Reportasemalang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem kampus berkelanjutan. Melalui tata kelola sirkular yang terintegrasi, UMM berhasil mendaur ulang 92 persen sampah organik menjadi pupuk dan produk ramah lingkungan untuk mendukung ruang terbuka hijau di lingkungan kampus.
Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, MT., mengatakan program tersebut menjadi langkah nyata kampus dalam mengurangi volume sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus memperkuat upaya pelestarian lingkungan.
“Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke TPA, tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” ujar Sandi, Senin (11/5/2026).
Pada 2025, total sampah organik yang dihasilkan seluruh fasilitas UMM mencapai 438 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 402,9 ton atau sekitar 92 persen berhasil diolah melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III UMM.
Menurut Sandi, keberhasilan tersebut ditopang implementasi program vermikompos yang menjadi inti pengelolaan sampah organik berkelanjutan di UMM.
Proses pengolahan dimulai dari pemilahan sampah organik berupa sisa makanan, sayur, dan buah dari kantin, taman, serta kebun edukasi. Sampah kemudian dicacah hingga berukuran 2–3 sentimeter sebelum difermentasi bersama bahan karbon seperti sekam padi dengan tingkat kelembapan tertentu.

Setelah difermentasi selama 7–14 hari di dalam reaktor tertutup, material organik dipindahkan ke unit modular untuk proses vermikompos menggunakan cacing tanah jenis Eisenia fetida. Hasil akhir proses tersebut berupa pupuk organik kaya nutrisi yang dimanfaatkan untuk taman kampus, kebun edukasi, hingga lahan pertanian mitra.
UMM juga didukung sejumlah fasilitas pengolahan modern, mulai dari mesin pencacah berkapasitas 200 kilogram per jam, saringan kompos 100 kilogram per jam, hingga granulator 100 kilogram per jam yang dikelola staf profesional.
Selain memproduksi kompos, UMM turut mengolah limbah kulit sayur dan buah menjadi eko-enzim melalui program edukasi di UMM Edupark. Dari program tersebut, kampus mampu menghasilkan lebih dari lima liter eko-enzim setiap hari.
Keberhasilan mendaur ulang 92 persen sampah organik ini semakin menegaskan posisi UMM sebagai salah satu kampus hijau yang aktif mendorong aksi iklim dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan di Indonesia.