Search
Close this search box.
22 Juli 2024

Hegemoni Sistem Perguruan Tinggi

Reportasemalang

Bagikan :

ReportasemalangNasional, Pendidikan hanya untuk segelintir orang! Sangat miris jika melihat realitas pendidikan hari ini yang berimplikasi adanya marginalisasi pendidikan hanya untuk orang yang punya kuasa dan modal.

Akses untuk mendapatkan pendidikan formal dalam wadah institusi (Universitas) secara eksplisit hanya dimiliki segelintir orang dan ini jauh dari cita-cita bangsa yang termaktub dalam pembukaan UUD 45 alinea 4 yang berbunyi “Mencerdaskan kehidupan bangsa…”, terjadi degradasi makna dari cita-cita tersebut. Hal ini tidak lepas secara historikal bahwa Indonesia sejak tahun 1994 tergabung dalam WTO (World Trade Organization) yang merupakan salah satu organisasi perdagangan Dunia, dimana WTO telah menempatkan pendidikan sebagai salah satu sektor yang harus bergerak bebas tanpa kendali negara. Dengan ditempatkannya pendidikan sebagai sektor yang diliberalisasi maka tatanan global telah menempatkan pendidikan sebagai sektor jasa yang bersifat komersial.

Penyokong fundamentalisme pasar selalu berargumen, liberalisasi akan semakin menguntungkan konsumen karena bekerja berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran yang melahirkan keseimbangan pasar. Keseimbangan dalam pasar tersebut merupakan titik optimal bagi konsumen untuk mengakses jasa/barang yang diinginkannya, dalam hal ini harapannya adalah makin murahnya pendidikan dan semakin mudah diakses. Konsumen pun bebas menentukan jasa pendidikan mana yang ingin dinikmatinya.

Padahal terdapat beberapa kekeliruan paradigma dalam pandangan neoliberalisasi terhadap pendidikan yang dapat menyebabkan pendidikan menjadi sesat jalan jika semata-mata diserahkan pada mekanisme pasar. Pertama, pendidikan dilihat semata-mata sebagai cara untuk mengembangkan individu agar siap berkompetisi. Konsekuensinya, pendidikan akan menjadi pencetak pelaku-pelaku yang saling berkompetisi di pasar kerja. Kedua, pendidikan diposisikan sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan di pasar untuk uang atau status.

Keahlian atau pengetahuan yang ditawarkan oleh pendidikan, sebagai komoditas, pun menjadi cerminan dari pasar itu sendiri. Misal, tingginya kebutuhan pasar akan tenaga sektor teknologi informasi akan mendorong tingginya penawaran akan pendidikan berbasis teknologi informasi. Hal sudah sangat jauh pemaknaan pendidikan itu sendiri.

Salah satu Founding person bangsa yaitu Bung Karno memiliki cita-cita besar untuk bangsa ini yang bukan melulu memikirkan pembangunan ekonomi melainkan adanya nation and character building didasari oleh pendidikan. Peradaban yang maju bukan dilihat dari bangunan-bangunan tingginya tetapi dari struktur sosialnya yang menjungjung tinggi intelektualitas dan moralitas.

Perguruan Tinggi sudah jauh dari konotasi cita-cita bangsa dengan gencar-gencarnya pembangunan infrastruktur dimana-mana, eksistensi ini tidak sejalan dengan idealitas mahasiswa. Mahasiswa dijadikan sebagai donatur tetap untuk pembangunan mesin-mesin besar itu. Adanya relasi kuasa dan relasi modal membuat komiditi baru dalam bidang pendidikan yaitu Perguruan Tinggi,

Banyak dari kita teralienasi dengan kondisi sekarang dengan membiarkan hal tersebut terjadi terus menerus, sikap pasrah dan apatis melanggengkan situasi ini sehingga kita terjebak dan terkondisikan. Tan Malaka salah satu filsuf kontemporer dalam bukunya “Aksi Massa” berpendapat bahwa niscaya adanya perubahan jika belum adanya kesadaran kolektif, keresahan yang merajalela akan konsisten dan berdiri tegak karena kurangnya kesadaran bahwa kita dalam keadaan terdesak untuk melawan.

Perlu adanya pembacaan realitas yang tuntas, sistematis dan komprehensif untuk menjawab tantangan besar ini demi mewujudkan Indonesia Goals 2045 dan merevitalisasi nilai-nilai luhur untuk mewujudkan cita-cita bangsa ini yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? berdiam diri atau MELAWAN.

*) Penulis : Abdul Kadir Makmur (Presiden KEMAPI FIKP Unhas)

**) Seluruh isi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

***) Reportasiana terbuka untuk khalayak umum sebagai media edukasi masyarakat. Kirimkan artikel kamu dengan maksimal 5000 kata, lengkapi dengan Foto Pribadi, Curriculum Vitae (CV) dan No telpon/ WA yang bisa kami konfirmasi. Pengiriman berkas di alamat email ; [email protected] atau ke No WA ; 0881-0820-79809