Search
Close this search box.
14 Juli 2024

Dosen dan Mahasiswa UM Berikan Pelatihan Pembuatan Ecoprint di Kampung Sanan

Drs Sumarwahyudi menunjukkan salah satu hasil Ecoprint. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Drs Sumarwahyudi menunjukkan salah satu hasil Ecoprint. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

ReportasemalangKota Malang, Sejumlah Dosen dan Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) kembali melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Kampung Sanan. Dengan memberikan pelatihan pembuatan Ecoprint untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat non pengrajin tempe di Sanan, Minggu (11/6/2023).

Mereka terdiri dari tim pelaksana dosen yakni Drs Sumarwahyudi MSn, Dra E Wara Suprihatin DP MPd, Lisa Sidyawati SPd MPd, Dr Ike Ratnawati SPd MPd. Serta Tim pelaksana Mahasiswa yaitu Rikardus Kurnia Lango SE, Andi Irawan SPd, Hana Firmaningrum dan Aulan Nisa’ulil Kamaliah.

Drs Sumarwahyudi menjelaskan tentang Ecoprint. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Drs Sumarwahyudi menjelaskan tentang Ecoprint. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UM, Drs Sumarwahyudi MSn menyampaikan, pelatihan hari ini sebetulnya merupakan permintaan dari Warga Sanan sendiri. Yang meminta untuk dilatih membuat batik tulis.

Namun karena proses pembuatannya sangat panjang. Kemudian dari UM mencoba mengakomodasi permintaan itu, tetapi dialihkan ke batik ecoprint yang prosesnya tidak terlalu rumit. Dan bahannya juga mudah dicari karena berasal dari daun yang ada disekitar.

“Dan yang paling penting adalah limbahnya tidak mencemari lingkungan,” ujarnya.

Selain itu, pertimbangan lainnya yang juga tidak kalah penting adalah ecoprint ini menjadi trend saat ini. Dimana produk ecoprint harganya cukup mahal dan peminatnya juga cukup banyak.

“Itu yang menjadi pertimbangan kenapa ecoprint yang kami pilih untuk diajarkan di sini,” ungkapnya.

Ada dua teknik Ecoprint yang diajarkan, yaitu teknik Pounding dan Iron Blanket. Sedangkan untuk jenis daun yang digunakan prinsipnya adalah daun yang memiliki zat warna tinggi. Misalnya daun jati, daun jarak, daun pepaya, batang pohon pisang dan sayur-sayuran.

“Kecuali jenis sayuran yang zat warnanya itu tidak bisa mengikat ke kain, contohnya daun bayam,” sebutnya.

Lebih lanjut disampaikan Sumarwahyudi, pelatihan Ecoprint ini akan berlangsung sebanyak 8 kali pertemuan setiap Jumat siang. Yang nantinya produk akhir dari kegiatan ini adalah berupa sovenir pendukung wisata edukasi yang sudah berkembang di Sanan, seperti tempat tisu, dompet, dan touch bag.

“Produk-produk ini nanti semua ada tulisannya yang menyebutkan kata Sanan, termasuk alamat instagramnya Sanan. Untuk promosi wisata kampung Sanan ini ke masyarakat,” tandasnya.

Ketua RW 15 Kelurahan Purwantoro, Irvan Kuncoro selama ini Kampung Sanan hanya dikenal dengan keripik tempe saja. Meskipun ada inovasi tapi tetap bahan bakunya dari tempe atau kedelai. Sehingga warga butuh kesibukan dan pemasukan, terutama bagi warga non pengrajin.

“Yang jelas untuk menambah kesibukan atau pemasukan dari masyarakat sendiri. Agar kita bisa menciptakan satu karya selain keripik tempe,” ucapnya.

Karena itu menurut Kuncoro, dengan adanya ecoprint ini bisa menambah sedikit promosi untuk kampung Sanan dan bisa untuk oleh-oleh juga. Warga non pengrajin tempe juga jadi ada kesibukan.

“Nanti ecoprint bisa kita masukkan ke paket-paket kunjungan, goodybag. Apalagi sebentar lagi kita akan banyak event. Seperti event tahunan Festival Tempe,” pungkasnya. (Agus N)