30 April 2026

Soroti Isu Mental Wellness, Profesor UB Produksi Teh Daun Kopi dan Kembangkan Model Face-DAKO

Soroti Isu Mental Wellness, Profesor UB Produksi Teh Daun Kopi dan Kembangkan Model Face-DAKO
Profesor baru FTP UB, Prof. Kiki Fibrianto, STP., M. Phil., Ph.D. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

Reportasemalang – Universitas Brawijaya (UB) kembali menambah sejumlah Profesor, salah satunya Prof. Kiki Fibrianto, STP., M. Phil., Ph.D. Yang dikukuhkan sebagai Profesor aktif ke-30 di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Profesor aktif ke-266 di UB, serta menjadi Profesor ke-436 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan UB.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Kiki menyoroti isu penting yang sering terabaikan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, yaitu kesejahteraan jiwa (mental wellness). Kesejahteraan jiwa merupakan aspek esensial dalam mendukung produktivitas, kualitas hidup, serta ketahanan sosial masyarakat.

Namun, peningkatan prevalensi gangguan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi menunjukkan bahwa pendekatan konvensional, termasuk farmakoterapi dan psikoterapi, belum mampu menjawab tantangan secara komprehensif.

Karena itu, Prof. Kiki menawarkan pendekatan baru yang lebih alami dan holistik, serta dapat diintegrasikan dalam pola hidup sehari-hari. Ia menemukan, daun kopi, yang selama ini dianggap limbah, padahal mengandung senyawa yang bisa memberi efek relaksasi. Untuk menguji manfaatnya, Prof. Kiki mengembangkan Face-DAKO (Facial-based Cognitive Model for Daun Kopi), model berbasis kecerdasan buatan yang menganalisis ekspresi wajah untuk menilai efek relaksasi teh daun kopi.

“Model ini menggabungkan teknologi pangan, ilmu sensori, psikologi, dan ilmu kesehatan untuk mengkaji potensi daun kopi sebagai agen relaksan,” ucapnya.

Prof Kiki Febrianto (kiri) dan dua Profesor UB yang baru dikukuhkan. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Berbeda dari metode sensorik konvensional, teknologi ini lebih akurat, praktis, dan minim subjektivitas. Kebaruan ilmiahnya terletak pada integrasi teknologi pengenalan ekspresi wajah berbasis Al ke dalam analisis kognisi pangan, memungkinkan pengukuran efek relaksasi secara real-time.

“Jadi sebenarnya kami melakukan pemindaian dengan kamera. Kemudian data dari kamera itu kami olah dengan pendekatan Convolutional Neural Network (CNN). Karena senyuman seseorang bervariasi dan memiliki level senyum yang berbeda, itu yang kami coba kuantifikasi,” ujarnya.

“Dari database nanti kami kemudian bisa ngambil kesimpulan, oh orang ini memang benar-benar happy, benar-benar relax atau tidak,” tandasnya.

Pendekatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas kopi nasional. Tetapi juga memberikan kontribusi signifikan dalam upaya memperkuat ketahanan keschatan mental dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, dijelaskan Prof Kiki, teh daun kopi buatannya (teh Dako), sebenarnya tidak hanya memberikan efek relaksasi saja. Tapi juga sebagai anti diabetes dan membantu mengurangi batu ginjal.

“Jadi teh daun kopi ini bisa untuk melurukan batu ginjal. Tapi karena kebutuhan komersial, maka kami brandingnya hanya sebagai minuman penyenggar. Padahal sebenarnya dia bisa untuk berbagai macam punya efek kesehatan,” pungkasnya.

Selain Prof. Kiki Fibrianto, Universitas Brawijaya juga mengukuhkan tiga guru besar lainnya dari berbagai disiplin ilmu.

Mereka adalah Prof. Putu Mahardika Adi Saputra (Ekonomi Internasional) dengan model SPATRA DUAL untuk analisis perdagangan global. Prof. Dr. Budi Santoso, S.H., LL.M. (Hukum Hubungan Kerja) dengan model Flexicurity di era transformasi digital. Prof. Ir. Jenny Ernawati, MSP., PhD (Ratap, Model Rancang Kota Ramah Pejalan Kaki). Serta empat profesor lainnya dari berbagai keilmuan.