15 April 2026

Tiga Guru Besar FKIP UMM Dikukuhkan, Kaji Mikrobiologi, Kurikulum, hingga Bioetika

Rektor UMM bersama tiga Guru Besar baru FKIP UMM

Bagikan :

Reportasemalang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah tiga jumlah Guru Besar baru dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Pengukuhan Guru Besar ini digelar di Basement Dome UMM, Sabtu (22/11/2025).

Meski berasal dari Fakultas yang sama, namun penelitian dan kepakaran bidang dari ketiga guru besar ini berbeda. Ada yang fokus pada ilmu pembelajaran bioetika, mikrobiologi lingkungan, hingga pengembangan kurikulum.

Ketiga guru besar baru FKIP UMM tersebut, yakni:
– Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd, sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika.
– Prof Dr Lud Waluyo MKes, sebagai Guru Besar bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan.
– Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM, sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum.

Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd menyampaikan pidato pengukuhannya

Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd

Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika, sekaligus gubes ke-69 di UMM. Prof Atok mengangkat pidato pengukuhan berjudul “Integrasi Model Pembelajaran OIDDE dalam Pendidikan Bioetika di Abad Global: Membangun Pengetahuan, Keputusan Etis dan Sikap Etis Peserta Didik.”

Prof Atok menilai, pendidikan sains di Indonesia masih lemah, karena peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik laboratorium yang dilakukan. Perkembangan bioteknologi yang cepat menghadirkan dilema etis baru tidak tertampung dalam kurikulum konvensional, sehingga pendidikan bioetika menjadi kebutuhan mendesak. Agar keputusan ilmiah tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan lingkungan.

“Pembelajaran biologi tidak boleh berhenti pada hafalan konsep, melainkan harus menumbuhkan kesadaran tentang konsekuensi moral dari setiap tindakan ilmiah,” ujar Prof Atok.

Menurutnya, lemahnya literasi etis membuat mahasiswa mengerjakan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya. Kondisi ini berpotensi melahirkan praktik berisiko serta mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan organisme.

Untuk menjawab persoalan ini, Prof Atok mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Hasil penelitiannya menunjukkan, model OIDDE secara konsisten meningkatkan kemampuan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral ketika menghadapi dilema eksperimen. Serta memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa.

“Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains, karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan. Tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” tandasnya.

Prof Dr Lud Waluyo MKes menyampaikan pidato pengukuhannya

Prof Dr Lud Waluyo MKes

Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan, sekaligus gubes ke-73 di UMM. Prof Lud mengangkat pidato pengukuhan berjudul “Biofitoremediator: Salah Satu Solusi Penanganan Polusi Limbah Cair.

Prof Lud menjelaskan, persoalan limbah cair semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu, hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami.

Prof Lud menegaskan, pendekatan kimia tak lagi memadai, karena berpotensi menciptakan residu baru berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, krisis ekologis modern hanya dapat diatasi melalui teknologi hijau memanfaatkan kemampuan biologis organisme hidup secara lebih aman dan berkelanjutan.

“Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri. Riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS efektif mematikan patogen. Kemudian saya rumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan kemampuan tinggi menurunkan BOD, COD, TSS dan residu deterjen,” terang Prof Lud.

Ia juga mengembangkan konsep biofitoremediator, yakni teknologi hibrid menggabungkan konsorsium bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air. Seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata.

“Sistem ini terbukti mempercepat penurunan polutan, meningkatkan jangkauan remediasi, serta memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan. Termasuk logam berat hingga 100 ppm,” ujarnya

Ia menandaskan, keberhasilan paten biofitoremediator dan penerapannya pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan dan tapioka. Menjadi bukti bahwa pendekatan bioremediasi tidak hanya solusi teknis.

“Tetapi juga bentuk tanggung jawab moral manusia untuk menjaga keberlanjutan ekologis,” tandasnya.

Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM menyampaikan pidato pengukuhannya

Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM

Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum, sekaligus gubes ke-72 di UMM. Prof Mahfud menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Kurikulum Indonesia Satu (KIS)”, dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan keberagaman.

Ia menilai, pendidikan nasional kerap terjebak pada keseragaman, padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa dan tradisi yang harus tetap hidup dalam proses belajar. Karena itu, KIS memberi ruang bagi identitas lokal, menempatkan budaya daerah sebagai akar pembelajaran sekaligus pijakan melangkah ke arah global.

“Kurikulum ini diharapkan tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi juga menuntun arah peradaban bangsa menuju tujuan pendidikan humanis dan berkeadaban,” ucapnya

Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global.

“Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” tegasnya.

Lebih jauh, Mahfud menjelaskan, KIS mesti terintegratif, memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya dan kehidupan nyata, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Pentingnya kurikulum menghubungkan mata pelajaran dengan kearifan lokal dan realitas sosial, sehingga anak tidak belajar untuk ujian, tetapi memahami dunia dan dirinya.

“Kurikulum berjiwa humanis, inklusif dan berbasis teknologi yang berkeadilan adalah syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045,” tandasnya.

Sementara itu, Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban.

“Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” ucapnya.

Lebih lanjut, Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus.

“Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” pungkasnya.