REPORTASEMALANG.COM – Pemerintah Kota Malang kembali tegaskan komitmennya untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Jawa Timur.
Hal ini disampaikan Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dalam Kegiatan Apresiasi Seniman/Pelaku Budaya, Penyerahan Tunjangan Kehormatan Juru Pelihara Cagar Budaya, serta Penyerahan Sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia yang berlangsung di Taman Krida Budaya, Minggu Sore (22/2/2026).
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa secara simbolis juga menyerahkan apresiasi kepada 100 seniman dan pelaku budaya, tunjangan kehormatan bagi 20 Juru Pelihara Cagar Budaya, serta 46 Sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia Tahun 2025.
Penyerahan Apresiasi Seniman, Tunjangan Kehormatan Juru Pelihara Cagar Budaya dan Warisan Tak Benda Indonesia berlangsung di Taman Krida Budaya Jawa Timur, diserahkan langsung oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa didampingi Kadisbudpar Jatim Evy Afianasari.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dalam sambutannya menyampaikan bahwa budaya di Kota Malang tidak hanya dianggap sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai identitas yang hidup dan terus berkembang.
“Budaya yang ada di Kota Malang ini tidak hanya warisan masa lalu. Selain tradisi yang dijalankan para seniman, kami juga memiliki cagar budaya yang terus kami jaga. Kota Malang tidak hanya dikenal karena wisata buatannya, tetapi juga karena heritage-nya,” ujar Wahyu.
Wahyu menambahkan, komitmen untuk menjaga dan melestarikan cagar budaya sejalan dengan tagline ‘Menolak Lupa’ yang telah digagasnya.
Menurutnya, dengan menolak lupa, seluruh unsur pemerintah dan masyarakat Kota Malang diajak untuk menjaga dan merawat cagar budaya agar tetap lestari.
“Menolak lupa berarti sama dengan kita menjaga cagar-cagar budaya yang ada di Kota Malang. Alhamdulillah, ini juga berdampak pada meningkatnya kunjungan wisata. Pada momentum Nataru kemarin, Kota Malang menjadi salah satu destinasi wisata terbanyak setelah Bali. Ini berkat komitmen kita menjaga heritage yang menarik bagi wisatawan,” ungkapnya.
Pemkot Malang juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya penambahan tunjangan kehormatan bagi juru pelihara cagar budaya, yang dinilai sebagai bentuk perhatian nyata terhadap para penjaga warisan sejarah.
Tak hanya menjaga bangunan dan situs bersejarah, Kota Malang juga menaruh perhatian besar pada regenerasi pelaku budaya. Wali Kota pun menyampaikan bahwa geliat budaya di Kota Malang kini telah merambah generasi muda bahkan anak usia dini.
“Seniman dan pelaku budaya di Kota Malang tidak hanya mereka yang sudah senior. Anak-anak TK, usia lima tahun, sudah bisa bermain dan membuat topeng. Ini luar biasa. Kebudayaan di Kota Malang tetap dilestarikan, tidak tergerus budaya Barat,” kata Walikota Malang.
Lebih lanjut, Wahyu mengungkapkan bahwa fasilitas seperti Taman Krida Budaya menjadi ruang tumbuh dan berprosesnya para seniman, sekaligus wadah ekspresi budaya yang terus bertransformasi menjadi kekuatan pembangunan daerah.
Wahyu Hidayat juga mengajak seluruh tamu undangan untuk menikmati wajah heritage Kota Malang, bernostalgia di kawasan bersejarah, serta merasakan atmosfer kota yang memadukan nilai sejarah dan unsur kekinian.
“Semoga kehadiran Bapak/Ibu di Kota Malang tidak hanya membawa kesan baik, tetapi juga memperkuat komitmen bersama memajukan kebudayaan dan pariwisata Jawa Timur secara berkelanjutan,” tegasnya.

Pada saat yang sama, Gubernur Khofifah memberikan apresiasi tinggi kepada para pelaku budaya yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan budaya Indonesia.
Khofifah juga menginstruksikan kepada wali kota dan bupati di Jawa Timur untuk menginventarisir seluruh Warisan Budaya Takbenda yang ada di daerah masing-masing.
“Warisan budaya harus terus tumbuh, sehingga dapat memberikan manfaat sosial serta ekonomi bagi masyarakat. Budaya menjadi identitas sekaligus kekuatan pembangunan Jawa Timur,” tegasnya.
Khofifah menjelaskan bahwa Sertifikat WBTB yang diserahkan merupakan bentuk apresiasi dari Kementerian Kebudayaan RI.
“Masing-masing kita gali bersama, setelah itu kita kuatkan manuskripnya. Kalau manuskrip itu dibuat digital, betapa kayanya budaya Jawa Timur, dan itu akan menjadi referensi budaya Indonesia dan dunia,” pungkasnya.
(Aris).