Search
Close this search box.
22 Juli 2024

Hubungkan Dunia Industri dengan Perguruan Tinggi, UB Gelar Innovation Gathering

Bagikan :

ReportasemalangKota Malang, mengambil tema ‘Bridging the Gap Strengthening the Link Between Industry and University’, Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis (Di2B) Universitas Brawijaya menggelar Innovation Gathering dengan sejumlah stakeholder. Bertempat di Hotel Atria, Kamis (25/5/2023).

Direktur Di2B UB, M Iqbal, SSos MIB DBA menjelaskan, agenda hari ini tentang innovation gathering dengan tema menghubungkan antara industri dengan perguruan tinggi.

“Maksud dan tujuan diselenggarakannya acara ini adalah kami ingin di direktorat inovasi dan inkubator bisnis mampu mengumpulkan potensi-potensi terbaik dari para inovator, kreator maupun inventor kita,” ujarnya.

Dimana UB selalu berupaya untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi dan peluang kolaborasi diantara UB dengan para inventor. Harapannya adalah potensi-potensi terbaik UB ini nantinya akan terkoneksi dengan industri.

“Sehingga hasil paten maupun hasil riset berupa hak cipta dan lain sebagainya ini nantinya ketika terhilirkan ke masyarakat dan komersialkan. Maka ini akan punya nilai ekonomi, maupun nilai kemanfaatan sosial yang besar bagi masyarakat,” tandasnya.

Direktur DIIB UB M Iqbal, Wakil Rektor V Prof.Dr. Unti Ludigdo, Plt. Deputi Pemanfatan Riset dan Inovasi BRIN Dr. R. Hendrian. (Foto: Agus N /reportasemalang)
Direktur DIIB UB M Iqbal, Wakil Rektor V Prof.Dr. Unti Ludigdo, Plt. Deputi Pemanfatan Riset dan Inovasi BRIN Dr. R. Hendrian. (Foto: Agus N /reportasemalang)

Lebih lanjut, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Prof.Dr. Unti Ludigdo, SE.,MSi.,Ak. mengatakan, kegiatan ini merupakan upaya UB untuk mendaya fungsikan berbagai inovasi. Yang sudah dihasilkan oleh para dosen dan mahasiswa.

“Dimana Universitas Brawijaya sendiri sudah ada 7 ratusan paten yang dihasilkan oleh para dosen dan juga sebagian dari mahasiswa,” sebutnya.

Namun sayangnya paten yang dihasilkan itu dirasa belum memberikan kemanfaatan kepada masyarakat. Dalam pengertian paten yang prosesnya melalui riset dan dengan biaya yang tidak rendah itu belum memberikan kemanfaatan.

“Baik untuk dikonsumsi yang berupa makanan, berupa pakaian maupun berupa basis teknologi tersebut belum termanfaatkan teknologinya, karena belum terhilirisasi. Kami masih sangat terbatas koneksinya dengan industri, pun demikian kami sangat terbatas untuk berproduksi,” ungkapnya.

Karena itu melalui Innovation Gathering ini UB berusaha bersama-sama para inventor berkomunikasi dengan para stakeholder. Untuk mendapatkan spirit bagaimana menghilirisasi inovasi.

“Sekaligus bagaimana kami harus membangun kemitraan, kemudian bagaimana jika mungkin kami membuat aplikasi, membuat suatu area industri, ini kami pelajari,” tuturnya.

Salah satu inovasi buatan UB. (Foto: Agus N /reportasemalang)
Salah satu inovasi buatan UB. (Foto: Agus N /reportasemalang)

Ini adalah salah satu langkah awal UB untuk menuju ke sana. Ditambah lagi UB sudah menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum.

Dimana UB sudah tidak lagi boleh berasumsi semua pendanaan untuk pendidikan termasuk di dalamnya untuk membangun fasilitas itu bersumber dari UKT. Tetapi harus ada sumber-sumber mandiri yang dikreasi yang itu salah satunya dari inovasi yang dihilirisasi.

“Pertemuan hari ini kita harapkan menjadi jembatan itu,” tandasnya.

Sementara itu Plt. Deputi Pemanfaatn Riset dan Inovasi BRIN, Dr. R. Hendrian, MSc mengaku sangat menyambut baik dan siap membantu UB. Untuk menghubungkan antara dunia industri dan dunia akademisi atau dunia riset.

“Saya kira memang masih menjadi salah satu agenda penting yang harus diselesaikan. Dan itu akan bisa lebih cepat diselesaikan apabila kita menyelesaikan bersama-sama.

Karena itu, dirinya sebagai Deputi pemanfaatan riset dan inovasi memang diberi tugas untuk menghilirisasi paten produk inovasi yang dihasilkan periset di mana saja di Indonesia. Supaya tidak berhenti semata-mata sebagai satu paten dan produk inovasi.

“Jadi antara pasar dengan dunia riset itu dua dunia yang berbeda dan memang harus dibangun jembatan yang bagus di situ. Kalau tidak, maka dunia riset ini akan berhenti sebagai sebuah dunia riset yang tidak berdampak cukup signifikan terhadap pembangunan perekonomian berbasis scientific,” tuturnya.

Hilirisasi memang tidak muda karena ada satu area yang disebut lembah kematian dimana tidak seluruh paten atau tidak seluruh produk inovasi itu secara mudah bisa masuk pasar.

“Karena itu kita harus duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini. Supaya hasil-hasil yang diproduksi oleh para periset ini bisa betul-betul masuk ke pasar,” ucapnya.

“Jadi kesimpulannya kami sangat setuju dan mendukung sekali, rasanya perlu ada satu gerakan untuk menghubungkan semua aktor yang terlibat. Supaya dunia riset itu bisa hidup, bukan berhenti sebagai paper, paten, kekayaan intelektual, tetapi betul-betul bisa masuk ke pasar,” pungkasnya.