Search
Close this search box.
11 Juli 2024

Dukung Program Green School, Dosen UB Optimalisasi Space Antar Bangunan untuk Tempat Pembibitan Tanaman Indoor

Pelatihan dan Workshop Pembibitan tanaman indoor. (Foto: Ist/reportasemalang)
Pelatihan dan Workshop Pembibitan tanaman indoor. (Foto: Ist/reportasemalang)

Bagikan :

Reportasemalang – Ruang terbuka hijau semakin sulit terpenuhi di daerah perkotaan sebagai konsekuensi alih fungsi lahan menjadi bangunan. Dimana alih fungsi lahan sudah menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan akibat terus bertambahnya jumlah penduduk.

Dilatarbelakangi hal tersebut, tiga dosen Universitas Brawijaya (UB) melaksanakan pengabdian masyarakat terkait Optimalisasi Space Antar Bangunan Sebagai Tempat Pembibitan Tanaman Indoor untuk Mendukung Program Green School. Yang dilaksanakan di SDIT dan SMPIT As-Salam.

Ketiga dosen ini berasal dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik UB. Mereka adalah Dr. Mochamnad Roviq, Dr. Putu Hadi Setyarini S.T., M.T dan Sisca Fajriani, S.P., M.P.

Ketua tim, Roviq mengungkapkan, penyempitan lahan terbuka hijau tidak saja terjadi di pemukiman warga, namun juga pada area pendidikan dan perkantoran. Indikasi sempitnya lahan ini tampak jelas terlihat pada arah pengembangan menjadi gedung-gedung bertingkat.

“Sehingga dampak tidak langsung dari gedung-gedung bertingkat adalah naungan yang terjadi pada space atau ruang celah diantara bangunan yang tidak cukup cahaya untuk kebanyakan jenis tanaman,” ungkapnya.

Pelatihan; arah dan ukuran pemotongan (dissection) bahan tanam untuk stek daun dan stek batang. (Foto: Ist/reportasemalang)

Ketidakcukupan intensitas cahaya mengharuskan pengelola gedung baik perkantoran atau pendidikan jeli dalam memilih spesies tanaman yang dipilih. Ketidaktepatan spesies terhadap ketersediaan cahaya juga menyebabkan penurunan pertumbuhan tanaman yang pada akhirnya berpengaruh pada penampilan fisik.

Gejala kekurangan cahaya antara lain etiolasi, penurunan luas atau ukuran daun, pengurangan jumlah daun, daun-daun dengan cepat menua dan gugur. Kesan umum adalah tanaman kurang sehat dan tidak tumbuh dengan normal.

“Karena itu, pemilihan tanaman yang tepat sesuai dengan ketersediaan cahaya adalah langkah awal dalam membuat program penghijaun gedung dan bangunan,” tuturnya.

Sementara itu disampaikan Roviq, SDIT dan SMPIT As-Salam berkomitmen untuk membangun perilaku peserta didik dalam melestarikan dan memperlakukan lingkungan secara bijak dan berkelanjutan sejak dini. Melalui pendidikan lingkungan hidup sejak dini itu, maka ke depan diharapkan manusia dapat lebih memperhatikan kelestarian lingkungan dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitarnya.

Pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup dapat dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan. Atau dengan kata lain, anak langsung mempraktekkan bagaimana cara menjaga kelestarian lingkungan.

“Dengan terjun langsung atau mempraktekkan secara langsung pelestarian lingkungan hidup sejak dini. Maka anak akan terbiasa berpikir dan bertindak untuk melakukan segala kegiatan atau aktivitasnya dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan,” ucapnya.

Peserta pelatihan mempraktekan pemotongan stek daun secara bergantian. (Foto: Ist/reportasemalang)

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan di SDIT As-Salam dan SMPIT As-Salam untuk memberikan pembelajaran dan praktek pelestarian lingungan mempertimbangkan potensi dan arah pengembangan institusi.

Kegiatan tahap pertama di bulan pertama adalah pengenalan dan praktikum perbanyakan tanaman pada siswa didik dan masyarakat sekitar SMPIT As Salam. Kemudia tahap dua di tahun pertama adalah pengenalan dan praktikum pemeliharaan tanaman meliputi penempatan, pemangkasan, penyiraman, penngajiran dan pengendalian OPT

“Sementara kegiatan tahap ketiga di tahun pertama adalah repotting dan penataan atau pemajangan tanaman,” ujarnya.

Menurut Roviq, program pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan menggunakan sejumlah metode pendekatan. Diantaranya Brainstorming dan Focus Group Discussion (FGD), Bimtek dan Pendampingan
Bimtek, Fasilitasi Teknologi Produksi dengan penerapan urban farming di sekolah melalui sistem hidroponik dan akuaponik di lingkungan sekolah.

Kemudian Monitoring dan Evaluasi secara sistematis dan berkelanjutan untuk menjamin keberhasilan kegiatan dan pengembangan lebih lanjut.

Pada kegiatan pelatihan atau workshop ini, diberikan contoh bagaimana melakukan pembibitan. Yang terdiri dan penyiapan bahan baku, pemotongan, penumbuhan stek dalam media air, dan diikuti dengan penjelasan prinsip setiap perlakuan.

“Peserta langsung dipandu untuk mempraktekkan pembibitan baik stek daun atau stek batang serta pembibitan secara generatif,” pungkasnya.