Search
Close this search box.
14 Juli 2024

Tradisi Menghias Kampung Sensasi di Bulan Ramadan

Tradisi menghias Kampung di Bulan Ramadan. Foto: Ist
Tradisi menghias Kampung di Bulan Ramadan. Foto: Ist

Bagikan :

Reportasemalang.comKota Malang, Tradisi menghias kampung ternyata tidak hanya dilakukan pada saat menjelang perayaan 17 Agustus saja. Di Kota Malang, tepatnya di Kampung Sensasi RT 04 RW 01, Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, tradisi menghias kampung juga dilakukan pada saat bulan Ramadan.

Berbagai pernak pernik, lampu warna warni dan dekorasi bunga menghiasi sepanjang jalan Kampung Sensasi yang dihuni 85 Kepala Keluarga (KK) ini.

Ketua RT 04, Yeny Purwaty menjelaskan kegiatan menghias kampung di bulan Ramadan dilakukan dengan menggerakkan masing-masing Ketua Dasawisma (Dawis). Dari situ, kemudian semua warga termasuk Bapak-bapak dan anak muda ikut membantu menghias kampung agar terlihat lebih cantik.

“Alhamdulillah sampai menjelang shalat teraweh, warga masih sibuk menghias dan serentak,” ujarnya kepada Reportasemalang saat ditemui di rumahnya, Minggu (9/4/2023).

Suasana Kampung Sensasi usai di hias. Foto: Ist
Suasana Kampung Sensasi usai di hias. (Foto: Ist / reportasemalang)

Dikatakan Yeny masing-masing Dawis hiasannya beda-beda. Ada yang bentuk ketupat dan lampion, ada yang kayak hiasan ulang tahun dan lampu, bola dan lampu. Jadi seperti Agustusan dan semua dilakukan secara swadaya.

“Ternyata warga menyambut baik. Dan InsyaAllah tahun depan akan menjadi tradisi di Kampung Sensasi. Itu yang saya ingin tanamkan bagi generasi penerus. Jadi kita punya tradisi,” tutur Yeny.

Menurut Yeny, untuk kepentingan menghias kampung dilakukan secara swadaya dari lima Dasawisma melalui uang “Klontang” atau sedekah warga. Karena uang Klontang ini tidak untuk rekreasi tapi dialokasikan untuk sosial.

“Misalnya ada warga sakit, meninggal, atau kegiatan semacam ini diambilkan dari uang Klontang. Jadi tidak ada tarikan lagi,” akunya.

Suasana Kampung Sensasi usai di hias. Foto: Ist
Suasana Kampung Sensasi usai di hias. (Foto: Ist / reportasemalang)

Selain itu lanjut Yeny, setiap hari Sabtu di bulan Ramadan diadakan buka dan sahur bersama di rumah RT. Untuk makanannya juga swadaya dari warga.

“Jadi ada yang bawa tempe, kerupuk, sayur, ada yang membawa nasi. Jadi sama sekali tidak menggunakan kas RT, semuanya swadaya,” akunya.

Kemudian ada juga kegiatan berbagi idul fitri. Dimana setiap takbiran itu semua warga mendapatkan bingkisan yang berasal dari sumbangan warga. Jadi dari warga untuk warga.

Intinya semua dijadikan untuk menjalin kerukunan. Karena guyub dan rukun adalah kekuatan yang sangat hebat untuk menyelesaikan beberapa masalah.

“Karena kalau sudah guyub dan rukun, andai kata terjadi pandemi kayak tahun sebelumnya, semua bisa teratasi,” pungkasnya. (Agus N)