Search
Close this search box.
14 Juli 2024

Ramadhan Lecture Bersama Gus Muwafik

Reprtasemalang
Akhmad Muwafik Saleh, S. Sos., M. Si., Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwir Al-Afkar Malang. (Foto: Rafy/reportsemalang)

Bagikan :

ReportasemalangKota Malang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Koordinator Komisariat Brawijaya Malang menghadirkan Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP, Ketua Umum ICMI Malang & Wakil Rektor 1 UB dan Akhmad Muwafik Saleh, S. Sos., M. Si., Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwir Al-Afkar Malang sebagai pemateri dalam acara Ramadhan Lecture (Kuliah Ramadhan) yang diselenggarakan di Masjid Baitul ‘Alim FIA UB pada sore hari hingga waktu berbuka. Jum’at, (14/04/2023)

Ramadhan Lecture hari itu dengan tema “Ramadhan sebagai Penguat Nilai Keislaman dan Keindonesiaan” menyajikan kuliah singkat tentang Ramadhan yang menjadi wadah membentuk individu yang berkualitas dari segi spiritual dan sosial. Berkaitan dengan hal tersebut, Gus Muwafik menyampaikan bahwasanya Islam membawa aturan-aturan yang berkenaan dengan kehidupan manusia agar dapat tercipta individu yang berkualitas, sehingga mampu untuk mengelola sumber daya alam dengan baik.

Manusia menjadi unsur penting bagi terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik, maka kualitas dari aspek sumber daya manusia menjadi sangat perlu untuk ditingkatkan agar dapat bermanfaat bagi kehidupan bernegara.

Membangun Indonesia menurut Gus Muwafik terdiri dari tiga aspek, yaitu sistem, sumber daya manusia, dan sumber daya alam. Ketiga aspek tersebut perlu untuk dibingkai dalam suatu tatanan, di mana dalam hal ini Islam menawarkan syariat sebagai bingkai agar ketiga aspek tersebut menjadi berkah.

Islam sebagai sebuah agama menjadi dasar-dasar nilai bagi penyusunan dan pengimplementasian sistem dalam kehidupan bernegara. Selain itu, Islam dengan syariatnya dapat menjaga manusia dari kehancuran.

Mengingat manusia memiliki kebebasan dan cenderung untuk memperluas kebebasannya, maka Islam berupaya membingkai kebebasan manusia tersebut agar terbentuk individu yang berkualitas.

“Islam dengan syariatnya menjaga manusia dalam lima aspek, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Islam itu menjaga semua itu agar kehidupan manusia itu menjadi teratur” jelas beliau.

Manusia merupakan pelaku dalam kehidupan bernegara, sehingga Islam membangun manusia melalui sistem yang dilandasi oleh syariat agar kehidupan menjadi teratur. Dalam hal ini, syariat Islam menguatkan potensi-potensi sumber daya manusia melalui amal-amal ibadah yang telah ditetapkan. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas, maka sumber daya alam akan mampu dikelola dengan baik dalam keberlangsungan kehidupan bernegara.

Gus Muwafik kemudian menjelaskan, “Tulisan saya hari ini, yaitu saya kasih judul puasa adalah sebagai sekolah bagi kita untuk menahan beragam macam fitnah. Puasa ini sekolah, kita diajarkan dalam selama satu bulan bagaimana kemudian hawa nafsu yang pada awalnya ingin bergerak bebas ditahan. Cara menahannya adalah perut dulu jadi produk ke bawahnya ditahan. Level selanjutnya adalah perut ke atas, bagaimana kemudian menahan lisan, menahan mata, menahan telinga, menahan tangan dari hal-hal yang buruk.”

Puasa adalah sekolah yang mengajarkan manusia untuk mengendalikan pikiran dan perbuatan dari keburukan dan mengajarkan untuk mengerjakan kebaikan, sehingga secara tidak langsung puasa dapat membentuk aspek keindonesiaan individu menjadi lebih baik.

Dengan kata lain, puasa ini merupakan bagian dari sistem yang terdapat dalam Islam, sebagai sekolah yang mengajarkan manusia untuk menghindari keburukan dan melakukan kebaikan yang output-nya adalah individu yang bertakwa.

Menurut Toto Tasmara dalam bukunya yang berjudul ‘Membudayakan Etos Kerja Islami’, takwa didefinisikan dengan bentuk tanggung jawab (responsibility).

Responsibility diartikan sebagai bentuk tanggung jawab individu terhadap potensi-potensi yang diberikan oleh Allah Swt. kepadanya dengan cara menghasilkan karya-karya yang berdampak baik pada kehidupan manusia.

Kualitas manusia ditingkatkan melalui puasa, dan kemudian menghasilkan individu yang bertakwa, yaitu individu yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Ada rasa tanggung jawab yang hebat seorang muslim yang telah menjalani puasa. Dia memiliki tanggung jawab yang hebat atas kebangsaannya dengan menghadirkan potensi kemampuannya untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran bangsa ini. Seorang muslim yang hebat dia akan mengoptimalkan potensinya untuk bangsa ini, mungkin dengan ilmunya, pengusaha dengan aktivitas perekonomiannya, teknotrat dengan berbagai teknologinya, dengan profesi apa pun. Melalui Ramadan, terbentuk manusia yang bertanggung jawab. Itu yang kemudian disebut dengan Takwa,” jelas Gus Muwafik.

Orang yang berpuasa harusnya melahirkan pribadi yang profesional dan bertanggung jawab dengan potensinya, sehingga seorang muslim pasti seorang yang Ihsan. Pribadi yang Ihsan atau disebut pribadi muhsin merupakan individu yang mengerjakan ibadah seolah-oalah melihat Allah Swt dan mengetahui bahwa Allah Swt melihatnya, sehingga dalam kehidupannya senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt.

Karena perbuatannya merasa diawasi, maka pribadi muhsin akan senantiasa bertindak profesional dan bertanggung jawab, sehingga dapat memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. (Faiz)