Search
Close this search box.
22 Juli 2024

Universitas Ma Chung Kukuhkan Tiga Guru Besar, Begini Pesan Kepala LLDIKTI VII Jawa Timur

Reportasemalang
Kepala LLDIKTI Wilayah VII bersama para Guru Besar Universitas Ma Chung. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

Reportasemalang – Universitas Ma Chung kembali menambah jumlah Profesor dengan menggelar pengukuhan tiga Guru Besar. Yang telah berkontribusi secara signifikan dalam bidang ilmu masing-masing, di Balai Pertiwi, Kamis (7/3/2024).

Ketiga guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Eng Romy Budhi, S.T., M.T., M.Pd. dari Fakultas Teknologi dan Desain bidang Ilmu Teknik Informatika. Prof. Dr. Daniel Ginting, S.S., M.Pd. dari Fakultas Bahasa bidang Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris. Dan Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra Menahen Taneo, M.S., M.Sc. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis bidang Ilmu Manajemen Inovasi.

Sebelumnya, ketiga Profesor ini telah menerima surat Keputusan (SK) Kenaikan Pangkat Akademik dari Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., pada Desember 2023 dan Januari 2024.

Reportasemalang
Pengukuhan Guru Besar Rektor Universitas Ma Chung. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Dalam sambutannya, Kepala LLDIKTI Wilayah 7 Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., berpesan bahwa seorang profesor harus betul-betul berkomitmen untuk menjaga kualitas proses pembelajaran dan kualitas proses pendidikan tinggi. Karena Profesor adalah gelar tertinggi dalam pendidikan.

“Seorang profesor itu harus betul-betul mengimplikasikan science, knowledge kepada para mahasiswa. Sehingga output yang diharapkan itu betul-betul bisa bersaing untuk Indonesia emas 2045,” tuturnya.

Menurut Prof Dyah, pondasi kuat pendidikan tinggi ada di S1. Sehingga para Profesor harus mengabdi dan mengimplementasikan ilmunya justru untuk S1 yang paling penting. Karena nantinya harus bisa membawa anak didik betul-betul punya karakter yang mampu mencetak pekerjaan.

“Jangan pernah kamu kuliah hanya untuk mencari kerja, tapi kamu harus mencetak kerja. Ini salah satu tugas profesor untuk menjadikan mahasiswa menjadi seorang yang mampu mencetak kerja, bukan pencari kerja,” tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskan Prof Dyah, khusus di LLDIKTI wilayah 7, ada 157 Guru Besar untuk tahun 2023 sampai Januari kemarin. Dan masih banyak yang mengajukan guru besar karena ini merupakan kebutuhan.

“Sebetulnya untuk menjadi guru besar itu tidak mudah. Karena syarat khusus guru besar yang reguler adalah wajib punya jurnal internasional bereputasi, bila itu tidak ada tidak mungkin bisa jadi guru besar,” ungkapnya.

Sehingga para dosen jangan sampai keliru untuk mencari jurnal yang betul-betul jurnal berkualitas bukan jurnal yang predator, bukan yang abal-abal untuk menjadi seorang guru besar. Jadi tidak cukup korespodensi saja, tapi juga harus lihat jurnalnya, jangan jurnal yang predator.

“Dan itu sekarang banyak mafia di situ, maka harus hati-hati. Sehingga dengan hati-hati inilah kita betul-betul bisa mewujudkan apa yang menjadi mimpi pendidikan tinggi,” tandasnya.

Reportasemalang
Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Sementara itu Prestasi para dosen Universitas Ma Chung ini diraih atas hasil penelitian dan kontribusi gemilang yang telah mereka lakukan. Prof. Romy Budhi Widodo dikenal karena fokus dalam bidang interaksi manusia dan mesin (human-machine interaction) dan dalam meraih gelar profesornya, ia mengangkat judul “Aksesibilitas Menuju Tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di Tahun 2030.

Penelitiannya ini didukung oleh data bahwa di Indonesia, 63 persen penyandang disabilitas berwirausaha karena kurangnya akses terhadap pasar tenaga kerja. Karenanya penelitian ini diselenggarakan dalam upaya membuka kesempatan belajar dan bekerja di Kawasan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) kepada penyandang disabilitas, dalam bentuk mouse khusus untuk penyandang disabilitas.

“Saya berpegang pada UU No. 8 tahun 2016, salah satunya adalah adanya hak bagi para penyandang disabilitas untuk memperoleh pekerjaan yang diselenggarakan pemerintah pun juga swasta,” tuturnya.

Berikutnya, Prof. Dr. Daniel Ginting, S.S., M.Pd., merupakan peneliti yang fokus pada penggunaan teknologi dalam pembelajaran bahasa. Ia saat ini banyak bergerak mendampingi guru sekolah baik secara daring maupun luring dan dikenal sebagai presiden Indonesian English Lecturers Association.

Prof. Daniel Ginting mengangkat judul “Transformasi Pendidikan Dalam Era Kecerdasan Buatan: Tantangan dan Peluang dalam penelitiannya untuk meraih gelar profesor.

Dalam penelitian ini, Prof. Daniel Ginting mengkaji peran AI dalam dunia pendidikan, terlebih di era saat ini kerap ditemui kecurangan yang dilakukan oleh siswa dalam tugas mereka dengan menggunakan AI. Melalui penelitiannya ini, Prof. Daniel Ginting menekankan pentingnya untuk tetap melibatkan elemen manusia dalam proses ini.

“Untuk memastikan bahwa keahlian dan kebutuhan guru senantiasa menjadi prioritas utama dalam membuat keputusan terkait kecerdasan buatan dalam konteks pendidikan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, M.S., M.Sc., yang juga menjabat sebagai rektor Universitas Ma Chung. Ia resmi menyandang gelar sebagai Profesor di bidang Manajemen Inovasi.

“Saya menerima gelar ini dengan rendah hati dan tekad untuk terus berkontribusi pada dunia pendidikan, khususnya di lingkungan Universitas Ma Chung,” tuturnya.

Prof. Yufra mengangkat judul naskah “Inovasi sebagai Sumber Peningkatan Daya Saing Nasional yang Berkelanjutan”. Penelitian ini mengkaji tentang pentingnya peran inovasi dalam menciptakan dan meningkatkan daya saing ekonomi yang berkelanjutan, terutama dalam upaya menuju tercapainya cita-cita Indonesia Emas 2045.

Lebih lanjut menurut Prof Yufra, pengukuhan ketiga guru besar ini menjadi bukti nyata komitmen Universitas Ma Chung dalam meningkatkan kualitas akademik serta kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan.

“Langkah ini sejalan dengan visi universitas yakni memuliakan Tuhan melalui akhlak, pengetahuan, dan kontribusi nyata sebagai insan akademik yang berdaya cipta, serta implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi,” pungkasnya.