Search
Close this search box.
22 Juli 2024

Siap Hilirisasi, Pusat Studi HMI Universitas Ma Chung Terus Kembangkan Mouse Difabel

Kepala Pusat Studi HMI mendemokan penggunaan Mouse Difabel. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Kepala Pusat Studi HMI mendemokan penggunaan Mouse Difabel. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

Reportasemalang – Pusat Studi Human Machine Interaction (HMI) Universitas Ma Chung, terus mengembangkan Mouse Difabel. Untuk membantu penyandang tuna daksa yang tidak memiliki lengan bawah dalam mengoperasikan komputer maupun laptop.

Ketua pusat studi HMI Universitas Ma Chung, Dr Eng Romy Budhi Widodo MT, menjelaskan, penelitian Mouse Difabel ini sebenarnya sudah dilakukan sejak 2018. Hanya saja saat itu penelitiannya masih dilakukan mandiri karena belum punya dana.

Mouse Difabel yang dikembangkan Pusat Studi Human Machine Interaction Universitas Ma Chung. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Mouse Difabel yang dikembangkan Pusat Studi Human Machine Interaction Universitas Ma Chung. (Foto: Agus N/reportasemalang)

“Jadi awalnya saya coba sendiri dengan dana kecil-kecilan. Setelah ada hasil, baru mengajukan proposal dana hibah. Dan waktu itu tahun 2019-2020 dapat dana dari Dikti. Sehingga bisa naik ke level ke skema terapan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Dijelaskan Romy, pada penelitian ada yang namanya Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT). Jadi tahun 2018 itu TKT baru 3. Setelah itu di tahun 2019 sampai 2020, karena dapat pendanaan, TKT-nya meningkat jadi 6.

“Harapannya nanti bisa sampai TKT 9,” ucapnya.

Selama dua tahun memperoleh pendanaan, Romy dibantu tiga orang mahasiswanya, terus mengembangkan Mouse Difabel menjadi lebih baik lagi. Baik dari segi hardware maupun softwere.

Tampilan Modul Foot Mouse Difabel. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Tampilan Modul Foot Mouse Difabel. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Kemudian di tahun 2023, penelitian ini mendapatkan dana lagi dari Kedaireka Matching Fund dengan program hilirisasi. Sehingga Mouse Difabel harus dapat ditingkatkan lagi.

“Untuk hilirisasi ini harapannya bisa naik lagi TKT nya dari 6 menjadi 9. Karena kita sudah bisa menggandeng industri di Surabaya. Dimana mereka tertarik untuk memproduksi Mouse Difabel,” ungkap lulusan Kyusu Institute of Technology Jepang ini.

Karena itu, ia bersama timnya di Pusat Studi HMI terus meningkatkan ‘performa’ softwere dari Mouse Difabel agar bisa diterima pasar.

“Sekarang ditingkatkan ke level industri. Sehingga softwerenya betul-betul bisa langsung diinstal di komputer lain. Karena bulan depan sudah mau kita serahkan ke industrinya,” tandasnya.

Lebih lanjut, Romy menjelaskan cara kerja Mouse Difabel adalah dengan memanfaatkan bagian tubuh yang masih tersisa dan bisa digerakkan.

Tampilan Modul Foot Mouse Difabel. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Tampilan Modul Foot Mouse Difabel. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Dijelaskan Romy, Mouse Difabel ini menggunakan dua modul. Yakni modul arm (lengan) dan modul foot (kaki).

Modul arm dipakai pada lengan bagian atas, untuk menggerakkan kursor ke arah huruf-huruf yang ada pada on screen keyboard. Sedangkan modul foot berada dibagian kaki untuk meng-klik pilihan sekaligus scorll atau menggulirkan halaman.

Menurut Romy untuk modul arm ini tidak menggunakan kabel, tapi menggunakan wifi. Kemudian mengirimkan data sensor ke modul foot. Selanjutnya modul foot ini dihubungkan ke USB sepanjang 1,5 meter ke laptop atau komputer.

“Jadi untuk menghubungkan arm ke foot, kita pakai wifi. Pernah pakai bluetooth, tapi tidak stabil,” jelasnya.

“Semoga dengan Mouse Difabel ini dapat memberikan kemudahan bagi penyandang difabel dalam mengoperasikan komputer,” pungkasnya.

Sementara itu, hilirisasi Mouse Difabel ini diapresiasi Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Murpin Josua Sembiring, SE., M.Si.

Menurut Prof Murpin, peneliti-peneliti seperti Dr Eng Romy Budhi Widodo MT yang merupakan alumni perguruan tinggi di Jepang ini. Mereka sudah terbiasa melihat para Profesor di Jepang bahwa hasil risetnya harus diterapkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Karena keilmuan apapun, tidak boleh hanya berhenti di tulisan artikel maupun jurnal saja. Tetapi harus dapat diterapkan oleh masyarakat,” tuturnya.

Karena menurutnya, di Jepang memang didukung penuh pemerintahnya untuk hilirisasi. Sebab tidak mungkin kampus punya dana untuk hilirisasi.

“Karena untuk uji lab dan uji klinis itu biayanya milyaran. Kampus tidak mungkin bisa mendanai,” ucapnya.

Sehingga Prof Murpin meminta Pemerintah dan dunia industri harus serius memfasilitasi hasil riset dari para peneliti. Agar nantinya bisa terhilirisasi ke masyarakat.

“Jadi kalau ingin maju harus ada hilirisasi. Karena itu pemerintah dan dunia industri harus serius memfasilitasi peralatan, yang tercanggih sekalipun,” pungkasnya. (Agus N)