26 April 2026

Satu Abad NU: Menakar Arah Generasi Muda Nahdliyin

Satu Abad NU: Menakar Arah Generasi Muda Nahdliyin
Refleksi Satu Abad NU: Quo Vadis Generasi Muda NU?

Bagikan :

Reportasemalang – Satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) sejak 31 Januari 1926 hingga 31 Januari 2026 tidak hanya menjadi penanda panjangnya sejarah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Momentum ini juga menjadi titik tolak untuk menata ulang arah gerak NU, khususnya peran generasi mudanya di masa depan.

Refleksi tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Refleksi Satu Abad NU: Quo Vadis Generasi Muda NU?” yang digelar oleh Forum Pemuda Nahdliyin Malang Raya pada Minggu malam (25/1/2026). Kegiatan ini dirancang sebagai ruang dialog bagi generasi muda untuk memandang NU secara lebih luas, tidak semata sebagai organisasi struktural, melainkan sebagai gerakan kultural.

Inisiator diskusi, M. Anas Muttaqin, menjelaskan bahwa forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Harlah Satu Abad NU. Diskusi dikemas dalam format kultural yang mempertemukan generasi muda Nahdliyin dari berbagai latar belakang dengan para tokoh NU di Malang Raya, tanpa sekat struktural organisasi.

“Ini forum kultural. Tidak ada ketua, tidak ada anggota, tidak ada senior atau junior. Semua setara. Kami ingin menyediakan ruang diskusi bagi anak-anak muda NU yang selama ini telah berkiprah di berbagai sektor, mulai dari aktivis organisasi, jurnalis, akademisi, politisi, hingga birokrasi,” ujar Anas.

Satu Abad NU: Menakar Arah Generasi Muda Nahdliyin
Inisiator diskusi, M. Anas Muttaqin

Menurut Anas, keberagaman latar belakang pemuda Nahdliyin justru menjadi kekuatan untuk memperkaya perspektif dalam membaca arah masa depan NU. Pasalnya, banyak dari mereka yang aktif di bidang politik, media, pemerintahan, dan pendidikan.

Oleh karena itu, diskusi publik ini tidak hanya dimaksudkan sebagai peringatan simbolik satu abad NU, melainkan juga sebagai momentum evaluasi dan refleksi arah gerak generasi muda Nahdliyin ke depan.

“Sekaligus menjadi ruang refleksi agar pemuda NU tetap memiliki kompas moral dan ideologis sebagai kader Nahdlatul Ulama,” tambah Anas yang juga menjabat Ketua Komisi C DPRD Kota Malang.

Ia menegaskan, generasi muda NU membutuhkan ruang dialog yang jujur, terbuka, dan inklusif agar tidak tercerabut dari akar kultural serta tradisi pesantren.

“Kita membutuhkan kritik dan gagasan segar tentang bagaimana generasi NU melangkah ke depan, menjadi generasi yang modern tanpa kehilangan identitas,” tandasnya.

Sementara itu, pengamat sosial politik Universitas Brawijaya, Dr. Muzakki, menilai bahwa NU sejak awal dibentuk oleh gagasan besar dan keberanian para tokohnya dalam mengambil sikap pada berbagai fase sejarah Indonesia.

“Jika ingin menjawab ke mana arah generasi muda NU, maka ada tiga agenda besar yang harus terus diperjuangkan, yakni reorientasi gerakan, refleksi ulang arah perjuangan, dan regenerasi kepemimpinan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam perspektif ekonomi politik, NU memiliki potensi yang nyaris tak tertandingi di Indonesia. Jaringan kelembagaan NU sangat luas, basis massanya besar, dan pengaruh sosialnya menjangkau hingga pelosok desa.

Muzakki juga menyoroti potensi demografi NU yang sangat besar. Sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif, yang mayoritas didominasi oleh generasi Z dan milenial, dan sebagian besar merupakan bagian dari keluarga besar NU.

“Potensi ini harus dibicarakan dan dipikirkan secara serius karena mereka akan menentukan wajah NU ke depan,” kata mantan wartawan tersebut.

Namun demikian, Muzakki menegaskan bahwa NU tidak dapat hanya mengandalkan pendidikan formal dalam mencetak kader masa depan. Disrupsi teknologi berbasis internet telah mengubah cara generasi muda belajar, bekerja, dan berorganisasi, yang turut menggeser orientasi pemuda NU ke sektor formal seperti birokrasi dan institusi negara.

“Tidak masalah jika kader NU menjadi diaspora di berbagai bidang. NU harus menjadi rumah besar bagi siapa pun,” ujarnya.

Selain Dr. Muzakki, diskusi publik ini juga menghadirkan penulis buku Napak Tilas Menjelang Satu Abad NU Fauzan Alfas, Sekretaris PCNU Kota Batu Gus Fathul Yasin, serta dimoderatori oleh Pemimpin Redaksi Times Indonesia, Yatimul Ainun.