Reportasemalang – Universitas Brawijaya (UB) memperkuat upaya konservasi sumber daya air dan keberlanjutan lanskap budaya dunia Subak Jatiluwih melalui implementasi Hydro Tracker-UB, sistem pemantauan mutu air real-time berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi yang dikembangkan oleh Kompartemen Irigasi, Fisika dan Konservasi Tanah serta Kesehatan Daerah Aliran Sungai (DAS), Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) UB ini diserahkan kepada pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Bali, dalam rangkaian kegiatan diseminasi, alih teknologi, dan penguatan kapasitas pengelolaan lingkungan pada 5–7 Juli 2026.
Sebagai kawasan yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, Subak Jatiluwih tidak hanya memiliki nilai penting bagi sektor pertanian dan pariwisata Bali, tetapi juga menjadi contoh harmonisasi hubungan manusia dan lingkungan melalui filosofi Tri Hita Karana. Namun, keberlanjutan lanskap tersebut menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan penggunaan lahan, peningkatan aktivitas wisata, sedimentasi, hingga tekanan terhadap kualitas sumber daya air.
Dalam konteks tersebut, kualitas air menjadi salah satu indikator utama yang menentukan keberlanjutan fungsi ekologis, produktivitas pertanian, serta pelestarian nilai budaya yang melekat pada sistem Subak. Melalui Hydro Tracker-UB, UB menghadirkan solusi berbasis teknologi yang memungkinkan pemantauan kondisi air secara berkelanjutan, akurat, dan real-time.
Hydro Tracker-UB mampu mengukur sejumlah parameter penting kualitas air, meliputi derajat keasaman (pH), Electrical Conductivity (EC), Total Dissolved Solids (TDS), dan suhu air. Data hasil pengukuran dikirim melalui jaringan LoRa menuju gateway dan selanjutnya ditampilkan pada platform daring sehingga dapat diakses dan dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pengelola kawasan.

Ketua Tim Pengembang Hydro Tracker-UB, Istika Nita, S.P., M.P., menjelaskan bahwa ketersediaan data kualitas air secara berkelanjutan menjadi kebutuhan penting dalam pengelolaan lanskap pertanian dan wisata yang berkelanjutan.
“Teknologi ini dikembangkan untuk membantu pengelola memahami kondisi kualitas air secara cepat dan berbasis data. Dengan pemantauan yang berlangsung secara real-time, potensi perubahan mutu air dapat diidentifikasi lebih dini sehingga langkah mitigasi maupun pengelolaan dapat dilakukan secara lebih efektif,” ujarnya.
Selain instalasi perangkat, tim UB juga melaksanakan pelatihan pengoperasian sistem, pemeliharaan sensor, kalibrasi dasar, akses data pemantauan, serta prosedur penanganan kendala teknis bagi pengelola DTW Jatiluwih. Sebagai pendukung implementasi, mitra menerima booklet panduan yang dapat digunakan sebagai referensi operasional di lapangan Kegiatan ini menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan dan teknologi agar inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Kolaborasi antara UB dan DTW Jatiluwih juga menjadi implementasi nyata konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang menghubungkan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu ekosistem pembelajaran berbasis pemecahan masalah nyata. Melalui kemitraan ini, mahasiswa dan dosen memperoleh ruang untuk mengembangkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan penguatan ketahanan sumber daya alam.
Lebih dari sekadar penerapan teknologi, implementasi Hydro Tracker-UB menjadi bagian dari kontribusi Universitas Brawijaya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Sistem pemantauan ini mendukung SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui penguatan monitoring kualitas sumber daya air, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan teknologi digital berbasis IoT, serta SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui upaya pelestarian kawasan budaya dan lanskap pertanian yang memiliki nilai penting bagi masyarakat.
Di sisi lain, ketersediaan data lingkungan secara real-time juga berkontribusi terhadap SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan memperkuat sistem pemantauan kondisi lingkungan dan meningkatkan kapasitas adaptasi terhadap perubahan yang dapat memengaruhi ketersediaan serta kualitas sumber daya air. Sementara itu, kerja sama antara Universitas Brawijaya dan DTW Jatiluwih mencerminkan implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi antara perguruan tinggi dan pengelola kawasan dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Selama proses implementasi, Hydro Tracker-UB berhasil dipasang dan beroperasi dengan baik. Ke depan, data yang dihasilkan diharapkan tidak hanya menjadi instrumen pemantauan kualitas air, tetapi juga mendukung kegiatan penelitian, edukasi lingkungan, pengembangan kebijakan berbasis data, serta penguatan konservasi sumber daya air di kawasan Subak Jatiluwih.
Melalui inovasi ini, Universitas Brawijaya kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan masa depan sumber daya alam Indonesia.