Search
Close this search box.
11 Juli 2024

Revitalisasi Pasar Wilis, DPRD Kota Malang Sarankan Ada Sentuhan Digital

Arief Wahyudi sedang berdialog dengan salah satu pedagang Pasar Buku Wilis. (Foto: Ist)

Bagikan :

Reportasemalang – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang menyarankan agar ada penambahan sejumlah fasilitas pada revitalisasi Pasar Wilis saat ini. Tujuannya, agar revitalisasi tersebut bisa betul-betul berdampak pada meningkatnya kunjungan ke kawasan pertokoan buku ini.

Sekretaris Komisi B DPRD Kota Malang, Arief Wahyudi SH mengatakan, salah satu fasilitas yang mungkin bisa ditambahkan yakni seperti ruang yang bisa digunakan untuk berbagai aktifitas. Seperti ruang diskusi, ruang membaca buku, atau ruang yang bisa digunakan untuk nongkrong.

“Harapannya ada tambahan fasilitas, misal diadakan satu ruang khusus untuk penerapan digitalisasi. Sehingga orang kesana tidak hanya ke toko buku, bisa nongkrong, bisa maen gadget. Kalau sekadar itu sebenarnya tidak susah,” jelas Arief Wahyudi ( AW), Jumat (10/11/2023).

Bahkan menurutnya juga akan sangat bagus jika fasilitas berupa ruang tersebut dapat dilengkapi dengan koneksitas atau jaringan internet. Sebab saat ini menurutnya, sarana untuk membaca tidak hanya dilakukan melalui buku saja. Namun juga bisa dilakukan menggunakan teknologi e-book.

“Sekarang kan juga banyak digitalisasi buku. Jadi kalau disediakan dengan fasilitas mumpuni seperti wifi yang kenceng, tempat nyaman, akan banyak dikunjungi,” terang Arief.

Arief mengatakan, setidaknya hal itu diharapkan bisa meningkatkan kunjungan masyarakat ke kawasan toko buku yang berada di Jalan Wilis. Dan selanjutnya juga diharapkan dapat memberikan efek secara berkelanjutan dalam meningkatkan pendapatan para pedagang di kawasan tersebut.

“Saya yang akan mengusulkan dalam pembahasan. Karena ada di Diskopindag, jadi mitra saya di komisi B,” imbuh.

Arif menilai hal tersebut memang perlu dilakukan. Mengingat keberadaan Toko Buku Wilis juga menjadi salah satu landmark di Kota Malang. Dan cukup terkenal, apalagi bagi Kota Malang yang banyak ditinggali oleh para mahasiswa.

“Itu satu-satunya di Malang, bahkan cukup terkenal,” pungkas Arief.