Search
Close this search box.
17 Juli 2024

Muhadjir Effendy Tegaskan Peran Muhammadiyah dalam Membangun Indonesia

Reportasemalang
Sarasehan Pra-Muktamar Muhammadiyah. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

ReportasemalangKota Malang, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI, Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP, menegaskan peran Muhammadiyah dalam membangun Indonesia. Bahkan telah dimulai sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Hal ini disampaikannya dalam Sarasehan Pra-Muktamar Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (3/9/2022).

Menurutnya, usia seratus tahun bagi bangsa masih dianggap sebagai usia yang muda. Bahkan Muhammadiyah lebih tua karena berdiri sebelum Indonesia merdeka.

“Jadi sudah sepatutnya Indonesia belajar banyak hal dari Muhammadiyah yang lebih tua,” tuturnya.

Reportasemalang
Menko PMK RI, Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Apalagi dikatakan Muhadjir, jika di lihat, sistem dan kepribadian Muhammadiyah yang lebih matang.

“Ini bisa jadi bahan yang bagus bagi bangsa untuk membenahi kekurangan yang ada,” tandasnya.

Lebih lanjut, Muhadjir menegaskan, penduduk dengan usia produktif memiliki peran penting. Jika mereka bekerja dengan produktif, maka pendapatannya akan mengalir pada tiga hal. Yakni kebutuhan diri, pembiayaan bagi usia non-produktif, serta tabungan. Besar kecilnya tabungan ini baik dari segi individu maupun agregat akan jadi taruhan negara dalam upaya menjadi negara maju.

“Kalau kita mampu memanfaatkan bonus demografi dan penduduk memiliki pendapatan yang tinggi, maka kita bisa menjadi negara maju. Kalau tidak bisa memanfaatkannya, maka bonus demografi akan menjadi sia-sia atau gagal,” ungkapnya.

Sementara itu turut hadir dalam sarasehan tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak mengatakan, dalam dokumen Indonesia Emas 2045, Indonesia diharapkan mampu menjadi negara maju.

Menurutnya, salah satu dari lima kekuatan ekonomi dunia, dan memiliki sumber daya manusia yang unggul. Selain itu, tingkat penguasaan Iptek yang tinggi dan kesejahteraan yang lebih baik serta merata.

“Diperkirakan pada 2030, Indonesia akan masuk ke lima besar dunia dengan besaran 5,42 triliun USD,” sebutnya.

Menurutnya, target lima besar ini sangat mungkin dicapai, bahkan jauh sebelum 2045. Namun ada tantangan-tantangan yang harus segera diatasi. Dua di antaranya pengangguran generasi muda dan ancaman hilangnya pekerjaan di masa depan karena disrupsi teknologi.

“Saya sangat bangga dan mengapresiasi salah satu inovasi solutif yang dilakukan oleh UMM. Dengan membangun Center for Future of Work (CFW) dan Center of Excellence (CoE) di kawasan ekonomi khusus Singhasari,” pungkasnya. (Agus N)