22 Mei 2026

Guru Besar FSTeM UB: Matematika Tidak Tergantikan AI

Guru Besar FSTeM UB: Matematika Tidak Tergantikan AI
Guru Besar FSTeM UB, Prof. Agus Suryanto

Bagikan :

Reportasemalang – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif di berbagai sektor memunculkan kekhawatiran baru terkait peran manusia di masa mendatang. Namun demikian, Guru Besar Departemen Matematika Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Agus Suryanto menilai matematika tetap menjadi keunggulan mendasar manusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan kecerdasan buatan.

Hal ini disampaikan Prof Agus Suryanto dalam kegiatan ‘Ngopi Sam’ yang digelar FSTeM UB, Kamis (21/5/2026). Menurutnya, AI yang saat ini dianggap sebagai teknologi paling mutakhir sejatinya dibangun di atas fondasi matematika yang dikembangkan manusia.

“AI itu sebenarnya dibangun oleh matematika. Semuanya berangkat dari algoritma. Bagaimana mencari data dengan cepat, mengelola data, sampai muncul AI itu, semuanya berasal dari matematika,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kemampuan AI pada dasarnya masih bertumpu pada pola dan data yang telah tersedia sebelumnya. Mesin bekerja melalui algoritma yang dirancang manusia, bukan melalui kesadaran berpikir sebagaimana manusia.

Karena itu, ketika AI dihadapkan pada persoalan baru yang belum memiliki pola, keterbatasannya mulai terlihat. Dalam kondisi tersebut, kemampuan berpikir matematis menjadi penting untuk membangun model dan solusi baru.

“Kalau ada problem baru, AI tidak bisa mengadakan informasi yang benar-benar baru secara sempurna. Mungkin AI memberi jawaban, tetapi belum tentu sempurna. Di situlah proses berpikir matematika diperlukan untuk mengembangkan model baru,” katanya.

Menurut Prof Agus, matematika tidak sekadar berkaitan dengan angka, melainkan menjadi cara berpikir yang melatih manusia menyusun logika secara runtut, membangun argumentasi, memahami hubungan sebab-akibat, hingga menyelesaikan persoalan secara sistematis.

“Karena itu, mahasiswa matematika itu diasah untuk mempelajari pola, berpikir kritis, terstruktur dan sistematis dan belajar ketelitian. Sehingga ketika mereka lulus bisa masuk dan bekerja di berbagai lini,” ungkapnya.

Ia menegaskan, perkembangan AI justru membuat kemampuan berpikir matematis semakin dibutuhkan di masa depan. Sebab, di balik seluruh sistem kecerdasan buatan, tetap ada manusia yang merancang logika dan menentukan arah pengembangannya.

“Matematika tidak akan tergantikan oleh AI. Bahkan matematika bisa memajukan AI,” tegasnya.