30 April 2026

Semarak Malang Autism Colors 2025: Ruang Edukasi dan Ekspresi bagi Anak dengan Autisme

Semarak Malang Autism Colors 2025: Ruang Edukasi dan Ekspresi bagi Anak dengan Autisme
Anak autisme MAC bersama para pendamping. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

Reportasemalang – Malang Autism Center (MAC) menggelar acara Malang Autism Colors (MACo) pada 25–26 Oktober 2025 di Malang Creative Center (MCC). Selama dua hari, kegiatan ini akan menghadirkan seminar, kampanye sosial, serta ruang ekspresi bagi anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD).

Acara yang bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat, menghapus stigma, serta merayakan keberagaman ini dibuka langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Wahyu mengapresiasi inisiatif MAC yang telah berkomitmen memperjuangkan hak dan ruang bagi anak-anak dengan autisme. Sehingga melalui seminar bersama para dokter, terapis, dan praktisi, masyarakat dapat memperoleh wawasan baru mengenai autisme melalui pendekatan kampanye sosial.

“Saya mengapresiasi semua kegiatan ini karena kita harus tahu bahwa ada anak-anak surga yang memang harus betul-betul kita fasilitasi dengan baik. Alhamdulillah, MCC menjadi salah satu tempat untuk membimbing, membina, dan mengarahkan mereka. Ini akan menjadi pembelajaran bagi kita semua,” ujar Wahyu.

Foto bersama Wali kota Malang pendiri MAC dan para orangtua. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Wahyu menegaskan bahwa Pemerintah Kota Malang berkomitmen menjadikan Kota Malang sebagai kota inklusif dan ramah disabilitas.

“Komitmen ini sejalan dengan salah satu semangat Dasa Bakti Kota Malang yaitu Ngalam Santun, yang berorientasi pada terciptanya kehidupan masyarakat yang berempati, saling menghargai, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” katanya.

Ia menambahkan, Pemkot Malang terus memperkuat pendampingan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah dasar (SD) dan menengah pertama (SMP) yang menjadi kewenangan pemerintah kota.

“Kami bekerja sama dengan psikiater dari beberapa perguruan tinggi untuk mendata dan mendampingi anak-anak istimewa ini. Beberapa sekolah bahkan telah meraih penghargaan atas upaya mereka mendukung pendidikan inklusif,” jelasnya.

Selain pendidikan, Wahyu menyebut pemerintah bersama perusahaan juga memiliki kewajiban untuk memberikan pelatihan, keterampilan, dan pendampingan agar anak-anak dengan autisme dapat diterima di dunia kerja sesuai kemampuan mereka.

Seminar nasional tentang Autisme (Foto: Agus N/reportasemalang)

Sementara itu, Pendiri Malang Autism Center Mohammad Cahyadi menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemkot Malang terhadap berbagai aktivitas MAC yang sebagian besar dilaksanakan di MCC.

“Secara de facto kami sudah banyak dibantu. Sekitar 90 persen kegiatan pelatihan kami, mulai dari musik, taekwondo, robot edukasi, hingga co-working space, dilakukan di MCC. Walau belum ada kerja sama resmi melalui MoU, dukungan Pemkot, terutama dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, sudah sangat besar,” ujarnya.

Cahyadi menambahkan, pihaknya berencana menjalin kerja sama lebih erat dengan Pemkot Malang, termasuk mengajukan program untuk pendirian sekolah inklusi khusus anak autisme.

“Ke depan, kami ingin berkolaborasi agar ada sekolah inklusi yang fokus pada anak-anak autisme, sesuai dengan keahlian kami di bidang ini,” pungkasnya.