Search
Close this search box.
12 Juli 2024

Manfaatkan AI, Dosen Universitas Ma Chung Teliti Pendeteksi Malaria dan Retinopati Diabetik

Windra Swastika, PhD, menunjukkan salah satu hasil penelitian pendeteksi Malaria. (Foto: Agus N/reportasemalang)
Windra Swastika, PhD, menunjukkan salah satu hasil penelitian pendeteksi Malaria. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Bagikan :

Reportasemalang – Saat ini, Artificial Intelligence (AI) semakin umum dimanfaatkan pada proses diagnostik sejumlah penyakit. Diantaranya penyakit Malaria dan Retinopati Diabetik.

Seperti halnya yang dilakukan Dosen Teknik Informatika Universitas Ma Chung, Windra Swastika, PhD. dalam penelitiannya.

Deteksi Malaria
Hingga saat ini penyakit malaria masih menjadi ancaman di sejumlah daerah di Indonesia. Malaria sendiri merupakan penyakit infeksi menular yang menyebar melalui gigitan nyamuk. Sehingga deteksi dini diperlukan untuk menekan angka kematian.

Sayangnya, diagnosis malaria umumnya memakan waktu. Dan hasil akurasi diagnosisnya bergantung pada tingkat keahlian serta pengalaman dokter atau ahli patologi yang menangani.

Hal ini yang kemudian mendasari Dosen Teknik Informatika Universitas Ma Chung, Windra Swastika, PhD melakukan penelitian berbasis pengolahan citra dengan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI). Untuk mendeteksi parasit malaria, dengan akurasi diatas 90 persen.

Hasil penelitian Windra Swastika, PhD, pendeteksi Malaria. (Foto: Ist/reportasemalang)
Hasil penelitian Windra Swastika, PhD, pendeteksi Malaria. (Foto: Ist/reportasemalang)

Diceritakan Windra sapaan akrabnya, penilitian deteksi malaria sudah dilakukannya sejak 2021. Melalui dana hibah dari Kemendikbud.

Kasus penyakit malaria sering terjadi di daerah-daerah terpencil seperti di NTT atau di Papua. Dimana fasilitas medisnya masih terbatas.

Padahal deteksi malaria itu harus cek laboratorium dengan mengambil darahnya. Kemudian darahnya dilihat mikroskop. Dan harus ada laboran yang melihat apakah itu benar ada parasit malaria atau tidak.

Karena itu Windra melakukan penelitian untuk deteksi malaria tanpa membutuhkan peralatan yang canggih. Tapi cukup dengan gambar atau citra sel darah merah saja.

“Dengan menggunakan AI atau kecerdasan buatan itu cukup pakai citra sel darah merah. Kemudian programnya bisa mendeteksi ada infeksi malaria atau tidak,” ujarnya.

Menurutnya, dengan memanfaatkan AI ,peranan manusia sudah berkurang. Jadi tidak perlu lagi dari laboran atau para medis yang melihat apakah ada parasit atau tidak di situ.

Tapi cukup dibaca oleh programnya, kemudian memberikan prediksi apakah ini malaria atau tidak. Kalau malaria, kemungkinannya berapa persen.

“Kita kemarin menggunakan data sampel sekitar 20 ribu data. Dari 20 ribu data itu, akurasinya bisa di atas 90 persen untuk deteksi parasit malarianya,” jelas Windra.

Dikatakan Windra, selain akurasinya diatas 90 persen. Untuk mendapatkan hasilnya juga lebih cepat.

“Waktu uji coba kemarin, satu citra tidak sampai 5 detik hasilnya sudah keluar. Kalau yang biasanya, sekitar 10 menit,” ucapnya.

Lebih lanjut, pria yang juga menjabat Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Universitas Ma Chung ini mengatakan, arah pengembangan deteksi malaria yang ia teliti nantinya bisa pakai smartphone. Jadi sel darah merahnya bisa difoto lewat mikroskop, kemudian bisa langsung kelihatan terdeteksi.

“Program ini sudah memiliki hak cipta di tahun 2022. Dan tahun ini targetnya sudah bisa diintegrasikan ke smartphone,” tuturnya.

“Penelitian ini melibatkan tiga orang mahasiswa. Agar mereka paham betul bagaimana proses penelitian dari awal sampai akhir itu seperti apa,” tandasnya.

Windra Swastika, PhD, menyampaikan pemaparan hasil penelitian pendeteksi Malaria. (Foto: Ist/reportasemalang)
Windra Swastika, PhD, menyampaikan pemaparan hasil penelitian pendeteksi Malaria. (Foto: Ist/reportasemalang)

Deteksi Retinopati Diabetik
Tidak sampai di situ, ayah dari tiga orang anak ini di tahun 2023 juga melakukan penelitian untuk deteksi Retinopati Diabetik. Pasalya, penderita diabet, entah itu diabet tipe 1 atau tipe 2, ada peluang 80 persen terkena mata atau istilahnya Retinopati Diabetik.

“Kalau Retinopati Diabetik ini tidak ditangani dengan cepat, bisa menyebabkan kebutaan permanen,” ungkapnya.

Menurutnya, Retinopati Diabetik memiliki level, mulai level 1,2,3 dan 4. Yang berat itu level 4, sudah tidak bisa disembuhkan.

“Jadi kalau bisa dideteksi muali awal, paling tidak bisa segera ditangani,” ucapnya.

Masalahnya lanjut Windra, masyarakat belum aware kalau ada Retinopati Diabetik. Karena untuk chek up biayanya mahal dan harus pakai spesialis dokter mata untuk melihat ada Retinopati Diabetik nya atau tidak.

Dijelaskan Windra, pada penelitian deteksi Retinopati Diabetik caranya juga sama dengan menggunakan gambar citra. Citranya itu citra yang memfoto yang berada di belakang retina mata.

“Karena ini masih di tahun pertama dan baru dilakukan penelitian, jadi akurasinya sekarang masih 70 persen,” sebutnya.

“Yang saya coba kembangkan sekarang agar bisa menggunakan smartphone yang ditambah lensa tele untuk memfoto,” pungkasnya.

Apresiasi Rektor Universitas Ma Chung

Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Murpin Josua Sembiring, SE., M.Si. mengakui kemampuan Windra Swastika, PhD. sebagai salah satu ahli IT yang dimiliki Ma Chung. Utamanya dalam pemanfaatan Artificial Intelligence dalam berbagai bidang.

Disampaikan Prof Murpin, tim ini juga sudah terbukti membantu kebun sawit di Sumatera Utara. Dengan menggunakan drone, mampu mendeteksi di areal mana saja yang terkena hama dan jenis hamanya apa.

“Jadi logika berpikirnya seorang ahli IT tentu bisa dipakai apapun termasuk untuk kesehatan. Karena kedalaman dari semua keilmuan pertanian maupun kesehatan itu sebenarnya dilakukan oleh IT,” ujarnya.

Kedepan, menurutnya ilmu memang tidak bisa mengandalkan ego masing-masing. Karena harus saling bersinergi dan berkolaborasi.

“Sehingga Masyarakat dapat dimudahkan dengan inovasi-inovasi yang dihasilkan para ilmuan,” tandasnya. (Agus N)