Search
Close this search box.
11 Juli 2024

Kolaborasi UM dengan BWCF Selenggarakan The 12th Borobudur Writers and Cultural Festival 2023

Konferensi pers The 12th Borobudur Writers and Cultural Festival 2023. (Foto: Agus N/repotasemalang)

Bagikan :

Reportasemalang – Universitas Negeri Malang (UM) semakin mengokoh diri sebagai kampus rujukan kebudayaan. Dengan berkolaborasi bersama BWCF Society untuk menyelenggarakan The 12th Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2023.

Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM, Dr Daya Negri Wijaya SPd MA menjelaskan, pada 19 September 2023 yang lalu, UM telah menandatangani Memorandum of Agreement (MoU) denga BWCF Society.

“Salah satunya menjadi lokasi penyelenggaraan The 12th BWCF 2023,” ujarnya saat konferensi pers, Selasa (21/11/2023).

UM memberikan fasilitas dalam bentuk beberapa ruangan tempat untuk penyelenggaraan BWCF. Diantaranya Aula FIS, Aula A19, A20, A18, Perpustakaan, Aula Sastra.

“Selain itu kita juga menghimpun beberapa mahasiswa sebagai volunteer untuk terselenggaranya acara ini,” ujarnya.

Penampilan Tari Topeng. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Lebih lanjut disampaikan Wijaya, benefit dari diselenggarakannya The 12th BWCF 2023 bagi UM adalah sebagai promosi UM. Karena tanpa disadari, yang membranding sesuatu dan menyampaikan kepada hal layak itu yang kemudian menjadi tolak ukur bagaimana UM bisa di dikenal oleh hal layak.

Keuntungan berikutnya adalah UM dapat menjadi rujukan dalam bidang kebudayaan. Sehingga kalau ingin tahu sejarah budaya, kebudayaan Indonesia, datang ke UM. Karena banyak pakar yang ada di UM seperti Prof. Dr. Hariyono (Sejarah), Dr. Deny Yudo Wahyudi (Arkeologi), Ismail Lutfi, M.A. (Epigrafi), Prof. Dr. Djoko Saryono (Sastra Indonesia), dan Dr. Robby Hidajat (Seni).

“Dengan begitu kami berharap UM bisa menjadi pusat kebudayaan, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia,” tandasnya.

Kasep Sejarah FIS UM, Dr Daya Negri Wijaya. (Foto: Agus N/reportasemalang)

Sementara itu, Perintis BWCF 2023, Seno Joko Suyono menjelaskan kegiatan BWCF kali ini untuk merayakan pemikiran Almarhum Prof. Dr. Edi Sedyawati. Mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (1993-1998).

Menurut Seno, Edi Sedyawati merupakan sosok intelektual yang memiliki banyak dimensi pemikiran. Beliau adalah seorang arkeolog yang mumpuni, seorang pengamat tari (dan juga penari) yang luas pengetahuannya akan karya tari baik tradisi maupun modern.

“Serta seorang birokrat kebudayaan yang memiliki pengaruh sangat besar dalam kebijakan-kebijakannya,” ungkapnya.

Malang sendiri lanjut Seno, memiliki keterkaitan erat dengan almarhumah Edi Sedyawati. Pasalnya, disertasi almarhumah diketahui banyak mengangkat isu-isu di Malang. Hal ini terutama tentang arca-arca Ganesha pada periode Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Kadiri.

“Disertasi milik almarhumah termasuk yang cukup legendaris di kalangan arkeolog. Sebab, tingkat dan mutu akademiknya sangat tinggi. Maka itu, pihaknya ingin menghelat BWCF di Malang karena untuk memperingati kematian dan disertasi almarhumah,” tandasnya.

The 12th BWCF 2023 “Tribute to Edi Sedyawati” sedianya bakal digelar selama lima hari, 23-27 November 2023. Dengan sejumlah rangkaian acara mulai dari pidato kebudayaan, launching buku, dokumenter, lecture, bazar buku. Serta workshop yang berkaitan dengan dunia arkeologi dan tari yang digeluti oleh Bu Edi, hingga pergelaran seni pertunjukan dan sastra.