanjutan menunjukkan peningkatan kualitas air yang signifikan. Kekeruhan turun menjadi sekitar 4,5 NTU, kadar Fe menjadi 0,25 mg/L, Mn menjadi 0,08 mg/L, bakteri E. coli tidak lagi terdeteksi, dan pH air mendekati netral,” ungkapnya.

Pemasangan filter air di SMPIT As Salam

Senada, anggota tim DM UB, Dr.Eng. Ir. Evi Nur Cahya, ST., MT., menjelaskan bahwa sistem filtrasi air menggunakan pasir silika, karbon aktif, dan manganese greensand sebagai penyaringan bertahap untuk meningkatkan kualitas air sumur.

“Air dari sumur dipompa ke sistem dan dialirkan dari atas ke bawah melalui lapisan media. Masing-masing media bekerja saling melengkapi untuk menghilangkan kekeruhan, zat besi, mangan, bau, serta kandungan zat organik,” jelasnya.

Pasir silika dipilih karena efektif sebagai penyaring dan memiliki ketahanan fisik yang baik. Karbon aktif berfungsi menyerap zat organik, bau, dan warna, sedangkan manganese greensand digunakan untuk mengatasi kandungan besi dan mangan terlarut melalui proses oksidasi.

“”Kombinasi dari ketiga media ini membuat sistem ini mampu menangani masalah fisik, kimia dan organik secara bersamaan,” tambahnya.

Pengisian Filter air dengan bahan penyaring

Perawatan berkala dilakukan melalui proses backwash atau pencucian balik dengan mengalirkan air dari bawah ke atas agar media yang tadinya kotor bisa keluar terperangkap dibuang ke saluran pembuangan. Proses ini dilakukan secara berkala, tergantung tingkat kekeruhan air.

“Backwash ini harus dilakukan secara berkala. Bisa setiap hari, bisa seminggu dua kali tergantung tingkat kekeruhan air yang ada.

“Selain itu, manganese greensand perlu diregenerasi menggunakan larutan kalium permanganat agar kemampuan oksidasinya tetap optimal,” tandasnya.

Kepala SDI As Salam, Ervin Fatichatus Solichah, S.P., S.Pd.

Kepala SDI As Salam, Ervin Fatichatus Solichah, S.P., S.Pd., menyampaikan apresiasinya atas program tersebut. Menurutnya, sebelum adanya filterisasi, air sumur di sekolah berwarna keruh, berbau, dan meninggalkan noda seperti karat.

“Dengan sistem filterisasi dari tim UB, air kini menjadi jernih dan tidak berbau. Kami merasa lebih nyaman dan tenang dalam menggunakannya,” ujarnya. Air hasil penyaringan dimanfaatkan untuk kebutuhan sanitasi dan wudu, sementara kebutuhan memasak tetap menggunakan air galon.

Kepala SMPIT As Salam, Rofi Uddin Asyrofi, S.Pd., M.Pd

Hal senada disampaikan Kepala SMPIT As Salam, Rofi Uddin Asyrofi, S.Pd., M.Pd. Ia mengungkapkan bahwa meskipun secara visual air tampak jernih, hasil uji laboratorium sebelumnya menunjukkan kadar besi yang cukup tinggi.

“Setelah difilter, kami lebih yakin air yang digunakan warga sekolah, termasuk untuk dapur, sudah lebih layak dan aman,” tuturnya.

Kepala Lembaga Pendidikan Islam (LPI) As Salam, Nurik Khikmawati, S.Pt.

Sementara itu, Kepala Lembaga Pendidikan Islam (LPI) As Salam, Nurik Khikmawati, S.Pt., menyebut kerja sama dengan Program Doktor Mengabdi UB telah terjalin selama tiga tahun terakhir. Program filterisasi air sumur dinilai sangat membantu, mengingat sekolah tidak menggunakan layanan PDAM.

“Harapannya, air yang digunakan sehari-hari oleh anak-anak menjadi lebih layak, bersih, dan sehat,” pungkasnya.

Salah satu mahasiswa KKN, Abrar Putra Maulana dari Fakultas Teknik UB, mengaku kegiatan KKN yang diikuti pada 2025 memberikan pengalaman yang sangat bermakna.

“Ilmu yang saya pelajari akhirnya dapat diterapkan langsung kepada masyarakat. Kami merencanakan, merancang, dan mengeksekusi alat filterisasi ini. Awalnya air keruh dan berbau, kini berubah menjadi jernih dan tidak berbau, serta kandungannya lebih terkontrol. Semoga langkah kecil ini memberi manfaat besar dan berkelanjutan,” ujarnya.

Susunan Tim Program Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya:
Ketua:
Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, ST., MT.
Anggota Dosen :

  • Sisca Fajriani, S.P., M.P. (Fakultas Pertanian)
  • Dr. Mochammad Roviq, S.P., M.P. (Fakultas Pertanian)
  • Dr.Eng. Ir. Evi Nur Cahya, ST., MT. (Fakultas Teknik)
  • dr. Nuretha Hevy P., M.Sc., Sp.D.L.P., Subsp. FOMC (Fakultas Kedokteran)

Anggota KKN DM :

  • Adinda Mahfirotul Afifah (FT)
  • Faiz Syadanq Putra (FT)
  • Naufal Bintang Alifian (FT)
  • Sahla Ulya Fakhrunnisa (FT)
  • Azhar Rafi Putranto (FT)
  • Abrar Putra Maulana (FT)
  • Ahmad Maulana Yusuf (FT)
  • Fazana Dwi Nanda (FT)
  • Halim Qadli Zakka (FT)
  • Abid Fitrah Habibi (FT)
  • Mukhamad Fariz Hanif (FT)